Seorang manusia bijaksana tidak menemukan kesulitan dalam perjalanan melintasi gurun pasir kehidupan ini, karena ia mengendarai keyakinan, kepastian, kebenaran, keadilan, dan cinta.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Maukah engkau pergi ke Arabia bersamaku? Sejauh engkau memandang, terbentang hamparan padang pasir.

Lihatlah bagaimana angin meniup gundukan pasir yang tinggi! Sejumlah bebatuan, semak-semak, dan pohon kurma dapat dilihat di sini, tetapi kita tidak menemukan air, orang, dan desa, ataupun kehidupan lainnya.

Ke mana pun kita memandang kita hanya melihat pasir dan bebatuan di tempat terbuka. Jika seorang manusia berdiri di sini, maka dia tidak akan terhindar dari topan, angin padang pasir, dan terik matahari yang membakar.

Cucu-cucuku, berjalan di padang pasir adalah sangat sulit. Apakah engkau merasa dapat berjalan dengan kaki yang terbenam dalam pasir? Engkau harus menariknya kembali dan melangkah lagi. Oh, lihatlah di sana, di kejauhan sana! Apakah engkau melihat burung-burung onta melintasi pasir dengan cepat?

Mereka dapat berlari dengan kecepatan 40 mil per jam. Kita tidak mampu berlari secepat itu. Sesungguhnya, kaki kita terlampau berat menembus pasir, sehingga sulit untuk berjalan. Tetapi kita harus mencoba untuk tetap berjalan, jika kita tetap di sini akan binasalah kita. Kita harus mencari air sebelum badai datang. Jangan merasa kepayahan! Berusahalah keras, kita tidak boleh membuang-buang waktu. Kita harus tetap berjalan.

Berhati-hatilah, anak-anak! Banyak kalajengking dan ular di dekat bebatuan. Sebagian ular merayap di tepi jalan ketika menyeberangi padang pasir. Lihatlah, engkau juga dapat melihat beberapa iguana serta tikus, dan di sana juga ada serigala.

Bagaimanapun mereka mengatur hidupnya di padang pasir. Tapi manusia beranggapan mereka tidak mungkin hidup di tanah tandus dan terpanggang sinar matahari, dengan minimnya pepohonan yang menaunginya.

Cucu-cucuku, mari kita berjalan ke depan dan ada sebuah gunung batu di sana. Lihatlah! Apakah kalian dapat melihat asap yang berasal dari gunung itu? Marilah kita dekati. Sekarang mata kita dapat melihat dua atau tiga tenda dengan kuda-kuda dan onta-onta yang kepayahan. Teruslah berjalan, kita hampir sampai.

Tampaknya ada sejumlah keluarga nomad yang hidup di sini. Mereka pasti berasal dari salah satu suku di padang pasir. Bangsa nomad sering dilecehkan dan dipandang rendah oleh kasta-kasta yang menganggap paling tinggi. Tetapi orang-orang seperti ini sangatlah penyabar dan suka berpikir. Lihatlah bagaimana mereka mendekati kita dan menawarkan makanan dan air dari kendi mereka.

“Selamat datang, wahai para musafir. Kemarilah dan makanlah bersama kami! Berita apakah yang membawa Anda sekalian ke sini?”

“Kami datang hendak mengamati daerah padang pasir ini. Dan kami belum melihat seorang manusia pun sampai Tuhan membimbing kami bertemu kalian.”

“Saudara-saudaraku, kalian memerlukan air selama dalam perjalanan. Sangat sedikit tempat di sini yang menyediakan air, tapi kami akan memberitahukan bagaimana cara menemukan air. Kami pun dapat menunjukkan langsung kepada kalian beberapa orang yang memiliki rumah di dekat gunung ini.

Kalian harus dapat menemukan mereka, tapi jangan coba-coba berjalan kaki. Gunakan kuda-kuda dan onta-onta kami, mereka telah terlatih berjalan di padang pasir dan akan mempermudah perjalanan kalian. Kami pun mengendarai mereka ke mana pun kami pergi.”

