Pohon itu tidak pernah bersedih ketika seorang manusia bodoh mengeluhkan tentang buah-buahnya.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, saudara-saudaraku, putra-putriku. Dapatkah kita berjalan-jalan? Marilah kita mengunjungi kebun buah-buahan yang ada di sana!

Oh, alangkah bagusnya kebun ini! Lihatlah begitu banyak pepohonan di sana. Sebagian dari pohon tersebut buahnya telah masak, dan yang lainnya masih keras lagi muda, dan beberapa pohon tidak berbuah sama sekali.

Begitu memikatnya buah-buah tersebut dalam keanekaragaman warna, ada merah dan ada juga yang kuning. Ada yang rasanya masam, ada pula yang kandungan airnya cukup banyak. Sebagian dari mereka ada yang memiliki rasa manis seperti madu, dan ada pula yang pahit.

Cucu-cucuku, ini adalah tugasmu untuk memilih buah-buahan yang engkau perlukan dari pohon tersebut. Tapi pertama, engkau harus tahu jenis buah apa yang baik buat tubuhmu. Sekali engkau mengetahui kondisi tubuh dan apa yang diperlukan oleh tubuh, maka engkau akan memilih makanan apa yang cocok.

Engkau mungkin butuh vitamin C. Engkau mungkin butuh zat besi, tembaga ataupun emas. Tubuhmu mungkin memerlukan buah yang manis atau yang berkadar air banyak. Engkau seharusnya tahu semua ini sebelum memilih buah-buahan tersebut.

Engkau harus tahu mana jenis buah yang mengandung vitamin dan mineral yang berguna bagi tubuh. Ada yang mengandung zat besi, yang lain beracun, sedangkan yang lainnya belum masak. Tetapi jika engkau memakan buah-buahan yang baik, buah masak yang dapat menyuplai tubuhmu, maka ia akan membuat tubuhmu lebih sehat.

Cucu-cucuku, engkau tidak seharusnya makan buah-buahan yang tidak cocok dengan tubuh. Jika engkau berkata, “Oh, lihat buah ini menakjubkan!” dan memakannya tanpa mengetahui jenis buah tersebut, engkau akan sakit. Mengonsumsi buah-buah tersebut baik berupa makanan atau minuman yang salah akan membunuhmu.

Tetapi apakah itu kesalahan dari pohon? Apakah itu kesalahan dari buahnya? Ataukah itu adalah kesalahanmu sendiri? Akan sedihkah buah atau pohon itu jika buah yang engkau lempar jatuh di atas tanah dan engkau makan sebagian saja, hanya karena tidak menyukai rasanya? Tidak, baik buah maupun pohon itu tidak bersedih ketika seorang yang bodoh mengeluh tentang buah-buah mereka.

Engkau harus memikirkan tentang hal ini. Seseorang yang lebih bijak akan datang dan memakan buahnya. Walaupun buah tersebut tidak dimakan oleh burung atau tidak diambil oleh manusia, dan mereka jatuh di atas tanah dan tidak pernah disentuh serangga, bahkan akan menikmati buah tersebut. Tidak ada kerugian sama sekali bagi pohon.

Hal yang sama, terjadi pada manusia yang tergelincir dan jatuh ketika memanjat pohon, salah siapakah ini? Apakah dia menyalahkan pohon itu? Meskipun dia mengeluh, “Aku datang untuk mengambil buahmu, dan kau menjatuhkan aku, dan memukul kepalaku. Kau menyakitiku!”

Pohon hanya menertawakannya. “Engkau memang bodoh! Tidakkah engkau tahu bagaimana cara memanjat? Engkau lebih baik belajar dulu. Jangan hanya berpegang erat pada tumbuhan yang merambat, atau bahkan melempar seutas tali ke atas dahan dan mengangkat dirimu ke atas. Tetapi jangan salahkan aku jika dirimu jatuh. Yang salah adalah dirimu sendiri!” Inilah yang dikatakan pohon terhadap manusia yang bodoh.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Seperti manusia yang mengambil buah yang salah atau manusia yang jatuh dari pohon, dia menyalahkan Tuhan atas kesalahan dan kebodohannya sendiri. Mereka, tidak pernah memahami bahwa itu kesalahannya sendiri, mereka hanya mengkritik agama atau ras dan menyalahkan Tuhan.

Manusia memiliki 400 triliun, 10 ribu penyakit yang terdapat di dalam agamanya, kesukuan, prasangka sosial, keraguan, kebanggaannya, arogansi, karma, kecemburuan, dengki, kebohongan, khianat, dan egoismenya. Dia terjangkit penyakit untuk mencari kebanggaan dan menghindari kesalahan. Gagal untuk memahami perbedaan-perbedaan di dalam dirinya sendiri, dia menemukan kesalahan pada orang lain.

Dia tidak menyadari bahwa dirinya, seperti halnya yang lain, terbuat dari bumi, api, air, udara, dan eter. Seluruh umat manusia adalah satu keluarga, hanya ada satu yang dimilikinya, tapi dirinya sama sekali tidak menyadari hal itu. Dan dia mencari kesalahan di agama lain, ras lain, dan kasta-kasta yang lain.

Dengan berpegang pada berbagai perbedaan ini, manusia mencoba untuk memanjat dan melihat kebenaran. Tapi dia terpeleset lagi dan akhirnya meluncur jatuh ke bawah dan kepalanya terbentur.

Dia seharusnya mencari kesalahan yang ada di dalam dirinya sendiri daripada menyalahkan Tuhan. Bukannya dia mencari obat yang akan mengobati kekuranganmu, obat sifat-sifat Tuhan, tindakan, perilaku, persamaan, kedamaian, dan kasih, dia justru menyalahkan Tuhan. Kebodohannya adalah penyakit sesungguhnya, karena ia akan menghancurkan dirinya dengan memisahkannya dari kebenaran dan menghancurkan cintanya.

Tubuh, kehidupan, dan jiwanya menjadi terlilit penyakit yang memenuhi pikiran, pandangan, ucapan, dan perilakunya. Selanjutnya, kegelapan kebodohan akan menghinggapinya, dan api neraka akan menghancurkannya. Manusia harus memikirkan hal ini!

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Salah siapakah ini jika bahaya datang kepadamu? Jika engkau terpeleset dan jatuh dan kepalamu terbentur, jangan salahkan pohon itu. Jangan salahkan buah dan bunganya dan mengatakan bahwa mereka tiada berguna. Jangan mencari kesalahan pada yang lain. Daripada berpaling, lebih baik berhenti dan berpikir.

Segala sesuatu yang telah diciptakan Tuhan adalah suatu contoh. Segala sesuatu yang telah diciptakan Tuhan dipenuhi dengan keharuman, rasa, dan keindahan. Tuhan telah melengkapi dunia ini dengan buah-buahan yang lezat dan menawan, bunga-bunga yang harum. Dengan meneliti secara cermat buah-buahan dan bunga-bungaan, engkau dapat mengetahui cita rasa Tuhan di dalam jiwamu.

Tuhan telah membuat mereka sangat indah, dan Dia telah membuatmu juga dengan indah. Dia telah menempatkan di dalam dirimu 99 kekuatan-Nya, tiga ribu keagungan-Nya. Apa pun yang engkau perlukan untuk mengobati penyakit itu ada di dalam dirimu sendiri.

Cucu-cucuku, engkau harus memahami bahwa penyakit yang ada di dalam pikiran dan tubuh dapat diobati oleh makanan dan obat dari Allah swt. Engkau harus melakukan hal ini!

Jangan menyalahkan orang lain. Lihatlah kesalahanmu sendiri. Kemudian ambillah buah-buahan yang engkau butuhkan dari Allah dan obati penyakit yang ada di dalam dirimu. Seperti engkau mengobati beragam penyakit di dalam tubuhmu dengan makan buah-buah-tertentu, engkau dapat menyucikan jiwa dan ragamu dengan menggunakan sifat-sifat Tuhan.

Tuhan memiliki ladang buah-buahan yang diisi dengan 3000 keagungan-Nya. Segalanya ada di sana. Engkau tinggal menikmati apa yang engkau butuhkan. Ambillah yang sesuai dengan sifat-sifatmu, kemampuanmu, dan lakukan pengobatan pada setiap penyakit yang ada di dalam dirimu.

Pastikan setiap bagian, ambillah obat yang berasal dari sifat-sifat dan tindakan-Nya dan koreksilah segala kekuranganmu! Bersabarlah, dengan kesabaran batin, keridhaan, dan percayalah kepada Tuhan. Panjatkan seluruh pujian kepada Tuhan.

Jika engkau telah membersihkan segala kesalahan yang ada di dalam dirimu, engkau akan dapat hidup lebih lama tanpa penyakit. Jika engkau mengambil buah cinta, kearifan, kasih, keadilan, dan integritas yang ada di jalan Tuhan, engkau dapat mengetahui cita rasa kedamaian dan keadilan Tuhan di dalam jiwamu.

Kehidupan, keagungan seperti itulah yang dimiliki jiwa yang terbebaskan. Pikirkanlah hal ini!

Sejauh engkau tidak memahami penyakitmu sendiri, engkau akan terus mencari kesalahan-kesalahan pada ciptaan Tuhan. Karena kebodohanmu, engkau akan mencari kesalahan pada buah-buah sifat dan keagungan Tuhan.

Pikirkanlah tentang hal ini, cucu-cucuku. Carilah kebajikan sifat-sifat dan kemampuan Tuhan. Pergilah kepada dokter yang mengetahui tentang hal ini. Pergilah kepada penuntunmu yang bijak! Dia tahu.

Belajarlah darinya, dan cobalah untuk meningkatkan pemahamanmu. Belajarlah untuk meningkatkan ketenangan, cinta, kedamaian, dan kasih yang akan membuat hidupmu lebih berarti. Cobalah untuk mencapai kebebasan di dalam jiwamu darinya. Kasihku padamu, cucu-cucuku.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini