Orang itu mendadak menangis dan berteriak, "Bagaimana mungkin aku berpikiran untuk membunuhmu? Bagaimanapun laparnya aku, mana mungkin aku bisa berbuat dosa seperti itu?

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, dan saudara-saudaraku. Haruskah kita pergi berjalan-jalan menerobos hutan?

Di sini, suatu kali, ada seorang manusia yang datang ke hutan untuk mencari makanan bagi keluarganya. Suatu hari dia berburu dari fajar hingga petang, mencari di semua tempat, tetapi tidak satu binatang pun yang dia tangkap. Dia sangat sedih, “Bagaimana aku harus memberi makan istri dan anak-anakku?” keluhnya.

Kemudian sebuah keluarga rusa berlari masuk ke hutan. Tiba-tiba induk rusa berhenti dan berkata kepada suaminya, “Ajaklah anak-anak pulang! Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku akan menyusul jika memungkinkan.”

“Apa maksudmu? Ke mana kau akan pergi?” tanya suaminya. “Apa yang harus kau kerjakan?”

“Di dekat sini, ada seorang manusia yang bersedih lantaran tidak mengetahui jalan ke luar dari hutan. Ketika hari mulai gelap, semua harimau dan binatang-binatang yang lapar mulai berburu mencari mangsa, dan mereka mungkin memangsa orang itu. Manusia yang malang itu mempunyai istri dengan empat orang anak di rumahnya, yang sedang menunggu dan lapar.

Mereka menggantungkan hidup mereka kepadanya. Jadi aku harus membantunya menemukan jalan pulang baginya sebelum hari benar-benar gelap, dan kemudian aku mesti memenuhi keperluannya. Inilah sebabnya mengapa aku pergi sekarang.”

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya suaminya.

“Aku akan menawarkan dagingku, agar istri dan anak-anaknya mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan.”

“Apakah kau akan mati untuknya?” tanya si rusa jantan.

“Ya, aku bersedia untuk melakukannya,” kata rusa betina, “karena Tuhan mengatakan bahwa adalah kebaikan bila membantu seseorang yang membutuhkan. Memang benar bila perbuatanku itu akan membawaku pada kematian, tetapi hal itu juga akan membawaku pada kedamaian.

Aku akan memberi kedamaian pada orang itu, dan aku akan mendapatkan kedamaian Tuhan. Jadi jangan bersedih! Inilah yang harus aku lakukan. Suatu saat aku pun akan mati.”

“Kalau begitu, kami akan ikut datang,” suami dan anak-anak rusa betina itu bersikeras.

“Jika kita semua pergi menemuinya, dia akan mempunyai persediaan makanan untuk satu bulan, dan keluarganya akan sangat damai. Cepat kita temui orang itu! Mari kita tunjukkan kepadanya jalan ke rumah sebelum hari menjadi benar-benar gelap!” Dan mereka berjalan mencari pemburu itu.

Mereka mendapatkan sang pemburu tersebut bersandar pada batang sebuah pohon, menangis dalam keputusasaan. Segera dia melihat rusa-rusa menemuinya, dia pun mencari senjatanya.

“Hai manusia, jangan bunuh kami dulu!” ibu rusa memperingatkan. “Jika engkau menembak kami sekarang, engkau tidak akan pernah menemukan jalan keluar dari hutan ini. Makhluk-makhluk kegelapan menunggu untuk memangsamu, seperti halnya engkau ingin menyantap kami.

Jadi, sebelum hari benar-benar gelap, izinkan aku mengantarmu terlebih dahulu ke rumahmu! Setelah itu engkau bisa membunuhku. Aku sudah berkata kepada suami dan anak-anakku, ‘Laki-laki itu begitu sedih! Jika dia mati, maka istri dan keempat anaknya juga akan mati. Aku harus pergi dan melihat mereka masih hidup.’ Dan keluargaku menyetujui. Kami bersama-sama menemuimu untuk mengurangi penderitaanmu. Pertama, kami akan menuntunmu pulang, lalu engkau bisa menyantap kami.”

Laki-laki itu memikirkan apa yang dikatakan oleh rusa, “Bagaimana kalian mengetahui bahwa aku mempunyai istri dan empat orang anak?” tanyanya.

“Duhai manusia, perbedaan antara engkau dan kami hanyalah dalam bentuk tubuh,” jawab rusa. “Kulit kita berbeda, namun hati kita sama. Kita mempercayai Tuhan yang sama, bukan? Dan kita sama-sama mengandung unsur yang sama, yaitu kekuatan Tuhan. Aku memang binatang, tetapi Tuhan bersamaku.

Dan karena aku adalah binatang, maka aku mempunyai kejernihan jiwa, dan aku dapat memahami seruan Tuhan. Jika jiwamu sudah jernih, maka engkau akan dapat mendengar ketika Tuhan berkata dalam dirimu. Aku datang menemuimu karena aku mendengar seruan jiwa tersebut.”

Sang pemburu itu mendadak menangis dan berteriak, “Bagaimana mungkin aku berpikiran untuk membunuhmu? Betapapun lapar dan tersiksanya aku, bagaimana mungkin aku akan melakukan dosa semacam itu?”

“Duhai manusia,” kata rusa kepadanya, “engkau harus menyadari bahwa engkau tidak dapat tumbuh dengan memakan daging orang lain. Kami memakan ranting-ranting pohon, dedaunan, rerumputan, maupun mineral-mineral yang dihasilkan batu. Apa pun yang telah diberikan Tuhan, kami selalu merasa cukup. Kami senantiasa mengingat itu.

Tuhan sudah memberimu telinga, mata, hidung, mulut, tangan, dan kaki. Jika engkau gunakan kebajikanmu, maka engkau dapat menggunakan pemberian Tuhan ini untuk mendapatkan makanan untukmu tanpa harus membunuh atau mencuri ataupun berdusta. Engkau senantiasa dapat menemukan pekerjaan.

Engkau bisa menjadi seorang pelayan atau juru masak. Engkau bisa menjadi pemulung, tukang pembersih jalan raya, atau mengerjakan apa saja. Engkau dapat melakukan pekerjaan itu dengan menjaga martabat, kehormatan, sifat-sifat baik, dan hati yang bersih. Tatkala engkau mendapatkan kehidupanmu sendiri, maka Tuhan akan menambahkan kepadamu keanggunan dan cinta-Nya kepаdamu.

Dan ketika tatapan-Nya jatuh kepadamu, maka segala milik-Nya akan menjadi milikmu. Engkau akan memiliki kekayaan keanggunan dan kebajikan, cinta, dan kasih. Engkau akan memiliki inti dari kesabaran, kesungguhan, keimanan kepada Tuhan, dan pujian kepada-Nya; engkau akan memiliki kekayaan, sabur, syukur, tawakkul, dan alhamdulillah.

Jangan pernah lagi engkau menjadi miskin. Engkau akan selalu mempunyai kekayaan-kekayaan Allah, dan ketika engkau telah memiliki kekayaan-kekayaan tersebut, apakah engkau pernah merasa kurang?

Oh manusia, karena engkau tidak mempunyai sifat-sifat tersebut itulah yang membuat engkau terpuruk dalam begitu banyak kesulitan. Membunuh orang lain telah membuatmu bahagia. Makananmu berasal dari menyakiti kehidupan orang lain, tetapi lukamu disebabkan oleh balasan orang lain yang engkau sakiti.

Segala sesuatu yang engkau lakukan kembali pada dirimu. Seandainya engkau tidak melakukan hal-hal tersebut, maka engkau tidak akan begitu menderita. Engkau akan mencapai kedamaian dan ketenangan. Mulai sekarang, engkau harus berubah dan berjalan di jalan kebaikan.

Dan sekarang, duhai manusia, kita harus menemukan cara lain agar engkau dapat memberi makan keluargamu. Tunggu di sini, dan aku membawakanmu sesuatu yang dianggap manusia sangat berharga.”

Kemudian rusa itu berlari ke hutan dan kembali lagi dengan membawa permata. “Seorang laki-laki yang memiliki permata ini telah dimangsa oleh seekor harimau. Aku menyaksikan dan melihat permata itu jatuh dari tangannya ketika dia meninggal. Ini, ambillah! Engkau dapat menjualnya dan hidup dengan bahagia tanpa harus melukai makhluk-makhluk lain.”

Kemudian rusa dan keluarganya itu mengantarkan manusia itu ke tepi hutan. Dengan memanggul senjatanya, dia kembali ke rumah dan rusa beserta suami dan anak-anaknya kembali ke rumah mereka di hutan.

Anak-anakku yang mulia, cahaya mataku yang berkilauan, kita harus memikirkan kisah ini. Rusa dan binatang-binatang lain mempunyai perasaan, kesadaran, dan akal. Bahkan beberapa binatang mempunyai cinta dan kasih yang dapat membuat mereka mengetahui hati dan kebutuhan makhluk-makhluk lain.

Ketika cinta Tuhan melebur dan mengalir dari hati salah satu makhluk Tuhan, maka dia ingin melakukan apa yang terbaik. Rusa betina di atas siap memberikan kehidupannya untuk membantu si pemburu dan keluarganya. Jika seekor rusa dapat menunjukkan cinta dan kasih yang demikian besar, seberapa besar yang dapat diberikan oleh seorang manusia?

Jika dia tidak siap memberikan tubuhnya, setidaknya dia dapat memberikan sesuap makanan, seteguk air, atau sepotong pakaian. Dia sekurang-kurangnya dapat memberikan cinta dan kasih dari hatinya. Rusa betina itu siap untuk mengorbankan dirinya, suaminya, dan anak-anaknya.

Kalau kita merenungkan hal ini, maka kita akan menyadari seberapa besar kasih dan cinta yang harus kita berikan kepada orang lain. Kalau seorang manusia tidak mempunyai belas kasih, manusia macam apa dia itu?

Cucu-cucuku, kita harus membuat cinta kita melebur dan memberikan kasih kita seperti halnya air mengalir. Itu akan lebih baik. Kasihku padamu. Anbu.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini