inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Apakah kau melihat kuncup kecil pertama di atas pohon itu? Betapa indahnya kuncup-kuncup itu! Sebentar lagi kuncup-kuncup itu akan berubah menjadi tunas-tunas daun.
Kemudian daun-daun kecil itu akan menjadi lebih hijau, kemudian pohon itu akan berbunga dan mengeluarkan buah. Kemudian daun-daun tersebut berubah menjadi kuning dan pada akhirnya akan menjadi coklat, seperti warna tanah. Inilah tanda bahwa daun-daun itu akan segera berguguran dan bercampur dengan tanah.
Kita seperti halnya kuncup-kuncup kecil itu, cucu-cucuku. Kita begitu cantik ketika pertama kali muncul dari rahim ibu kita. Segera, ibu-ibu kita memeluk kita dan kita berpegang dengan eratnya.
Pada usia itu kita juga berpegang erat kepada Allah. Kita tidak melihat perbedaan sedikit pun atau memisahkan antara suku dan agama. Karena kita belum memiliki dunia dalam diri kita, kita masih sangat indah. Kita ada dalam keadaan murni Allah.
Setiap orang suka menggendong kita. Setiap orang senang hatinya. Para ibu bukan satu-satunya orang yang merasakan hal ini. Setiap orang berpendapat bahwa bayi itu cantik. Sudahkah engkau memperhatikan hal ini? Bahkan suara dan bentuknya juga indah.
Segala sesuatu dari bayi yang baru dilahirkan begitu indah. Setiap orang memujinya dengan berkata, “Betapa cantiknya bayi ini! Betapa sehatnya bayi ini!” Dan bayi itu berbicara kepada semua orang yang memeluknya.
Ketika sesudah seorang bayi melihat bayi lainnya, mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa umum mereka, “Aiioooeee,” dan, “Ooooannneee.” Bayi saling menyukai bayi yang lain.
Cucu-cucuku, Allah seperti seorang bayi, yaitu seorang bayi cinta penuh kasih sayang. Allah paling indah dari semuanya. Setiap orang mencintai-Nya. Dia masuk dalam diri kita dan kapan saja Dia muncul dari dalam hati manusia dalam bentuk ucapan, maksud, pikiran, makna, atau cinta, Dia dipeluk oleh setiap hati. Allah sangatlah indah.
Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Jika kau bisa berada dalam keadaan seperti itu, kau juga akan indah. Kau akan memahami bahasa Allah dan Dia akan berbicara kepadamu seperti seorang bayi.
Allah akan tumbuh dalam dirimu sebagai iman, ketetapan hati, kebulatan tekad, sifat-sifat baik, tindakan, dan cinta. Ketika Dia muncul dari hatimu, keindahan, cinta, dan belas kasih-Nya akan terlihat melalui ucapan dan perbuatanmu.
Setiap orang akan memelukmu dan hati mereka akan mencair. Kebenaran adalah seperti ini. Siapa saja yang berfokus kepada Allah dan mengikuti jalan-Nya, akan memeluk firman-firman dan sifat-Nya yang muncul dari hatimu. Ibu dan ayahmu akan memelukmu. Hubungan persahabatan, hubungan darah dan para tetangga akan memelukmu sebagaimana mereka lakukan pada seorang bayi.
Siapa saja yang mencintai Allah, akan bahagia ketika mereka melihat cinta-Nya, kearifan dan kebenaran-Nya, tindakan dan sifat-Nya. Ketika mereka memelukmu, mereka akan memeluk-Nya. Salam sayangku padamu. Renungkanlah, cucu-cucuku!
Nanti, sekarang dan selamanya, Allah dipeluk oleh hati siapa saja yang membutuhkan keindahan-Nya. Jika cintamu dalam keadaan ini, setiap orang akan mempercayaimu. Jika tindakan dan sifatmu berada dalam keadaan ini, maka setiap orang akan menerima segala tindakan dan sifatmu. Inilah sifat aslimu, sifat-sifat bayi ketika dia pertama kali keluar dari rahim.
Jika engkau mencapai keadaan ini, engkau akan menjadi “anak-anak” Allah. Jika tidak, engkau akan menjadi anak-anak ilusi, setan, dan neraka.
Cucu-cucuku, pernahkah engkau memperhatikan bagaimana dahan-dahan yang masih muda dibebani daun-daun baru, melengkung ke bawah seperti dahan-dahan sebatang pohon yang menangis?
