Ada sebuah gunung di dalam diri manusia yang tingginya 70.000 kali melebihi ketinggian Mount Everest. Puncaknya mencapai kerajaan Tuhan.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Mari kita ke India, di mana ada kisaran gunung yang amat besar, yang disebut Gunung Himalaya.

India dan Nepal terletak di sebelah barat Himalaya, dan Cina di sebelah timur. Banyak gunung di sana, tapi yang sangat terkenal adalah Mount Everest.

Cucu-cucuku, Mount Everest dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia. Semua orang mengatakan bahwa gunung tersebut menakjubkan. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia mencoba kemampuan mereka untuk memanjat dan mencapai [puncak] gunung tersebut.

Setelah itu mereka dengan bangga menyatakan, “Saya telah mendaki Mount Everest!” Pada ratusan tahun yang lalu, banyak yang mencoba mencapai puncaknya, dan beberapa yang berhasil telah diliput dalam surat kabar, majalah, dan televisi. Sejumlah cerita telah ditulis tentang petualangan itu.

Lihatlah gunung itu! Ia diselimuti oleh salju. Dapatkah engkau melihat para pendaki mendaki dan menyeberangi celah es gunung itu? Mereka telah membawa kapak, tali, dan peralatan penting lainnya. Lihat, sekarang mereka berusaha untuk mendaki. Setiap orang tampaknya mempunyai tugas masing-masing. Hanya sebagian kecil yang benar-benar melakukan pendakian, tetapi banyak orang yang terlibat dalam usaha tersebut.

Bahkan banyak penulis dan fotografer yang mencatat tentang pengalaman mereka. Tapi penghormatan lebih besar ditujukan kepada pendaki yang berhasil mencapai puncaknya. Dia dianggap sebagai yang terpandai di antara yang lain. Lihatlah, betapa banyak manusia berkumpul di sini untuk menyaksikan kebolehannya.

Cucu-cucuku, orang mengucapkan segala jenis pujian bagi gunung ini. Sebagian dari mereka menyebutnya Mount Kailas, dan berkata, “Tuhan ada di sana.” Yang lainnya menyebutnya Mount Everest dan berkata, “Inilah gunung tertinggi di dunia. Untuk mendakinya butuh usaha yang keras!” Tetapi di zaman modern sekarang ini jika para ilmuwan menjatuhkan satu bom atom saja, maka seluruh gunung akan terbakar dan musnah.

Orang berpikir bahwa gunung itu sangat tinggi, tapi tidaklah demikian. Lihatlah burung masih bisa terbang di atasnya, dan sebagian dari mereka bahkan membuat sarang di sana. Ini wajar bagi sejumlah burung tertentu yang hidup di sana.

Sejumlah binatang juga hidup di dataran es. Bahkan ular serta satwa lainnya dapat mendaki gunung itu. Mereka telah melakukannya sejak dahulu, dan sudah wajar bagi mereka. Namun bagi manusia adalah jarang dan sangat sulit. Dia berusaha dengan keras hanya untuk menerima kehormatan.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Ada satu gunung yang 70.000 kali lebih tinggi daripada Mount Everest, dan itu muncul di hati manusia. Delapan belas ribu dunia dapat dilihat dari sini. Puncaknya mencapai kerajaan Tuhan, dan jika engkau berdiri di atas puncaknya, engkau akan melihat kerajaan itu.

Pemandangan yang menakjubkan! Gunung ini sangat tinggi dan sulit didaki. Sedikit orang yang dapat mencapai puncaknya. Dalam dua juta tahun sejak keberadaan manusia, hanya sedikit di antara mereka yang dapat mencapai kerajaan-Nya.

Apakah gunung tertinggi tersebut? Itulah kesombongan yang muncul dari kejumudan manusia. Dalam kehidupan, dan di dunia ini, 18.000 alam, ini adalah gunung tertinggi. Ia muncul pada egoisme, kurangnya kearifan, karma, dan ilusi dari energi ilusi yang ada pada unsur-unsur dan dari sifat-sifat tiga anak ilusi yang disebut tarahan, singhan, dan suran.

Hawa nafsu, kebencian, kebakhilan, ketamakan, fanatisme, kedengkian, minum minuman keras, hasrat, pencurian, pembunuhan, kebodohanan, bumi, emas, dan kesenangan seksual — energi-energi ini ada pada gunung tersebut dan yang menundukkan manusia pada jutaan energi lainnya. Adalah sulit bagi manusia untuk mencapai puncaknya. Tetapi, cucu-cucuku, setiap hari kita berusaha memanjat gunung kesombongan, kita akan berpengalaman menderita dalam hidup.

Jarang yang sanggup mengatasi kekuatan jahat ini dan mencapai puncaknya untuk berbicara dengan Tuhan tentang sifat-sifat-Nya, kearifan-Nya, keagungan, cinta, kedamaian, ketenangan, dan kesempurnaan-Nya yang adalah kebajikan. Seorang yang telah belajar sifat-sifat ini dan memanjatnya akan menerima semua perbendaharaan dari Tuhan, dan mencapai kebebasan bagi jiwanya.

Dia akan tahu cahaya Tuhan dalam jiwa. Dia akan mendapatkan hadiah, gelar, dan pujian yang diberikan oleh Tuhan-Nya. Dia juga akan mendapatkan mahkota kearifan kemuliaan kesadaran yang dikenal dengan gnanam, dan dia akan menjadi sebenar-benar manusia.

Cucu-cucuku, bukan sesuatu yang mengherankan untuk mendaki Mount Everest. Burung, ular, dan kalajengking dapat melakukannya. Gunung kesombongan begitu tinggi, dan lebih sulit untuk didaki. Engkau harus mengetahui ini dan harus berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya dalam kehidupanmu.

Untuk mendaki Mount Everst engkau membutuhkan kampak, beliung, pisau, dan alat-alat lainnya. Namun untuk mendaki gunung ruhanimu, engkau harus memiliki sifat-sifat Tuhan, tindakan-Nya, dan cinta-Nya. Engkau harus memiliki iman, keyakinan mutlak, kepastian hati, dan ketetapan dalam Tuhan.

Engkau harus memiliki kearifan, kasih-Nya, kedamaian-Nya, dan semua perbuatan-Nya. Dan engkau harus memiliki kesabaran, kepuasan diri, kepercayaan kepada Tuhan, dan pujian Tuhan, yang dikenal sebagai sabur, syukur, tawakkul, dan alhamdulillah.

Jika engkau berhasil mendaki dengan sifat-sifat Tuhan dan mencapai puncak kesombongan, maka Tuhan akan berbicara denganmu sebagaimana Dia berbicara kepada Musa a.s. ketika Nabi Musa mendaki Gunung Sinai.

Tetapi bila engkau tidak bisa menundukkan puncaknya, maka seberapa pun banyaknya engkau shalat dan bermeditasi, kesombongan akan memikatmu dan ilusi akan menjeratnya. Energi-energi ini akan selalu mengendalikanmu dan menaklukkanmu pada kelahiran energi-energi baru.

Kasihku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Kalian harus memahami semua ini. Dalam pencarian manusia pada kebajikan, inilah halangan tertinggi yang harus dia hadapi.

Inilah gunung terberat dari segala gunung, dan untuk menundukkannya adalah kekaguman terbesar. Kalian semua harus berhasil mendaki gunung ini. Ketika engkau mencapai puncaknya, engkau akan bersama Tuhanmu. Engkau akan bebas. Sudahkah engkau mengerti?

Semoga Tuhan menolongmu dan memberimu keagungan-Nya sehingga engkau mampu mendaki gunung ini dan berbicara dengan-Nya. Amin.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini