Wicara Seniman ARTSUBS 2026 membahas pertemuan seni rupa kontemporer dengan tradisi gerabah, termasuk tantangan menjaga keberlanjutan keterampilan perajin dan warisan budaya, di Balai Pemuda, Surabaya, Minggu (25/10/2026).

inilahmojokerto.com – Gerabah dapat tampil sebagai karya seni kontemporer, tetapi perhatian di ruang pamer tidak otomatis menyelamatkan tradisi yang melahirkannya. Ketika pameran berakhir, para perajin tetap membutuhkan pekerjaan, pasar, dan generasi baru yang bersedia meneruskan keterampilan mereka.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok Wicara Seniman bertajuk “Desa Gerabah: Antara Tradisi, Modernitas, dan Seni Rupa Kontemporer” di Balai Pemuda, Surabaya, Minggu (25/10/2026). Diskusi dalam rangkaian ARTSUBS 2026 itu menghadirkan Iftikhar Ahmad Radjwie dan Arik S. Wartono, dengan kurator Asmudjo J. Irianto sebagai moderator.

Pengalaman Sitiwinangun di Cirebon dan Gosari di Gresik memperlihatkan dua situasi berbeda. Di Sitiwinangun, sebagian perajin masih bertahan, tetapi ragam produk dan keterampilan tertentu semakin menyusut. Di Gosari, jejak arkeologis produksi gerabah masih ditemukan, sementara tradisi pembuatannya telah terputus.

Keduanya memperlihatkan bahwa persoalan gerabah tidak berhenti pada bentuk, teknik, atau nilai estetik. Ada hubungan yang lebih luas antara karya, pengetahuan material, kehidupan ekonomi, dan keberlanjutan masyarakat.

Dalam konteks ini, seni kontemporer menawarkan cara pandang baru terhadap gerabah. Benda yang sebelumnya dinilai berdasarkan fungsi rumah tangga atau bentuk tradisionalnya dapat dikembangkan menjadi karya artistik, dibaca sebagai artefak budaya, atau digunakan untuk membicarakan hubungan manusia dengan sejarah dan lingkungan.

Iftikhar menunjukkan kemungkinan tersebut melalui kolaborasinya dengan perajin Sitiwinangun. Produk gerabah dapat dikembangkan melalui eksplorasi bentuk dan penyelesaian akhir sehingga menjangkau kebutuhan pasar yang berbeda. Kolaborasi ini sekaligus membuka peluang bagi perajin untuk memperoleh penghasilan dari keterampilan yang mereka kuasai.

Sementara itu, Arik melihat jejak arkeologis Gosari sebagai sumber pengetahuan sekaligus peluang untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran dan residensi seniman. Situs sejarah tidak hanya dapat menjadi objek penelitian, tetapi juga ruang pertemuan antara seni, pendidikan, dan masyarakat.

Namun, kemungkinan artistik tersebut perlu ditempatkan secara kritis. Mengambil bentuk, teknik, atau inspirasi dari tradisi tidak dengan sendirinya menjamin bahwa masyarakat pemilik pengetahuan memperoleh manfaat. Kolaborasi perlu memperhatikan peran perajin, keberlanjutan penghasilan, dan kesempatan mewariskan keterampilan.

Dalam perspektif Asmudjo, seni rupa kontemporer dapat mengambil peran advokasi: memperkenalkan persoalan, membangun perhatian publik, dan mempertemukan pihak-pihak yang berpotensi bekerja sama. Akan tetapi, seni tidak dapat sendirian menyelesaikan persoalan ekonomi dan keberlanjutan produksi.

Desa gerabah membutuhkan keterlibatan pemerintah, akademisi, seniman, perajin, pelaku industri, serta pembeli. Pengembangan pasar juga perlu dilakukan dengan menemukan fungsi dan nilai produk yang relevan dengan kehidupan sekarang, bukan hanya menjualnya sebagai benda tradisional.

Di sinilah peran ARTSUBS dapat menjadi penting. Pameran dan diskusi menyediakan ruang untuk mempertemukan gagasan, memperluas jaringan, dan membuka kemungkinan kolaborasi. Namun, tindak lanjutnya harus berlangsung di luar ruang pamer melalui program yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat setempat.

Ukuran keberhasilan seni kontemporer dalam konteks ini bukan semata-mata seberapa menarik gerabah tampil sebagai karya. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah kolaborasi tersebut membantu perajin mempertahankan pekerjaannya, membuka peluang regenerasi, dan memastikan keterampilan tidak berhenti pada satu generasi.

Sebab, ketika tradisi gerabah kehilangan para pembuatnya, yang hilang bukan hanya produk. Pengetahuan tentang material, teknik, dan pengalaman yang membentuk kebudayaan juga ikut terputus.

Seni kontemporer dapat membuka pintu untuk melihat kembali nilai gerabah. Namun, menjaga agar pintu itu tetap terbuka membutuhkan kerja bersama yang melampaui pameran: memastikan tradisi tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap memiliki tempat dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini