
inilahmojokerto.com – Melalui tema “Batu-batu Bersuara”, kita diajak mendengarkan suara-suara yang kerap terabaikan: suara tradisi, suara desa, dan suara kearifan lokal yang selama ini mungkin tenggelam oleh riuh modernitas. Sementara “Jajah Deso Milangkori” mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar, sebab dari sanalah identitas tumbuh, seperti pohon yang tak mungkin tegak tanpa akar yang menancap dalam tanah.
Dekan FKIP Universitas Islam Majapahit (UNIM), Dr. Wawan Hermawan MPd, menyampaikan hal itu dalam sambutannya mengawali pementasan Ludruk Garingan alias Besutan oleh Meimura di kampus UNIM Mojokerto, Kamis pagi (7/5). Dalam lawatan ke-5 dari 10 kota yang akan dijelajahi ini Meimura memang membawakan tema tentang batu sebagaimana persoalan lokal yang mengemuka di Mojokerto.
Dalam pementasan yang berlangsung di gedung Nuswantara kampus UNIM ini, dua pemain lokal juga ikut serta dalam ludruk tanpa iringan gamelan ini, yaitu: Taufiq Hidayat (mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UNIM) yang berperan sebagai Man Jamino, dan Kukun Triyoga dari Komunitas Persada sebagai Sumo Gambar.

Man Jamino yang berperan menjadi penambang pasir dan batu, diingatkan agar tidak mengeksploitasi lingkungan. Bahwasanya batu-batu di sungai itu kalau terus menerus digali tanpa mempertimbangkan keselamatan akan menimbulkan bencana. Namun peringatan ini malah menimbulkan pedebatan sengit sehingga akhirnya tokoh Besut datang menengahi.
Ternyata hal ini masih tidak menyelesaikan masalah, maka seperti biasanya, ludruk Besutan ini lantas melibatkan penonton ikut serta naik panggung. Kali ini yang mendapat sampur adalah Wawan Hermawan, Dekan FKIP UNIM Mojokerto, yang mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan dan meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan hukum.
Sebagai komitmen untuk menjaga lingkungan, maka para penonton yang duduk lesehan di karpet, oleh Meimura lantas diajak berdiri, dan bersama-sama memungkasi pentas dengan menyanyikan lagu “Bagimu Negeri.” Sebuah ending yang tak biasa dalam pementasan seni pertunjukan.
Sebelum pentas, acara diawali dengan sajian monolog dari UKM Teater Damar UNIM yang dibawakan oleh Nazmatus Zahira, mahasiswi Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga semester 4, membawakan karya berjudul “Balada Sumar” dari Temtrem Lestari. Ikut hadir dalam acara ini adalah Kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIM, Dr. Engkin Suwandana MPd, serta sejumlah dosen dan kalangan seniman.
Program “Jajah Deso Milangkori” yang dijalankan Meimura ini merupakan pelaksanaan Dana Indonesiana kategori Pemberdayaan Ruang Publik yang diterima oleh Meijono, nama aslinya. Pesan yang disampaikan oleh Meimura adalah, bahwasanya ludruk merupakan kesenian tradisi yang musti diselamatkan, ditumbuhkan, dikembangkan, apapun hambatannya. Ludruk bisa pentas tanpa grup besar, tanpa gedung dan panggung, tanpa iringan gamelan, bahkan bisa diselenggarakan di mana saja secara interaktif bersama masyarakat.
Dalam segala keterbatasan itulah maka kreativitas tetap bisa dilakukan untuk menyajikan pertunjukan yang menarik. Meimura mencontohkan, ketika dia ngidung di panggung, biasanya tanpa iringan, namun kali ini diiringi oleh gesekan biola oleh Herry Biola. Sebuah tawaran kreatif yang menarik.
Ki Bagong Sinukarto, salah seorang narasumber dalam diskusi yang diselenggarakan usai pementasan, ludruk bukan sekadar hiburan dan tontonan belaka. Dalam ludruk terkandung fakta-fakta sejarah yang disamarkan. Tokoh Sarip dan Sakerah misalnya, itu bukan tokoh fiktif, melainkan pahlawan rakyat yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Pada masanya, menurut ketua Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur ini, ludruk memang menjadi sarana perlawanan melalui budaya.
Sementara Akhmad Fatoni, S.S., M. Hum, sebagai narasumber juga, menyebutkan bahwa Besutan Cak Mei ini seperti memberi kita ruang baru. Ruang yang oleh masyarakat kita diambil serampangan sebagai nama cilok, nama warung makan, nama perkumpulan, dan asesoris kekinian yang membersamai anakanak muda, supir truk, atau bahkan dijajakan di tempat-tempat wisata.
Dalam diskusi yang dipandu moderator Henri Nurcahyo, dosen sastra UNIM ini menyampaikan, nama-nama tersebut akan dikutuk jika membuat perjuangan itu mandeg: kabotan jeneng. Kadang juga dijadikan ejekan-ejekan, namun kita kerap kali melewatkan imajinasi dan melemparkan pertanyaan: kenapa memakai nama Majapahit untuk Cilok? Kenapa menggunakan nama Majapahit untuk komunitas? Atau bahkan menanyakan kenapa nama kampus ini Universitas Islam Majapahit?

Perayaan Kebudayaan
Pentas kali ini memang hampir semuanya dihadiri oleh mahasiswa. Hal ini memberikan keragaman dari pentas-pentas sebelumnya. Ketika pentas pertama di Surabaya berlangsung di Balai RW, banyak dihadiri oleh warga kampung. Pentas kedua di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) ditonton kalangan seniman. Ketika pentas di Jombang, yang hadir dari berbagai kalangan, mulai dari seniman, mahasiswa, para aktivis, dan juga sejumlah pejabat. Sedangkan pentas di Nganjuk banyak melibatkan anak-anak karena dilakukan di sebuah sanggar, bernama Rumah Ilalang, yang memang membina anak-anak dalam kesenian.
Karena itu, mengutip apa yang disampaikan Wawan Hermawan, kegiatan ini bukan sekadar forum akademik, melainkan sebuah perayaan kebudayaan dan ruang penyadaran budaya. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara: “Kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karena kebudayaan adalah buah budi pendidikan.” Kutipan ini mengingatkan kita bahwa proses pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia melalui budaya.
Dalam kesempatan ini, tambahnya, kita akan menyaksikan ludruk sebagai seni pertunjukan rakyat yang memiliki kekuatan luar biasa. Ia bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana kritik sosial, pendidikan publik, dan refleksi kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, kita dapat mengingat pandangan Clifford Geertz yang menyebut kebudayaan sebagai pola makna yang diwariskan secara historis dan diwujudkan melalui simbol-simbol. Maka, ludruk bukan sekadar tontonan, melainkan simbol hidup yang terus bergerak, dimaknai ulang, dan dilestarikan lintas generasi.
Dalam konteks generasi muda, Wawan mengingatkan satu pesan yang kerap dikaitkan dengan Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya.” Ini bukan sekadar slogan yang enak dipasang di spanduk lalu dilupakan setelah acara selesai—spanduk boleh dilipat, tetapi kesadaran budaya jangan ikut terlipat. Ini adalah panggilan moral, khususnya bagi mahasiswa, agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri di tengah derasnya arus globalisasi.
Lebih jauh lagi, mengutip Koentjaraningrat, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat. Artinya, budaya bukan hanya warisan masa lalu yang dipajang seperti barang antik, melainkan energi hidup yang harus terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan. Karena sesungguhnya, ketika budaya hidup, maka peradaban pun bernapas. (uyo)









































