Diskusi publik ArtSubs 2026 membahas ekosistem seni rupa Surabaya di Unesa
Diskusi publik ArtSubs 2026 di FBS Unesa membahas pentingnya penguatan ekosistem seni rupa di Surabaya agar kota ini tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan pameran seni.

inilahmojokerto.com – Surabaya dinilai memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan pembangunan ekosistem seni yang mampu mempertemukan seniman, gagasan, ruang budaya, dan masyarakat secara berkelanjutan.

Pandangan itu mengemuka dalam diskusi publik menjelang penyelenggaraan ArtSubs 2026 di Auditorium Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Surabaya (Unesa), Senin (14/9/2026).

Salah satu kurator ArtSubs 2026, Nirwan Dewanto, menilai Surabaya tidak seharusnya hanya menjadi lokasi pameran seni. Kota ini perlu memiliki peristiwa seni yang lahir dari ekosistemnya sendiri sehingga mampu memperkuat posisi Surabaya dalam percakapan seni rupa nasional.

Menurut Nirwan, keberadaan pameran seni semestinya tidak berhenti pada aktivitas melihat karya. Pameran juga dapat menjadi ruang bertemunya gagasan sekaligus sarana masyarakat memahami perubahan sosial dan kehidupan di sekitarnya.

“Pameran seni rupa hari ini tidak lagi cukup hanya menjadi tempat memajang karya. Ia harus mampu menjadi tontonan, ruang pengetahuan, sekaligus peristiwa yang membuat masyarakat melihat kehidupan dari sudut yang berbeda,” ujar Nirwan.

Ia merujuk pengalaman ArtSubs 2024 yang disebut berhasil menarik sekitar 35.000 pengunjung. Angka tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ketertarikan terhadap seni rupa apabila karya dan peristiwa seni disajikan secara terbuka serta memiliki keterkaitan dengan kehidupan publik.

Karena itu, ArtSubs 2026 diarahkan bukan semata-mata sebagai ruang apresiasi karya, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan antara seniman dan masyarakat.

Seni, dalam konteks tersebut, dipandang memiliki fungsi yang lebih luas. Selain menawarkan pengalaman estetis, seni dapat menjadi medium untuk membaca persoalan zaman, membuka perspektif baru, sekaligus memperluas pengetahuan publik.

Nirwan yang dikenal sebagai sastrawan, budayawan dan kritikus kebudayaan juga menyoroti pentingnya posisi kebudayaan dalam pembangunan kota dan bangsa.

Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa modern tidak hanya dapat diukur melalui ekonomi, teknologi maupun pembangunan infrastruktur. Kemampuan membangun kebudayaan yang kuat dan menyediakan akses kebudayaan secara inklusif juga menjadi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.

Interaksi masyarakat dengan karya seni dan kebudayaan dinilai dapat memperkaya cara berpikir, meningkatkan kepekaan, sekaligus membuka ruang lahirnya gagasan-gagasan baru.

Dalam konteks itu, pameran seni rupa dapat menjalankan fungsi pendidikan publik (public education) dan pendidikan kewargaan (civic education).

Masyarakat tidak hanya datang untuk melihat karya, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengamati, mengalami, mempertanyakan, dan memahami berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sosialnya.

“Culture” atau kebudayaan, menurut Nirwan, dapat dipandang sebagai semacam lumbung kreativitas. Semakin luas kesempatan seseorang berinteraksi dengan karya dan pengalaman kebudayaan yang berkualitas, semakin terbuka pula kemungkinan munculnya gagasan baru.

Gagasan mengenai penguatan ekosistem seni tersebut menjadi salah satu konteks penyelenggaraan ArtSubs 2026 yang akan berlangsung di Balai Pemuda Surabaya pada 19 September hingga 8 November 2026.

ArtSubs 2026 merupakan perhelatan yang memadukan konsep biennale dan art fair. Tahun ini, kegiatan tersebut melibatkan 113 seniman, termasuk tujuh karya kolaborasi kelompok.

ArtSubs 2026 dikuratori oleh Nirwan Dewanto bersama Asmujo Irianto dengan mengangkat tema “Border (Batas), Ambang (Threshold), dan Beyond (Seberang)”.

Diskusi di Unesa tersebut turut menghadirkan Hendra Himawan dari KBUSR yang merupakan salah satu peserta ArtSubs serta Guru Besar Seni Rupa Unesa, Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi.

Kegiatan dibuka Wakil Dekan I FBS Unesa, Prof. Dr. Anas Ahmadi, M.Pd., sementara Program Manager ArtSubs 2026, Semi Ikra Anggara, memberikan sambutan sebelum diskusi berlangsung.

Bagi Surabaya, penyelenggaraan ArtSubs 2026 bukan sekadar agenda pameran. Perhelatan ini sekaligus menjadi momentum untuk menguji sejauh mana seni dapat mengambil peran di ruang publik dan bagaimana sebuah kota membangun ekosistem kebudayaan yang tidak hanya hidup ketika pameran berlangsung.

Dengan demikian, tantangan Surabaya bukan sekadar menghadirkan karya seni, tetapi membangun ruang budaya yang membuat seniman, masyarakat dan gagasan dapat terus bertemu.

12

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini