Tidak setiap batu yang berkilauan adalah sebutir mutiara. Engkau harus mencari yang cahayanya terus-menerus bersinar, siang dan malam, pada segala kesempatan, dalam semua kehidupan.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucuku. Kemarilah, keluarlah melihat indahnya malam ini! Meskipun gelap, jika engkau melihat di sekelilingmu, engkau dapat melihat banyak benda yang bercahaya dan bergemerlapan.

Lihat bagaimana lautan yang bercahaya di kegelapan! Ada begitu banyak kilauan yang menari pada permukaan air. Kilauan ini disebabkan oleh jenis-jenis plankton tertentu yang bersinar di kegelapan.

Sepanjang jalan di dekat sini juga ada berkas-berkas cahaya batu. Bahkan ada daun tertentu yang sedikit memantulkan cahaya. Engkau dapat melihat semua itu pada malam hari, tetapi apakah mereka itu benar-benar cahaya?

Tidak, cucu-cucuku, semua itu adalah cahaya dari makhluk ciptaan. Kilauan yang mereka punyai tidaklah nyata. Bahkan tetesan air yang jatuh pada jalan aspal akan berkilau, tetapi cahaya itu tidak nyata dan tak abadi. Dan janganlah berpikir bahwa setiap cahaya yang berkilau adalah mutiara.

Banyak gemerlap warna yang dapat dilihat pada bebatuan, pepohonan, cabang-cabang, tanam-tanaman itu adalah sekadar mimpi, hanya bagian dari penciptaan. Cahaya-cahaya itu bukanlah keajaiban; cahaya-cahaya itu hanya peristiwa alam.

Bila engkau menyinarkan cahaya ke gemerlapan benda itu, gemerlap tersebut akan hilang dan kemudian engkau hanya akan melihat benda-benda itu sendiri. Jika engkau mematikan cahaya itu kembali, kilauan tersebut akan tampak kembali.

Cucu-cucuku, lihatlah cahaya binatang-binatang kecil yang berkedip-kedip! Apakah cahayanya adalah suatu keajaiban? Tidak, ini hanya sesuatu yang diciptakan Tuhan. Ada juga jenis ikan yang mempunyai titik cahaya di keningnya yang berkilauan di air. Itu juga bukan keajaiban. Ini hanya sesuatu yang diciptakan Tuhan untuk membantu ikan-ikan itu mencari makan.

Engkau dapat menemukan begitu banyak cahaya seperti ini yang merupakan ciptaan Tuhan. Segala sesuatu yang berbentuk dibuat dari lima unsur dan mengandung kilauan lima unsur. Ada cahaya pada pepohonan dan bebatuan, tanah, udara, api, air, dan eter. Bentuk manusia juga dibuat dari lima unsur, dan dia punya kilauan-kilauan cahaya ini.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Berhati-hatilah, sekarang sangat gelap dan kita hanya dapat melihat jalan. Tetapi jika kita menyalakan senter di tengah jalan, pijar lukisan itu akan bercahaya. Tanpa cahaya kita, ia tidak bercahaya. Ini bukan keajaiban besar, ini hanya lukisan buatan manusia.

Manusia juga menemukan pijar jenis lain, yang dia sebut ibadah. Cahaya itu datang dari akal. Segera setelah cahaya kecil bersinar di otakmu, doa akan bersinar, tetapi apabila akalmu berhenti, cahaya itu pergi. Apakah ini adalah jenis kebajikan doa? Apakah ini adalah keajaiban? Tidak, ini hanya sesuatu yang ditemukan oleh otak.

Engkau dapat mengucapkan mantra-mantra atau doa-doa untuk bumi, perempuan, dan emas. Engkau dapat mengulang mantra untuk api, udara, air, bumi, dan eter. Engkau dapat mengucapkan mantra-mantra untuk matahari, bulan, dan bintang. Engkau dapat mengucapkan mantra-mantra untuk kelima unsur itu.

Tetapi energi ini hanyalah gemerlap-gemerlapan, mereka bukan kearifan atau keajaiban. Seperti jilatan api, mereka hanya bercahaya di kegelapan otak dan nafsu.

Orang mengatakan, “Aku berdoa, dan aku sudah melihat cahaya! Dengan mataku sendiri aku sudah melihat lautan bercahaya dengan sebuah gemerlapan besar. Aku dapat melihat cahaya di gunung yang jauh. Aku telah melihat cahaya yang terpancar dari daun. Aku pernah melihat kilauan keajaiban di atas jalan itu.”

Mereka mengira sudah melihat sesuatu yang besar. Tetapi tidak satu pun cahaya-cahaya itu yang merupakan hasil ketaatan [beragama] atau doa, mereka hanya gemerlap dari otak, cahaya lima unsur. Mereka bukan cahaya sebenarnya.

Cucuku, apa pun yang engkau alami engkau harus memahaminya dengan cahaya kearifan yang jernih. Engkau harus mengetahui perbedaan antara kilauan pada malam hari dan cahaya yang bersinar abadi, di siang maupun malam hari, di semua peristiwa, dalam segala kehidupan, dalam keadaan apa pun.

Cucuku, sebagaimana Tuhan memberikan kilauan cahaya pada kening ikan untuk mencari makan, Dia juga menempatkan cahaya, mata kearifan pada kening manusia sehingga dia bisa mencari makanan dan air untuk memenuhi kebutuhan jiwanya.

Cahaya ini adalah mata yang melihat kehidupan. Ini adalah cahaya yang nyata. Inilah kearifan sempurna, cahaya yang menghilangkan segala kegelapan. Inilah cahaya kebajikan yang kekal dan tak terbatas yang ada pada Tuhan.

BismillahirRahmanirRahim: Sang Pencipta alam, Pelindung, dan Pemberi rezeki. Penglihatan-Nya mengetahui kita semua. Dia melindungi kita siang dan malam. Mata kearifan, mata pengetahuan Ilahi, atau ilm, mata kilauan cahaya keagungan Allah, rahmat-Nya, tidak mengenal kegelapan.

Sinarnya alami dan abadi. Cahaya itu tidak memiliki gemerlapan, ia melebihi cahaya lima unsur. Inilah mata kuasa Tuhan, Qudrat-Nya. Dan ketika ia sampai ke manusia, ia adalah keajaiban yang sesungguhnya.

Apa yang bersinar terus-menerus dan tidak memiliki kegelapan sama sekali adalah kebajikan. Melihat hidupmu, jiwamu, hidup orang lain, melihat semua yang ada adalah kebajikan. Ini adalah keberuntungan dari doa dan ibadah yang sesungguhnya. Itulah mata kebajikan yang terbuka. Ia selalu melihat. Itulah keajaiban Tuhan, satu-satunya keajaiban sejati.

Engkau harus bertanya, “Apa yang ada tanpa kegelapan? Apa itu kebajikan? Apa itu kekuatan Tuhan?” Itu bukanlah sesuatu yang dilihat dalam mimpi, karena mimpi hanya datang pada kegelapan saat kita tidur, di siang atau malam hari.

Akal melihat gemerlapan saat mata kita terbuka, tetapi ketika akal kita lelah, gemerlap cahaya itu menghilang seperti sebuah mimpi. Tetapi kekuatan Tuhan bukanlah mimpi. Ia selalu ada. Ia selalu hidup. Ia selalu mengetahui.

Cucuku yang mulia, engkau harus menganalisa dengan kearifanmu dan memahami penjelasan-penjelasan alami tentang masing-masing lima unsur ini. Engkau harus mengetahui apa yang dapat dilakukan oleh lima unsur tersebut.

Engkau harus memahami semua sisi yang dapat diketahui dan tinggalkan mereka, dan keluarlah dari gemerlap itu. Kearifan sejati memandang sesuatu yang tidak memiliki siang dan malam. Apakah engkau mengerti?

Apakah keajaiban sejati itu? Bukan gemerlap-gemerlapan. Mereka bukan kebajikan, bukan cahaya, bukan pula Tuhan. Tuhan bukanlah sesuatu yang dapat dilihat seperti gemerlap-gemerlapan itu. Renungkanlah sedikit tentang ini. Kasihku padamu cucu-cucuku.

Engkau membutuhkan kearifan. Engkau membutuhkan tindakan dan sifat-sifat Tuhan. Engkau membutuhkan untuk melakukan kebaikan. Inilah kearifan itu. Kasihku padamu. Anbu.

 

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini