
inilahmojokerto.com – Pemerintah Kota Mojokerto terus mendorong lahirnya berbagai inovasi daerah untuk meningkatkan daya saing kota. Komitmen tersebut terlihat dalam kegiatan Penganugerahan Lomba Mojo Indah 2026 dan Evaluasi Indeks Inovasi Daerah (IID) 2025 yang digelar di Pendapa Sabha Kridatama Rumah Rakyat, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan itu tidak hanya menjadi ajang pemberian penghargaan bagi inovator terbaik, tetapi juga momentum evaluasi perkembangan inovasi daerah yang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengungkapkan, Kota Mojokerto sempat berada pada kategori kurang dalam penilaian indeks inovasi daerah pada 2021 dengan nilai 62. Saat itu, jumlah inovasi yang tercatat dalam aplikasi Innovative Government Award (IGA) milik Kementerian Dalam Negeri masih sangat terbatas, yakni 27 inovasi.
Menurut wali kota, kondisi tersebut menjadi titik awal Pemerintah Kota Mojokerto membangun budaya inovasi melalui program Mojo Indah yang mulai digagas pada 2022.
“Awalnya kita masih belajar memahami pentingnya inovasi daerah. Dari situ kemudian lahir Mojo Indah sebagai wadah untuk mendorong munculnya SDM kreatif dan inovatif di Kota Mojokerto,” ujarnya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan. Hingga tahun 2026, jumlah inovasi Kota Mojokerto yang terdaftar dalam aplikasi IGA Kemendagri meningkat menjadi 276 inovasi. Jumlah itu bertambah 31 inovasi dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 245 inovasi.
Meski demikian, wali kota menegaskan keberhasilan inovasi tidak diukur dari banyaknya program yang dibuat, melainkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Sebab, setiap inovasi yang didaftarkan harus melalui tahapan verifikasi dan minimal sudah berjalan selama dua tahun.
“Yang utama bukan jumlah inovasinya, tetapi dampaknya bagi masyarakat. Kalau hanya banyak tetapi tidak memberi manfaat, tentu tidak akan diakui sebagai daerah inovatif,” tegasnya.
Ia juga menilai kekuatan utama Kota Mojokerto terletak pada kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Karena itu, pemerintah terus berupaya membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan ruang tumbuh bagi kreativitas dan inovasi masyarakat.
“Kita memang tidak punya sumber daya alam yang besar. Tetapi kita punya SDM yang unggul dan potensial. Tinggal bagaimana pemerintah bersinergi dengan heksahelik agar inovasi terus berkembang,” katanya.
Menurutnya, inovasi menjadi kebutuhan penting agar daerah mampu bersaing di tengah perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat yang terus berubah.
“Kalau hanya bekerja secara biasa tanpa inovasi, kita tidak akan punya daya saing. Padahal visi Kota Mojokerto adalah menjadi kota yang berdaya saing,” tambahnya.
Selain evaluasi indeks inovasi daerah, kegiatan tersebut juga diisi penguatan materi inovasi oleh Yusharto Huntoyungo sekaligus penyerahan penghargaan kepada para pemenang Mojo Indah 2026.
Pada kategori perangkat daerah, juara pertama diraih Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mojokerto melalui inovasi SITI PINTER (Sinau TI Kota Mojokerto). Juara kedua diraih UPT SMP Negeri 3 Kota Mojokerto lewat inovasi SUMPAH 3 MPU (Sistem Pengumpulan Sampah SMPN 3 Mojokerto), sedangkan juara ketiga diraih Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah melalui inovasi SEMERAP (Sistem Pemetaan Geografis Pajak Daerah).
Sementara pada kategori masyarakat, juara pertama diraih Muhammad Setio Budi dan tim melalui inovasi MBG WATCH (Monitoring and Reporting System for Free Nutritious Meals). Juara kedua diraih Arya Satya Maheswara lewat inovasi SIDIK LANTAS (Sistem Deteksi Kecelakaan Lalu Lintas), sedangkan juara ketiga diraih Edgar Primavy Fermata melalui inovasi MOJO PANGAN, platform digital penyelamat makanan berlebih berbasis partisipasi masyarakat. (uyo)









































