
inilahmojokerto.com – Semangat pelestarian budaya dan regenerasi kepemimpinan mengemuka dalam balutan pagelaran wayang kulit di Pendopo Trowulan, Mojokerto, Selasa (5/5/2026).
Dalam suasana khidmat sekaligus meriah, Padepokan Kosgoro 57 menganugerahkan gelar kehormatan “Ki” kepada tujuh tokoh nasional dan daerah yang dinilai berjasa dalam bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan.
Pagelaran wayang dengan lakon Parikesit Jumeneng Ratu menjadi panggung simbolik penganugerahan tersebut.
Lakon ini sarat pesan tentang suksesi kepemimpinan yang bijaksana dan pengabdian kepada masyarakat—nilai yang dianggap selaras dengan kontribusi para penerima gelar.
Tujuh tokoh yang menerima gelar “Ki” yakni Lutfil Hakim (Ketua PWI Jawa Timur), Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat (Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia), Fanshurullah Asa (Ketua KPPU RI)
Ada nama Mukhtar Tompo (tokoh masyarakat Sulawesi Selatan), Izhari Mawardi (Wakil Bendahara Umum PII), Adik Dwi Putranto (Ketua Kadin Jawa Timur) serta Muhammad Nabil (Ketua KONI Jawa Timur).
Gelar tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka yang melampaui sekat profesi—menyentuh aspek sosial, pendidikan, hingga pelestarian nilai-nilai budaya.
Prosesi penganugerahan berlangsung khidmat. Sertifikat diserahkan oleh Muchdi Purwoprandjono bersama M. Ridwan Hisjam, sementara selendang kehormatan disematkan oleh La Nyalla Mattalitti.
Momen simbolik lainnya ditandai dengan penyerahan tokoh wayang Parikesit dari Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat kepada M. Ridwan Hisjam, sebagai estafet nilai kepemimpinan dan budaya lintas generasi.
Dalam sambutannya, M. Ridwan Hisjam menegaskan bahwa gelar “Ki” bukan sekadar simbol penghormatan, melainkan amanah budaya yang harus dijaga.
“Ini adalah tanggung jawab moral untuk terus merawat dan mengembangkan nilai-nilai budaya serta pendidikan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Arsjad Rasjid. Ia menyebut penghargaan tersebut sebagai pengingat untuk terus memberi kontribusi nyata.
“Ini bukan hanya kehormatan pribadi, tetapi juga dorongan bagi kami semua untuk terus berbuat bagi kemajuan pendidikan, budaya, dan sosial,” katanya.
Pagelaran wayang yang dipimpin dalang Ki Senoaji semakin menghidupkan suasana. Alur cerita disajikan dengan penghayatan mendalam, mengikat perhatian ratusan warga yang memadati lokasi sejak awal hingga akhir acara.
Hadir pula sejumlah tokoh budaya, di antaranya Semar Romo Bayu Suryoadiwinata dari Subang serta perwakilan berbagai padepokan.
Antusiasme masyarakat Trowulan terlihat jelas. Mereka berbondong-bondong datang, menjadikan acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan pesta budaya yang memperkuat identitas dan kebersamaan.
Pesan Moral Parikesit
Lakon Parikesit Jumeneng Ratu yang diangkat dalam pagelaran ini mengandung pesan mendalam tentang kepemimpinan.
Parikesit, cucu Arjuna dan putra Abimanyu, menjadi simbol pemimpin baru yang lahir dari masa konflik dan membawa harapan akan kedamaian.
Kisahnya bermula dari kelahiran yang penuh keajaiban — diselamatkan sejak dalam kandungan oleh Krisna — hingga akhirnya dinobatkan sebagai Raja Hastinapura menggantikan para Pandawa.
Dalam kepemimpinannya, Parikesit dikenal adil, bijaksana, dan mampu membawa kemakmuran bagi rakyatnya.
Meski dalam versi lain kisahnya berakhir tragis akibat kutukan seorang resi, nilai utama yang diwariskan tetap kuat: kepemimpinan adalah amanah yang menuntut kebijaksanaan, kerendahan hati, dan tanggung jawab moral.
Melalui penganugerahan gelar “Ki” ini, nilai-nilai tersebut seolah dihidupkan kembali, menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, budaya tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang berakar dan bermakna. (kim)









































