inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cahaya mataku yang berkilau. Tuhan menciptakan manusia sebagai ciptaan-Nya yang sempurna. Anak-anakku, mungkin engkau merasa heran, “Mengapa makhluk tinggi ini melakukan begitu banyak kesalahan?”
Itu karena Tuhan jualah yang memberi kepada manusia kebebasan untuk berbuat baik atau jahat, untuk memberi kedamaian pada sesama atau merebut kedamaian itu.
Manusia sudah diberi kekuatan dan energi untuk melakukannya. Tidak ada ciptaan yang lebih baik dari manusia. Tetapi apa yang dilakukan manusia? Dia bertindak menurut dirinya sendiri. Ketika pemikiran-pemikirannya baik, maka dia melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ketika pemikiran-pemikirannya jahat, maka dia melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Setiap kali pemikirannya muncul, dia mengikutinya.
Pemikiran-pemikiran tersebut timbul dari sifat-sifat egoistik, ragu-ragu, dan cemburu yang dimilikinya, serta dari perasaan-perasaannya pemisahan dan perbedaan. Sifat-sifat tersebut membawa pada pengrusakan pikiran dan mengajak pada hal-hal yang buruk.
Seperti angin yang berhembus di padang pasir. Ketika pikiran-pikiran itu hadir, manusia melakukan apa saja yang diinginkan dan pada saat itulah dia mulai berbuat salah. Dirinya berbuat tanpa kesadaran bahwa tindakan itu adalah salah.
Mengapa manusia yang merupakan makhluk sempurna melakukan banyak kesalahan?
Manusia harus menyadari kesalahannya. Dia harus berpikir tentang setiap tindakan dan menganalisa apa yang akan dikerjakan. Apakah perbuatannya berakhir baik atau buruk sepenuhnya ada di tangannya. Jika manusia berperan dengan bijak, ketenangan, dan sifat-sifat baik, selanjutnya akan menghasilkan kebaikan.
Jika manusia mengerti apa yang benar dan yang salah, dan kemudian menyingkirkan semua kesalahan itu, maka tidak akan ada makhluk semulia manusia. Tiada makhluk lain yang dapat melakukan kebaikan seperti itu. Tetapi jika dia sekadar mengikuti kemauan pikirannya tanpa pemahaman, maka tidak akan ada sesuatu di dunia ini yang melakukan kejahatan seperti manusia.
Inilah alasannya mengapa pada waktu tertentu manusia melakukan kesalahan dan pada saat lain dia membawa perdamaian dan kebaikan bagi hidup manusia. Dia memiliki kearifan atau dia kurang bijak. Dia dalam keadaan bodoh, atau kearifannya jelas.
Permata hatiku yang berkilauan, penjelasan ini ada dalam diri kita. Tiada gunanya kita mencari hal yang sudah ada pada diri kita. Apa yang harus kita lakukan adalah membuang segala kejahatan dan membuat ruang agar kebaikan tumbuh dalam hati kita.
Tuhan, kebenaran dan kepalsuan, baik dan buruk, surga dan neraka, semua ada dalam diri kita. Ketika kita mulai mengerjakan hal yang baik, maka kita akan melihat kebaikan mendatangkan kebenaran, kebenaran mendatangkan kebajikan dan kebajikan ini mendatangkan cahaya Tuhan.
Inilah mengapa Allah dan para nabi serta orang-orang bijak mengatakan, “Lihat pada dirimu sendiri, maka engkau akan mengerti. Janganlah engkau mencari Tuhan, carilah kebajikan. Carilah orang yang memiliki kebajikan dan belajarlah dari mereka. Hanya dengan kebajikan engkau dapat mengerti apa yang baik dan yang buruk, serta menyingkirkan yang buruk dan melakukan yang baik. Jika engkau dapat melakukannya, engkau akan mengerti makna kebaikan. Engkau akan mengetahui ketika kebaikan itu ada padamu.”
Anak-anakku, janganlah membuang waktumu untuk mencari keajaiban! Apakah yang engkau pikir tentang keajaiban? Setiap sifat burukmu adalah keajaiban. Sifat-sifat itu memikatmu dan menjadikanmu sebagai budak, membuatmu begitu menderita. Akibat dari setiap pemikiran, ilusi, sifat, hubungan, dan setiap nafsu membuatmu sungguh terpesona.
Energi-energi yang bekerja pada dirimu inilah keajaiban. Daripada mengalah pada mereka, berusahalah untuk menguasai mereka dan melenyapkannya sebelum semuanya itu memperbudakmu. Lalu, dengan kebajikan analitis, kontrollah apa yang buruk di dalam dirimu dan biarkan apa yang baik untuk tumbuh. Sekali kebaikan batin tersingkap, engkau akan mengerti. Engkau akan mengenal Tuhan, kebenaran, kebaikan, dan gnanam, atau kearifan yang membangkitan kasih.
Oleh karena itu, anak-anakku, setiap dari kalian melihat sesuatu, maka berpikirlah dengan bijak. Jika engkau mengerti dan berbuat menurut apa yang baik, mencegah semua kesalahan, maka engkau dapat mencapai kedamaian dan ketenangan.
Engkau dapat berhasil dalam hidupmu. Renungkanlah tentang hal ini. Kasihku padamu, anak-anakku. Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen










