Cucu-cucuku, tidakkah engkau bertanya-tanya bagaimana orang-orang ini menemukan makanan di tempat yang sangat panas dan kering? Mari kita tanyakan kepada mereka. Kita dapat belajar sesuatu jika kita mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan para nomad kepada kita.

“Kami menyantap binatang-binatang yang hidup di sini, burung-burung dan onta, beberapa kerbau liar dan ayam. Kadang-kadang kami menangkap suatu jenis kambing gunung tertentu yang makan bebatuan. Di mana pun kami menemukan air kami menggali sebuah sumur, lalu kami isi kendi-kendi ini dan membawanya kembali ke tenda.

Kami dapat memerah susu dari onta-onta kami. Dengan begitu kami mengatur kehidupan. Hidup memang sulit, tapi kami tidak pernah kekurangan makanan. Tuhan selalu memberi kami cukup makanan.”

Cucu-cucuku, marilah kita meminum air dari kendi-kendi ini. Lihatlah, air itu sebersih kristal yang biru! Hmm, ini sangat dingin dan segar. Percikkan sedikit air di tubuhmu. Air itu akan membasuh keringatmu dan menjadikanmu sejuk. Ahh, begitu menyegarkan.

Cucu-cucuku, perjalanan kehidupan kita seperti berjalan melintasi padang pasir. Kita harus dapat menyeberangi lautan ilusi dan kemudian melintasi gurun kehidupan lainnya. Hari ini engkau telah menggali sebagian kesulitan hidup di padang pasir, akan tetapi begitu banyak makhluk hidup di sini tanpa mengalami kesulitan.

Onta, elang, serigala, dan ular-ular tidak mempunyai kesulitan jika badai datang. Hanya manusialah yang merasa menderita. Binatang hidup hari demi hari, menerima apa pun yang ia dapatkan. Mereka tidak memiliki kearifan ruhani untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah. Mereka makan apa pun yang diberikan Tuhan padanya, tanpa memikirkan masa depan mereka.

Tetapi manusia mendapatinya sangat sulit. Dia mengumpulkan segala hal dan menyimpannya untuk esok hari, dan lusa, dan seluruh sisa hidupnya. Dia menyisakan untuk anak dan istrinya. Dia mengumpulkan begitu banyak benda dan mengikatnya menjadi bendelan besar. Dan membawa kelambanan, hawa nafsu, kegelapan, ikatan-ikatan darah, ilusi, dan fanatisme.

Apakah engkau lihat betapa sulitnya yang mesti dia hadapi untuk mengarungi gurun kehidupan dengan semua beban tersebut?

Dia mencoba membawa beban yang berat, tapi mendapati betapa berat untuk mengangkat kakinya. Binatang-binatang tidak membawa beban seberat itu. Engkau lihat bagaimana burung onta dengan mudah menyeberangi padang pasir. Manusia tidak dapat melakukannya dengan cepat, karena dia membawa sejumlah beban berat. Sementara badai gurun pasir yang ada di dalam pikiran dan hasratnya demikian keras berhembus melawan dan mendorongnya jatuh. Betapa menderitanya dia!

Sekalipun manusia mampu merenangi lautan ilusi, sekali terdampar di padang pasir, maka pasir tersebut akan menguburnya sampai kepalanya dan dirinya akan binasa di neraka tersebut. Kemudian serigala, anjing, kucing, dan tikus akan menyantap mayatnya.

Manusia datang ke gurun pasir kehidupan itu dengan membawa sifat-sifat dari neraka, dan neraka akan menunggunya di sana, siap untuk menelannya.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Kita harus berenang menyeberangi lautan ilusi, padang pasir kehidupan, dan memanjat gunung batu pikiran. Kita harus dapat menyelamatkan diri dari badai yang memusnahkan sifat-sifat mulia kita yang berkembang di dalam pikiran.

Kita harus selamat dari kejahatan-kejahatan yang akan memangsa kita, dan dari anjing, serigala, burung hering, singa, macan, dan beruang-beruang yang siap untuk menunggu atas penderitaan kita. Kita harus melarikan diri dari kekuatan setan dan hantu yang menunggu untuk memangsa kita.

