
inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Sekarang pukul enam pagi, waktu yang baik untuk bepergian. Jadi kemarilah, ayo kita pergi ke kebun raya!
Lihatlah begitu banyak orang di sini. Apakah engkau melihat anak laki-laki yang berdiri sendirian itu, yang terlihat begitu sedih? Dia tampak sedang mengkhawatirkan sesuatu. Mari kita tanya apa masalahnya.
“Anakku, anak-anak lain sedang bermain bersama orangtua mereka dengan gembira, tetapi engkau berdiri sendirian di sini, tampak sedih. Apa masalahnya? Apa yang engkau khawatirkan?”
“Orangtuaku dan semua kakakku tidak mempedulikanku. Mereka terlalu sibuk bermain bola dan berlari ke sana-ke mari. Mereka tidak melihat kesedihan di wajahku. Tetapi engkau tampaknya memahamiku. Engkau berkata kepadaku dengan penuh kasih, dan itu membuatku bahagia.
Ketika aku melihat wajah anak-anak yang bersamamu, aku melihat padanya sifat-sifat yang baik, karenanya aku merasa bahwa engkau seorang yang bijak, seorang gnani. Dan karena engkau bertindak selayaknya seorang ayah kepadaku, rasanya aku dapat memberitahumu mengapa aku bersedih.
Setiap kali kami datang ke mari atau pergi ke pantai dan aku melihat orangtuaku tertawa, bermain, dan bergulung-gulung di tanah, aku ingin menangis saja. Anak-anak perempuan lari berkeliling dan mengangkat rok mereka, dan tidak menutup aurat sebagaimana mestinya. Itu menggangguku. Kakak-kakakku suka melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukan orangtuaku, namun sekalipun diriku baru sembilan tahun, aku tidak ingin melakukan hal-hal seperti itu.
Orangtuaku tidak mengajari kami kerendahan hati, kejujuran, rasa hormat, atau takut berbuat dosa. Mereka tidak mengatakan kepada kami tentang sifat-sifat yang baik, perilaku yang baik, cinta, atau kebajikan. Bahkan mereka justru mengajari kami bermain-main dan menyia-nyiakan hidup.
Ini tidak benar! Kami seharusnya bangun di pagi hari dan beribadah kepada Tuhan. Kemudian sebelum berangkat sekolah, kami seharusnya mengulangi pelajaran-pelajaran kami agar dapat menjawab semua pertanyaan guru. Tetapi karena orangtuaku membawa kami ke kebun raya, waktu beribadah terlewatkan dan demikian pula waktu belajarku.
Guruku akan marah kalau aku tidak mempersiapkannya. Aku ingin mengerjakan pelajaran-pelajaran sekolah di pagi ini, tetapi orangtuaku mengajak kami ke sini. Dan ketika aku mengeluhkannya, mereka hanya berkata, ‘Oh, engkau dapat belajar nanti, hai kutu busuk ingusan! Kami semua pergi, dan engkau pun harus ikut. Ayo cepat, kami harus mengunci rumah ini!’
Jika aku mencoba belajar malam ini, yang akan kudapatkan adalah suasana gaduh. Kedua orangtuaku akan bersenda-gurau dan menghibur teman-teman mereka hingga larut malam dengan musik, cerita-cerita, minuman bir, dan brendi.
Sebagian malam-malam dipergunakan orangtua kami untuk bepergian. Mereka mengantar kami tidur di kamar kami masing-masing, mematikan lampu, lalu meninggalkan kami. Segera setelah mereka pergi, kakak-kakakku pun ke luar untuk menonton film atau mengunjungi teman-teman mereka atau pergi berdansa. Sedangkan aku ditinggalkan sendirian di rumah. Mereka mengikuti apa yang dicontohkan orangtua kami, dan aku pun mengkhawatirkan bagaimana jadinya mereka nanti?
Ketika aku merenungkan hal ini, aku merasa seolah-olah hidupku menjadi sia-sia. Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi. Aku bertanya-tanya mengapa Tuhan menciptakanku? Mengapa aku dilahirkan di muka bumi ini dari orangtua seperti itu?
Jika aku jalani hidup ini, maka aku harus berperilaku dengan cara yang tepat. Kalau tidak demikian, aku akan meninggalkan dunia ini sekarang juga. Mengapa Tuhan tidak segera mengambilku kembali?