Dahan-dahan kecil itu begitu lunak dan lembut, tapi ketika tumbuh, dahan-dahan itu menjadi kurang lentur. Dengan cara yang sama, ketika anak-anak tumbuh dewasa, keindahan, kualitas, dan tindakan mereka berubah. Mereka masih hijau seperti daun-daun yang muncul dari dahan-dahan yang masih muda, dan warna hijau ini menyejukkan mata, tapi tidak lagi bisa mencairkan hati, tidak pula warna hijau ini mengarah pada belas kasih, kearifan, atau keadilan.
Anak-anak lebih dewasa menjadi seperti dahan-dahan yang lebih tua, lebih keras dan seperti kulit, tidak lagi bergantung pada ayah dan ibu mereka, atau siapa pun. Bahkan ucapan mereka tidak akan membengkok. Sebaliknya, ibu dan ayah mereka menolak untuk tunduk pada sifat-sifat baru yang keras pada anak-anak mereka. Jadilah perpisahan terjadi antara anak dan orangtua.
Ketika sebuah dahan menjadi kaku, maka daun-daunnya bisa ditiup oleh badai atau kencangnya angin. Apa saja yang tetap bergelantungan pada pohon itu pada akhirnya berubah, dari warna kuning menjadi warna coklat, hingga pada akhirnya, satu per satu, berguguran ke tanah. Segera, semuanya dilalap oleh api atau berubah menjadi debu dan bercampur dengan tanah.
Cucu-cucuku, jika sifat-sifat kita berubah seperti daun-daun itu, maka pada akhirnya kita juga akan jatuh dan meninggalkan dunia serta bercampur dengan tanah. Tapi jika kita menjaga keindahan dan sifat yang kita miliki seperti bayi, maka kita tidak akan jatuh. Allah akan memeluk kita dan kita berkelindan dengan-Nya tanpa pernah rusak.
Ketika Dia memeluk kita, maka sifat-sifat-Nya akan masuk ke dalam diri kita dan kita akan merasa tak terpisahkan. Berpikirlah tentang hal ini. Berpikirlah tentang Allah dan bagaimana Dia memeluk siapa saja yang menyayangi-Nya!
Keadaan Allah seperti keadaan seorang bayi, dan keadaan seorang bayi seperti keadaan Allah. Allah adalah cinta, dan wicara-Nya seperti wicara seorang bayi kecil tersayang. Jika kualitas dan kekuasaan penuh-Nya masuk ke dalam dirimu, maka engkau akan menjadi bayi juga.
Dan ketika engkau melihat Bayi itu, maka engkau akan tahu bahasa-Nya dan akan berbicara dengan-Nya serta memahami arti ucapan-Nya. Jika pembicaraan dan nafasmu seperti pembicaraan dan nafas-Nya, maka Tuhanmu dan setiap orang akan bermain bersamamu, dan engkau akan berhubungan dengan Allah.
Selalulah mengingat segala firman Tuhanmu, segala tindakan dan kesatuan Tuhanmu, belas kasih, keadilan, dan kesadaran Tuhanmu, pelukan dan cinta Tuhanmu. Senantiasalah menunjukkan 3.000 sifat-Nya yang indah dan sembilan puluh sembilan wilayat-Nya.
Jika tindakanmu penuh dengan sifat-sifat ini, maka engkau menjadi “anak” kesayangan Allah dan engkau menggambarkan-Nya. Engkau tidak akan mempunyai rasa permusuhan dalam dirimu. Ucapan, tindakan, dan kasih sayangmu akan dipeluk oleh semua hati. Engkau akan menjadi “anak” kesayangan Allah.
Tapi jika seseorang tidak sampai pada keadaan itu, [yakni] jika dia tidak memeluk sifat-sifat kasih seorang bayi, maka Allah tidak akan berfirman. Hanya jika seseorang memiliki sifat-sifat Allah, dia bisa memahami bahasa bayi tersayang itu, dan kemudian mereka bisa berbicara satu sama lain.
Cucu-cucuku, meskipun kita tidak bisa melihat Allah, namun Dia telah membentuk manusia dalam bayangan-Nya. Dengan demikian, kita bisa melihat Allah dalam hati seseorang yang bertindak dengan kualitas dan kebenaran-Nya. Berpikirlah tentang hal ini. Temukan keadaan ini, sadari dan kenalilah! Apakah engkau mengerti? Salam sayangku padamu.
Semoga Allah Yang Mahakuasa menolong kita. Dia adalah Penguasa keagungan Yang Tidak Bisa Diduga dan Dzat Yang adalah cinta yang tak tertandingi. Tiada akhir bagi keagungan-Nya dan cinta-Nya tanpa batas.
Semoga Allah Tuhan kita, berkenan melindungi kita tanpa pernah meninggalkan kita. Semoga Dia melimpahkan keagungan-Nya kepada kita. Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.1
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen








