Anak-anakku, dalam perjalanan kita telah belajar bagaimana menempuh sulitnya kehidupan yang ada di padang pasir. Tetapi kaum nomaden yang kita temui tidak menganggapnya begitu sulit. Mereka begitu gembira hidup di sana, karena tahu bagaimana cara bertahan di alam yang setandus itu.

Mereka mempunyai onta dan kuda untuk membawanya melintas di atas pasir, mereka juga mempunyai tenda sebagai tempat berlindung, dan tahu di mana dan bagaimana mendapatkan makanan. Mereka mampu menghibur kita dan menunjukkan kepada kita bagaimana menemukan air. Kita menderita kehausan, karena tidak menyadari bahwa ada air yang tersimpan di atas jalan yang kita lalui. Tetapi mereka telah mengetahui.

Cucu-cucuku, sebagaimana beberapa orang yang mengetahui bagaimana hidup di padang pasir, terdapat sedikit pula manusia bijak yang mengetahui bagaimana berjalan melewati padang pasir kehidupan. Seorang manusia bijak tidak akan menemukan kesulitan dalam perjalanan ini, karena dia mengendarai keyakinan, kepastian, kebenaran, keadilan, dan cinta.

Dia menunggang kearifan, sifat-sifat dan tindakan-tindakan Tuhan, yang dapat bergerak dengan sangat cepat. Anakku, manusia seperti itulah yang akan menolong perjalananmu lebih mudah dengan menawarkan bentuk perjalanan yang sama ini.

Sebagaimana kaum nomaden di padang pasir dapat memberitahukan kepada kita di mana dapat menemukan makanan dan air, maka manusia bijak juga dapat memberitahu kita di mana menemukan kebenaran. Dia dapat menunjukkan kepada kita bagaimana mengatasi kelaparan, kehausan, kepayahan, dan bagaimana membuat perjalanan kita lebih mudah.

Dia akan menunjukkan setiap langkah perjalanan kita. Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana berenang di lautan ilusi, menyeberangi padang pasir kehidupan, dan menyelamatkan diri dari binatang buas. Dia akan menunjukkan kepada kita, “Inilah sifat-sifat yang baik. Inilah kearifan. Inilah Tuhan.”

Manusia bijak akan mengajari kita bagaimana menjalani kehidupan, menghindari kecelakaan, angin topan, dan akhirnya bagaimana memperoleh kebebasan jiwa kita dan memantapkan hubungan dengan Tuhan. Seorang manusia yang bijak mengetahui hal ini semua. Dan ketika engkau melakukan perjalanan dengannya menyeberangi padang pasir kehidupan, engkau akan menemukan perjalananmu lebih mudah karena pertolongannya.

Kasihku padamu, cucu-cucuku, pikirkanlah hal ini secara mendalam! Engkau harus menemukan seorang yang bijak, seseorang yang telah menyeberangi dan mengetahui jalan di padang pasir. Dia akan menolongmu di seluruh perjalanan. Adalah sangat sulit untuk menemukan manusia seperti ini.

Memanglah benar yang demikian di masa lampau, di masa sekarang dan di masa datang. Memang sungguh jarang menemukan manusia yang mengetahui jalan kehidupan. Sungguh sulit untuk menemukan makanan dan minuman yang engkau perlukan, tapi engkau harus belajar. Dan jangan menunggu keajaiban untuk menolongmu. Apalah fungsi keajaiban jika engkau tidak dapat melarikan diri dari padang pasir kesulitan?

Cucu-cucuku, padang pasir di dunia ini penuh dengan binatang-binatang. Jika engkau tidak dapat menyeberanginya, maka engkau akan binasa dan menjadi santapan serigala serta iblis. Tapi jika engkau menemukan orang bijak, engkau akan berhasil menyeberangi padang pasir kehidupanmu dengan gembira, cinta, dan kenikmatan.

Itulah keajaiban yang sebenarnya. Keajaiban tersebut dapat terjadi di dalam diri seseorang, yang tidak terdapat dalam perilakunya. Pahamilah hal ini cucuku. Semoga Tuhan memberimu kearifan dan kejernihan untuk melakukannya. Amin.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini