
inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, marilah kita berjalan ke sana di mana banyak domba dan kambing sedang merumput. Lihatlah betapa eloknya mereka! Apakah engkau lihat kambing putih yang bertanduk itu?
Lihat, bagaimana mereka berlari sedemikian rupa, meloncat ke atas dan ke bawah, saling menanduk satu sama lain. Mereka mengambil sejumput rumput di sana-sini, mulut mereka dipenuhi dengan rumput.
Tapi lihatlah, bagaimana domba-domba itu makan rumput dengan tenangnya dan dengan cara yang tertib, mereka makan sebagaimana mereka berjalan pelan-pelan. Dapatkah engkau melihat perbedaan antara kambing dengan domba?
Cucu-cucuku, sangat banyak manusia bertingkah laku seperti kambing-kambing pengembara. Mereka berputar-putar dan menggigit segala sesuatu di dunia, sambil berkata, “Ini bagus, dan itu juga bagus. Ini menakjubkan, itu kebenaran. Ini Tuhan, dan itu pun Tuhan.”
Seperti kambing-kambing yang tidak pernah dapat memuaskan perut mereka, orang-orang seperti ini tidak pernah memiliki kedamaian di hatinya. Karena mereka tidak memiliki kearifan, mereka selalu berpetualang, mengambil sedikit di sini dan sedikit di sana.
Mereka tidak tabah dalam mencari perilaku yang baik, sifat-sifat mulia, kerendahan hati, kejujuran, perhatian, takut berbuat salah, shalat, ibadah, kedamaian jiwa, dan kearifan yang dapat membangun sebuah penghubung antara jiwa dan Tuhan. Oleh karena itu, hati mereka tidak pernah diisi oleh sifat-sifat Tuhan, kekayaan-Nya, atau kasih-Nya.
Cucu-cucuku, lihatlah lagi domba yang sedang merumput dengan tenangnya. Apakah mereka menghabiskan waktunya dengan berlari-larian? Tidak, mereka berkonsentrasi pada pekerjaannya. Seperti domba-domba yang menemukan lapangan berumput di mana mereka dapat merumput, manusia yang mempunyai kepercayaan, kepastian, ketentuan, dan kearifan harus berjuang untuk menemukan hubungannya dengan Tuhan.
Orang macam itu tidak akan mengembara. Sekali dirinya menemukan tempat yang memiliki banyak kebajikan, cinta, sifat-sifat mulia, tindakan-tindakan yang baik, perilaku yang baik, dia akan tetap berada di sana dan belajar di sana. Di sana jiwanya akan mencari sifat-sifat indah Tuhan, kasih dan rahmat-Nya, dan akan memenuhi hatinya dengan cinta dan kearifan.
Dia akan memenuhi segala kebutuhannya dan menjalani hidup yang damai, tenang, siang dan malam hari. Kebebasan ini akan membebaskannya dari perkara-perkara duniawi, dan dia akan mampu mencapai keindahan murni yang berpijar dari dalam jiwa. Dia akan memperoleh kasih-Nya dan kesempurnaan paripurna. Dia akan damai dalam hidupnya, dalam kerajaan jiwa, kerajaan dunia, dan kerajaan-Nya.
Namun demikian, orang yang tidak berada dalam keadaan ini, akan selalu memikirkan hijaunya rerumputan di tempat-tempat lain. Pikirannya akan mengembara seperti seekor kambing, dan pikiran itu tidak akan pernah mengenal kedamaian, ketenangan, atau cinta.
Kasihku padamu, cucu-cucuku. Kendalikan pikiran yang berlarian ke sana-ke mari. Selanjutnya dengan keyakinan, kepastian, dan keteguhan hati, buatlah kearifan bersinar.
Jika engkau memenuhi hatimu dengan keindahan dan sifat-sifat mulia, maka engkau akan mendapatkan kemenangan dalam hidup dan juga kasih, kesempurnaan, serta keindahan-Nya. Pikirkanlah hal ini. Berusahalah keras untuk mendapatkan kebajikan, cinta, dan sifat-sifat-Nya! Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen







































