Gelombang-gelombang besar menghantam gundukan pasir, tetapi terpaksa mundur dengan riak-riak kecil, hanya dengan sebuah bisikan.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Dapatkah kita pergi ke pantai? Lihatlah bagaimana luasnya lautan ini.

Ketika gelombang-gelombangnya yang besar menabrak gundukan pasir, lautan ini mempunyai pemikiran yang sombong, “Aku, aku, aku!” tetapi ia sendiri tidak dapat beranjak ke luar batas pantai ini. Gelombang itu terpaksa mundur dengan riak-riak kecil dan kembali lagi ke lautan hanya dengan sebuah bisikan.

Pantai itu dibangun oleh Tuhan, bukan oleh manusia. Dia membangunnya agar lautan tidak dapat naik dan menghancurkan kota yang terletak di atasnya. Itulah perlindungan-Nya.

Cucu-cucuku, seperti halnya lautan yang berkata, “Aku, aku, aku,” manusia juga berkata, “Aku akan melakukan ini. Aku akan melakukan itu. Aku, aku, dan aku dapat melakukan apa pun.” Mereka berkata, “Siapakah Tuhan ini? Tidak ada Tuhan di sini. Segala sesuatu tumbuh secara alami. Apa artinya Tuhan bagiku?” Inilah ucapan kebanyakan orang.

Manusia laksana gelombang. Setiap hari dia mengusir sifat-sifat Tuhan dengan uangnya, kesombongan, dan kebanggaan diri serta egoismenya.

Dia sibuk mengedepankan perkataan, “Aku, aku, aku,” tetapi ketika menabrak pantai kebenaran, dan kebenaran itu sendiri tetap kokoh serta menyergapnya. Kekuatan manusia berkurang dan dia harus mundur, seperti gelombang-gelombang yang memecah pantai.

Manusia tidak pernah dapat mengalahkan kebenaran, karena kebenaran itu adalah pantai alami kokoh yang telah dibangun Tuhan. Kebenaran memiliki kekuatan dari-Nya dan tidak pernah dapat dipecahkan oleh ego (keakuan).

Manusia tidak pernah dapat menghancurkan Tuhan, sifat-sifat baik atau kebenaran. Semuanya itu dilindungi. Manusia bisa saja menyerang kebaikan, tetapi tidak akan pernah berhasil. Manusia tidak akan pernah dapat merusak kebenaran; dia hanya akan menghancurkan dirinya sendiri.

Boleh saja dia membual, “Akulah yang berkuasa penuh. Aku akan menghancurkan kekuasaan Tuhan,” tetapi dia pasti akan kalah dalam perlawanan itu dan berakhir sebagai santapan anjing, rubah, dan cacing-cacing tanah. Egoisme dari “aku” manusia dan rasa kepemilikannya yang meneriakkan, “Milikku!” secara tak terelakkan akan menyiksa dan menghancurkan siapa pun yang memilikinya.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Jika kebenaran menyerang manusia, maka manusia akan binasa. Tetapi kebenaran tidaklah seperti manusia, kebenaran itu diam. Ia tidak berteriak, “Aku, Aku, Aku.” Ia adalah ketenangan yang misterius.

Pantai kebenaran di dalam dirimu ini ditanam oleh Tuhan. Dia membangun pantai kebenaran untuk melindungi kota hatimu, yang berada di atas pantai itu. Barangsiapa meyakini perlindungan ini, maka akan dikokohkan olehnya.

Jika keyakinanmu kuat, maka ketika gelombang-gelombang kebodohan, ilusi, kegelapan, dan kelambanan yang memecah pantai itu, kekuatannya akan surut dan mereka akan kembali. Sebenarnya, pantai kebenaran itu akan dikuatkan oleh pasir yang diendapkan oleh gelombang-gelombang itu.

Manusia harus memiliki keyakinan. Dia harus mempercayai kebenaran dan kekuasaan Tuhan. Maka dirinya tidak akan pernah terluka, betapapun banyaknya gelombang jahat datang menghantamnya di dunia ini. Gelombang-gelombang tersebut akan berlalu dengan sendirinya tanpa merusaknya. Gelombang-gelombang tersebut bisa saja menghantamnya dan menyebabkan penderitaan, tetapi pada akhirnya gelombang itu berlalu begitu saja.

Kasihku untukmu, cucu-cucuku. Engkau harus memikirkan hal ini. Kuatkan pantai kebenaran itu. Kuatkan kekayaan (khazanah) yang menjadi misteri dalam hatimu itu. Maka tiada sesuatu pun yang dapat menyerangmu, atau membahayakanmu, karena dirimu akan terlindungi olehnya. Kasihku padamu.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini