Pj Wali Kota Mojokerto Moch Ali Kuncoro dalam sambutannya menyampaikan penanganan stunting di Kota Mojokerto untuk mempersiapkan generasi emas yang unggul pada tahun 2045 harus ada gerakan harmonis partnership dan multihelix

IM.com – Penanganan stunting di Kota Mojokerto untuk mempersiapkan generasi emas yang unggul pada tahun 2045 harus ada gerakan harmonis partnership dan multihelix. Tidak hanya pemerintah, tapi ada TNI-Polri, pengusaha, akademisi dan media.

Pj Wali Kota Mojokerto Moch Ali Kuncoro minta kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk melakukan secara massif penanganan stunting. Bukan sekadar seremonia saja. “Kita sedang mempersiapkan generasi Kota Mojokerto sebagai generasi yang unggul berkualitas, kompetitif, punya daya saing dan berahlak di era generasi emas tahun 2045,” ujar Ali Kuncoro dalam sambutan pembukaan Rembuk Stunting Kota Mojokerto 2024 di Rumah Rakyat, Senin (18/03-2024) pagi.

Pj Wali Kota Ali Kuncoro mengajak semua pihak terkait mengintervensi angka stunting bisa turun. Upaya sudah tidak ada lagi orang lahir dengan diagnose stunting di Kota Mojokerto. ““Kita lakukan upaya-upaya dengan program-program secara spesifik tapi juga program-program secara sensitive dan koordinatif. Program ini adalah sebuah program yang sifatnya Sapu Jagat,” jelasnya seraya menyebut anggaran penanganan stunting tahun 2024 Rp 98,2 miliar dari semua OPD.

Ali Kuncoro juga menyampaikan, target Pemerintah Jawa Timur dan Pemerintah RI untuk tahun 2024 angka stunting dipatok 14 persen. Saat ini jumlah penduduk Indonesia sekitar 178 stunting jumlah penduduk angka balita diangka 30,2 juta. Jika pemerintah menargetkan 14 persen maka hanya ada dan boleh yaitu 4 juta bayi atau balita yang  diagnosa stunting.

Rembuk Stunting Kota Mojokerto di Rumah Rakyat dipimpin Kepala Bappedalitbang Agung Moeljono menghadirkan narasumber Kepala BKKBN Provinsi Jatim dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto

Sementara Kota Mojokerto angka stunting masih diangka 2,04 persen. Kalau dipopulasikan masih ada 122 yang didiagnosa sebagai balita terkena stunting. Ini dari total balita 6145. Pada Februari 2024 sudah ada penurunan cukup signifikan yakni turun 5 sehingga data terakhir terkoreksi menjadi 117. Secara prosentase masih diangka 2 persen.

Apalagi penanganan stunting Kota Mojokerto tahun 2023 mendapat predikat sebagai Kota Terinovatif dengan 2 program inovatif yakni Canting Gulo Mojo dan Gempah Genting. Dua inovasi ini diapresiasi Kementerian Dalam Negeri sehingga Kota Mojokerto mendapat predikat sebagai Kota Terinovatif se Indonesia.

Prestasi gemilang yang telah diraih Pemkot Mojokerto dipentas nasional, kata Ali Kuncoro kiranya menjadi semangat luar biasa menjadikan Kota Mojokerto Zero No Stunting. “Generasi mana yang akan kita potret ? yakni generasi Alpha adalah generasi yang lahir tahun 2011 ke atas. Meski anggaran penangangan stunting tidak besar tapi cukup bisa untuk mengintervensi angka stunting,” terang Ali Kuncoro.

Sementara Ketua DPRD Kota Mojokerto, Sunarto yang hadir dalam forum tersebut menyampaikan masukan kepada Pemerintah Kota untuk penangangan stunting. Komunitas generasi muda agar dilibatkan. “Mereka akan memberi wawasan dengan gaya dan bahasanya kepada generasi muda yang sudah menikah. Misal pemahaman nikah usia dini, penanganan perkawinan hingga kapan waktu yang ideal untuk punya anak,” terang Ketua DPRD Kota Mojokerto dari Fraksi PDIP.

Hadir dalam Rembuk Stunting Kota Mojokerto, selain Pj Wali Kota Mojokerto Moch Ali Kuncoro, yakni Sekretaris Daerah dan jajaran Forkopimda serta Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur Dr Maria Ernawati. (adv/uyo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini