Cabai.

IM.com – Melonjaknya harga cabai rawit membawa berkah bagi warga Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Mayoritas penduduk sebagai petani cabai yang mendapat keuntungan berlimpah langsung memborong mobil hingga membangun rumah.

Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong memang dikenal sebagai salah satu sentra cabai di Jawa Timur. Tak ayal, harga komoditas bahan masakan itu naik hingga Rp 120 ribu per kilogram dalam dua bulan terakhir membuat keuntungan petani di desa tersebut meningkat drastis.

“Satu minggu Rp 15 (juta), total Rp 350 (juta) lebih ya ini kadang Rp 30 (juta). Kalau dari awal nggak kehitung (lupa), ini untuk setengah hektare (ha) lahan,” ungkap Umiyati, salah satu warga yang juga petani cabai Desa Pucuk.

Petani cabai lain, Listyanto menambahkan, sejak harga cabai naik, penghasilannya meningkat tajam hingga ratusan juta rupiah. Warga yang mengelola lahan seluas 1 hektar itu mengaku langsung membelanjakan uang hasil penjualan cabai dengan membeli mobil untuk anaknya.

“Harganya (cabai) nggak sama, ada harga yang Rp 90.000, Rp 80.000, Rp 70.000, lebih baik, perolehan banyak sekarang,” ujarnya.

Pemerintah Desa Pucuk menyambut antusias saat warganya mendapat rezeki dari hasil pertanian sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. Kepala Desa Pucuk, Nanang Sudarmawan mengatakan, selain membeli motor dan mobil, ada juga yang membangun rumah dari hasil panen cabai rawit.

“Kalau jumlah kendaraan yang dibeli itu setahu saya sampai saat ini ada puluhan sekitar 30-50 motor. Memang paling banyak motor Scoopy, ada juga motor PCX dan juga dua mobil,” ujar Nanang.

Dikatakan Nanang, para petani cabai ramai-ramai membeli kendaraan baru secara bertahap sejak awal Maret 2021. “Alhamdullilah tahun 2021 ini masyarakat Desa Pucuk panen cabai banyak jadi hampir setiap hari beli sepeda motor,” ucap Nanang.

Nanang menyebutkan, sebagain besar petani cabai yang memborong motor berasal dari Dusun Pucuk yang wilayahnya lebih luas. Ia mengatakan, mayoritas penduduk dusun itu adalah berprofesi sebagai petani cabai.

“Paling banyak ya di Dusun Pucuk itu petani cabai yang beli kendaraan, ada yang merenovasi atau membangun rumahnya dari hasil panen cabai,” jelasnya.

Desa Pucuk terdiri dari lima dusun yaitu Dusun Wotgaru, Dusun Pucuk paling besar, Dusun Brejel Lor, Dusun Brejel Kidul, dan Dusun Kwarigan. Dari penduduk Desa Pucuk yang berjumlah 1.100 KK (Kepala Keluarga), sekitar 95 persen bekerja sebagai petani yang rata-rata mempunyai lahan cabai.

Nanang menyebut harga cabai dalam masa panen di Dawarblandong tahun 2021 ini memang relatif bagus dan bertahan lama hampir 1,5 bulan. Harga cabai rawit di tingkat petani dari Rp 50.000 saat awal panen dan pada Februari terus merangkak naik hingga puncaknya mencapai Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per kilogram.

Apalagi, saat itu di luar daerah minim ketersediaan cabai sehingga petani di Dawarblandong beruntung mempunyai banyak pasokan. “Sekali panen memperoleh 2 sampai 3 kwintal, itu setiap seminggu sekali kalau dikalikan sekitar Rp 24 juta dan bisa sampai 10-12 kali panen,” bebernya.

Pantauan di Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (siskaperbapo) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, harga cabai rawit dalam sebulan ini memang tinggi. Misalnya pada Rabu (10/3/2021), harga rata-rata cabai rawit di Jatim mencapai Rp 104.569 per kg.

Kemudian pada Kamis (11/3/2021) naik menjadi Rp 105.583 per kg. Masih mengutip data dari siskaperbapo, harga rata-rata cabai rawit hari sebesar Rp 79.580 per kg. Di mana harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Lumajang Rp 105.000 per kg dan harga rata-rata terendah di Kota Blitar Rp 55.000 per kg. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here