inilahmojokerto.com – Sebuah cangkul raksasa menjelma kapal yang membawa harapan rakyat kecil. Tafsir visual tentang Marhaen itu menjadi salah satu karya paling menarik dalam Pameran Bulan Bung Karno Surabaya 2026 yang menghubungkan sejarah, seni, dan masa depan peradaban Indonesia
Momentum Bulan Bung Karno 2026 kembali menjadi ruang dialog antara sejarah, kebangsaan, dan seni rupa. Sejumlah perupa Surabaya menghadirkan karya-karya reflektif dalam pameran bersama yang digelar di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Kompleks Balai Pemuda Surabaya, pada 12–19 Juni 2026.
Pameran tersebut menghadirkan karya dari Asri Nugroho, Andi Prayitno, Bagas Karunia Putra, Desemba S. Titaheluw, Erwin Budianto, Didik Hari Shin, Dodik Hartono, I Ketut Gede Susila, Sentot Usdek, dan Shodiq Indo. Melalui beragam pendekatan artistik, para seniman mencoba menerjemahkan kembali pemikiran Bung Karno dalam konteks sosial dan budaya masa kini.
Sejumlah karya menjadi perhatian pengunjung karena menawarkan pembacaan yang unik terhadap sejarah, identitas bangsa, hingga masa depan peradaban. Di antaranya adalah “Marhaen: Saat Cangkul Menjadi Sebuah Kapal” karya Andi Prayitno, “Lanange Jagad” karya Didik Hari Shin, dan “Peradaban” karya Bagas Karunia Putra.
Karya Andi Prayitno menghadirkan simbolisme kuat tentang semangat rakyat kecil. Dalam lukisan berjudul “Marhaen: Saat Cangkul Menjadi Sebuah Kapal”, sebuah cangkul raksasa digambarkan melintasi lanskap pegunungan dan menjadi kendaraan imajiner bagi figur-figur yang merepresentasikan kaum Marhaen.
Melalui perpaduan latar bernuansa monokrom dan ledakan warna-warni yang tersebar di berbagai bidang kanvas, Andi membangun ruang visual yang kaya metafora. Cangkul tidak lagi sekadar alat kerja, tetapi berubah menjadi simbol harapan, perjuangan, dan perjalanan menuju masa depan.
Dalam karya tersebut, konsep Marhaen yang selama ini identik dengan pemikiran Bung Karno diterjemahkan sebagai daya hidup masyarakat yang terus bergerak menghadapi perubahan zaman. Kekuatan lukisan ini tidak hanya terletak pada permainan warna dan bentuk, tetapi juga pada gagasan besar yang menghubungkan kerja, mimpi, dan cita-cita bangsa.
Sementara itu, Didik Hari Shin menawarkan sudut pandang berbeda melalui karya realisme ekspresif berjudul “Lanange Jagad”. Lukisan berukuran 140 x 200 sentimeter itu menampilkan sosok Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam suasana yang jauh dari gambaran formal kenegaraan.
Dalam karya tersebut, Soekarno digambarkan sedang menikmati momen santai, ditemani Fatmawati yang berdiri di belakangnya. Tidak terlihat atribut kekuasaan ataupun keramaian politik. Sebaliknya, Didik menghadirkan sisi manusiawi dua tokoh penting bangsa yang selama ini lebih sering dikenang dalam ruang-ruang sejarah resmi.
Penguasaan anatomi, pencahayaan, dan ekspresi tokoh menjadi kekuatan utama karya ini. Sorotan cahaya pada wajah Soekarno serta atmosfer yang dibangun melalui latar gelap menghadirkan nuansa reflektif dan emosional.
Melalui “Lanange Jagad”, publik diajak melihat sejarah dari perspektif yang lebih personal. Soekarno tampil bukan hanya sebagai pemimpin besar bangsa, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki ruang pribadi, kenangan, dan hubungan emosional dengan orang-orang terdekatnya.
Berbeda dengan dua karya sebelumnya yang berangkat dari sejarah, Bagas Karunia Putra membawa pengunjung menatap masa depan melalui karya mixed media berjudul “Peradaban”.
Karya berukuran 95 x 235 sentimeter tersebut dibuat dari material daur ulang yang disusun menyerupai mesin atau artefak teknologi. Berbagai komponen mekanis dipadukan dengan warna-warna cerah seperti magenta, biru, ungu, dan jingga sehingga menghadirkan kesan futuristik sekaligus kritis.
Melalui karya ini, Bagas mengangkat pertanyaan tentang hubungan manusia dengan teknologi yang semakin mendominasi kehidupan modern. Benda-benda yang sebelumnya kehilangan fungsi diubah menjadi medium refleksi mengenai arah perkembangan peradaban manusia.
Pesan yang muncul tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui bahasa visual yang terbuka terhadap berbagai tafsir. Pengunjung diajak merenungkan apakah teknologi akan menjadi alat pembebasan atau justru menciptakan ketergantungan baru bagi manusia.
Ketiga karya tersebut menunjukkan bagaimana seni rupa Surabaya terus berkembang sebagai medium refleksi sosial dan kebangsaan. Dari semangat Marhaen, sisi personal Soekarno dan Fatmawati, hingga kritik terhadap perkembangan teknologi, para seniman menghadirkan perspektif yang relevan dengan tantangan Indonesia masa kini.
Pameran Bulan Bung Karno 2026 pun tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga wadah untuk membaca kembali sejarah, memahami identitas bangsa, dan membayangkan masa depan peradaban melalui bahasa visual yang kaya makna.










































