inilahmojokerto.com – Bulan Mei menjadi momen penting bagi sejumlah daerah di Jawa Timur. Tak sekadar perayaan seremonial, hari jadi kabupaten dan kota seperti Mojokerto, Lamongan, hingga Surabaya menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar dari era kejayaan kerajaan Nusantara.
Peringatan hari jadi daerah bukan hanya agenda tahunan pemerintah, tetapi juga ruang refleksi kolektif masyarakat. Momentum ini menjadi cara merawat identitas lokal, mengevaluasi capaian pembangunan, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas elemen.
Di Jawa Timur, sejarah panjang peradaban besar seperti Kerajaan Majapahit, Singasari, hingga Kediri menjadi fondasi kuat dalam penetapan hari jadi sejumlah daerah.
Kabupaten Mojokerto, misalnya, memperingati hari jadinya setiap 9 Mei. Tanggal ini merujuk pada peristiwa tahun 1293 saat Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Mongol—sebuah tonggak berdirinya Kerajaan Majapahit yang pernah menguasai Nusantara.
Tak heran, Mojokerto hingga kini dikenal sebagai wilayah yang kaya akan situs sejarah peninggalan era Majapahit.

Selanjutnya, Kabupaten Lamongan merayakan hari jadinya setiap 26 Mei. Penetapan ini berkaitan dengan pengangkatan Tumenggung Surajaya sebagai Adipati pertama pada 1569 oleh Sunan Giri IV. Tokoh yang dikenal sebagai Mbah Lamong ini dikenang sebagai pemimpin bijak sekaligus penyebar Islam.
Nilai-nilai sejarah tersebut terus hidup melalui berbagai kegiatan budaya, salah satunya festival “Lamongan Tempoe Doeloe”.
Sementara itu, Kota Surabaya memperingati hari jadinya setiap 31 Mei. Tanggal ini merujuk pada peristiwa terusirnya pasukan Mongol dari Jawa pada 1293, yang mencerminkan semangat kepahlawanan.

Sejak 1975, tanggal tersebut resmi ditetapkan sebagai hari jadi Surabaya, menggantikan tanggal sebelumnya yang berakar dari masa kolonial.
Kini, peringatan hari jadi di berbagai daerah Jawa Timur tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga penggerak ekonomi. Festival budaya, pameran UMKM, hingga berbagai kegiatan masyarakat turut menghidupkan roda ekonomi lokal.
Lebih dari sekadar seremoni, perayaan ini menjadi pengingat bahwa sejarah, kebersamaan, dan pembangunan adalah fondasi penting bagi kemajuan daerah. (kim)











