Tuhan tidak memberiku keinginan untuk melakukan hal-hal semacam itu. Setiap orang mengusikku serta menjulukiku, ‘sang pemikir’. Mereka tampaknya tidak memahami perasaan atau suasana pikiranku. Selama mereka seperti itu, aku tidak dapat berbuat apa-apa.”
“Anakku, engkau harus menasihati kedua orangtuamu dan lakukan apa yang harus engkau lakukan. Pelajarilah pelajaran-pelajaran sekolahmu!”
“Berkali-kali aku berusaha menasihati mereka, tetapi mereka selalu menghardikku sembari membentak, ‘Apa! Engkau ingin menasihati kami? Engkau kira dirimu demikian besar!? Mereka mengejek dan memukul kepalaku seraya mengusirku, ‘Pergilah!’
Kakak-kakakku tidak ingin belajar ataupun mengambil hikmah. Mereka hanya suka bermain. Tetapi aku tidak. Aku mulai sekolah sejak usia lima tahun, dan sebelum berusia dua puluh satu tahun aku harus memantapkan pelajaranku secara tekun dan mencapai sifat-sifat dan perilaku mulia. Kalau aku membangun kehidupan yang baik sekarang ini, aku tahu bahwa masa depanku cerah. Tetapi lihatlah perilaku orang-orang dewasa di kebun raya sini. Mereka sama sekali tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.
Banyak orangtua di masa sekarang ini menjadi penyebab atas kegagalan anak-anaknya. Orangtuaku tidak lain adalah salah satu yang seperti ini. Banyak kekecewaan, penderitaan, serta perasaan lelah yang menghinggapi anak-anak, karena para orangtua mengajari mereka pada kegagalan bukannya keberhasilan. Tidakkah demikian, wahai orang bijak. Katakanlah kepadaku!”
“Memang benar, Anakku. Itulah keadaan dunia di abad ini. Baiklah, jika engkau merasakan keadaan ini, maka mintalah izin dari orangtuamu untuk tinggal di asrama sekolah agar engkau dapat belajar.”
“Duhai Bapak yang bijak, ketika aku meminta mereka untuk memberiku tempat khusus di mana aku dapat duduk dan belajar dengan tenang, mereka malah memperolok-olokku, ‘Oh ya, kita akan membangunkan untukmu sebuah universitas yang besar, yakni sebuah istana untukmu saja. Engkau kira dirimu seorang gnani, seorang dewa, seorang agung yang pintar!’
Mereka tidak mempunyai keyakinan kepada Tuhan. Ketika kukatakan kepada mereka bahwa aku ingin beribadah, mereka hanya mengambilkan sebuah Injil untukku dan memintaku agar membacanya. Tetapi mereka tidak pernah pergi ke gereja atau membaca Injil. Banyak orangtua seperti itu.
Mereka hanya memberi anak-anak mereka al-Qur’an, Injil, Taurat, atau Puranas, tetapi mereka sendiri tidak mengetahui nilai dari kitab-kitab tersebut. Sesungguhnya, mereka tidak mengetahui apa isi kitab-kitab itu. Mereka hanya menyimpan kitab-kitab tersebut di dalam rumah-rumah mereka dan tidak memiliki kecintaan apa pun pada kebenaran atau kebajikan yang terkandung di dalamnya.
Duhai orang yang Agung, itulah yang aku khawatirkan. Ketika aku menyaksikan anak-anak yang bersamamu itu, aku melihat perilaku-perilaku dan sifat-sifat yang baik. Wajah mereka menunjukkan kebahagiaan, dan itu membuatku bahagia. Aku tidak merasa bahwa engkau datang ke sini sekadar untuk bermain atau berkeliling. Aku pikir engkau datang untuk mengajar anak-anak. Engkaulah seorang bapak sejati.”
“Apa yang engkau katakan adalah benar, Anakku. Jika engkau berkeinginan, maka engkau pun dapat menemukan seorang manusia bijak dan berada di sisinya untuk belajar tentang kehidupan dan segala hal lain yang ingin engkau ketahui.”
“Duhai orang Agung, orangtuaku tidak akan mengizinkannya. Mereka bahkan tidak akan membiarkanku untuk mengunjungi seorang bijak itu. Mereka tidak menginginkan aku untuk belajar berperilaku yang baik atau kebajikan. Tampaknya mereka akan berkata, ‘Kami tidak peduli apa yang akan terjadi padamu atau betapa buruknya dirimu, sejauh engkau tinggal bersama kami. Jadilah buruk, tapi tinggallah bersama kami.’
Mereka menginginkanku untuk melakukan hal yang sama sebagaimana mereka lakukan. Aku tidak dapat menggambarkan kesengsaraan yang disebabkan oleh mereka dalam kehidupanku. Jika aku pergi kepada seorang yang bijak, maka mereka akan mengganggu, mempermalukan, dan mencemarkannya. Aku tidak mau sedikit pun ini terjadi. Dan aku terus bertanya mengapa Tuhan menciptakanku?”
“Saudara kecilku, apa yang engkau katakan adalah benar. Dunia sekarang ini memang seperti itu! Tetapi masamu akan tiba, dan jika ia muncul, Tuhan akan melindungimu. Dia mengaruniai hatimu dengan kesadaran ini, yakni perilaku baik, dan kebajikan untuk belajar. Berimanlah kepada Tuhan, dan engkau akan menerima kebaikan dari keyakinan, kepastian, dan ketetapan hati tersebut.
Lakukan dan berbahagialah! Tuhan akan menolongmu dengan mengabulkan maksud-maksud serta kewajiban-kewajibanmu. Kelak kami akan berbicara dengan orangtuamu maupun kakak-kakakmu.
Mendekatlah ke mari, Anakku. Renungkan tentang apa yang aku katakan! Tidak jadi masalah betapa banyak kotoran menutup sebutir mutiara, namun cahayanya tetap berkilau. Bukankah demikian? Seperti itulah, tidak masalah betapapun besar kesusahan atau kesulitan menyelimuti kehidupanmu, namun usaha dan ikhtiarmu, kewajiban dan kebajikanmu harus selalu bersinar.
Itulah tanggung jawabmu untuk memusatkan perhatian pada niatmu di jalan yang benar ini, kapan saja engkau mencoba beribadah atau belajar. Jika hati dan kebajikanmu terfokuskan secara benar, maka engkau tidak akan mendengarkan semua kegaduhan yang membingungkan yang menyelimutimu. Mantapkan hubunganmu dengan butir kebenaran ini, dan bunyi-bunyi di luar tidak akan mengganggumu.
Sebagaimana sebuah mutiara yang cahayanya tetap berada di dalamnya, meskipun ia tertimbun dalam kotoran, engkau harus berusaha untuk mengembangkan satu ketajaman tersebut, apa pun lingkungan yang mengelilingimu.
Apabila dirimu mencemaskan kegaduhan dan kebingungan, maka engkau akan menderita dan kesenanganmu akan sirna. Jadi, jangan membuang-buang waktu untuk memikirkan hal-hal tersebut. Cairkan hatimu dan fokuskan pada butir kebenaran tersebut! Maka engkau akan menemukan kedamaian dalam hidupmu.
Saudara kecilku, sungguh baik bahwa engkau telah memahami keadaanmu yang sekarang ini. Ketika engkau dewasa nanti, engkau harus mengubah segala hal dan menetapkan suatu cara yang lebih baik.”
Cucu-cucuku yang mulia, apakah kalian mendengar kata-kata anak laki-laki itu? Ketika engkau mempunyai anak, engkau harus membesarkan mereka dengan cara yang benar. Engkau tidak dapat memberi mereka sekadar kebutuhan fisik dan kehidupan semata, engkau juga harus mengajari mereka cinta, keyakinan, dan kasih sayang kepada Tuhan.
Engkau harus berusaha untuk merawat mereka untuk mencapai sebuah keadaan yang baik. Demi kebajikan mereka, perbuatan baik, dan kebahagiaannya, engkau harus menjadi orangtua yang membawa segala yang baik untuk kehidupan mereka. Maka mereka tidak akan mendapatkan sifat-sifat buruk atau berkelana di atas jalan-jalan yang jahat.
Apabila orangtua sendiri berperilaku dengan cara yang benar dan mengajari anak-anak mereka hal-hal yang benar, maka anak-anak tidak akan tersesat. Cucu-cucuku yang terkasih, ketika masanya tiba, demikianlah seharusnya engkau memelihara anak-anakmu sendiri di masa mendatang.
Ayo kita teruskan perjalanan kita! Semoga Tuhan menolongmu. Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen









































