Aliansi Budayawan Kabupaten Mojokerto resmi dibentuk untuk menyatukan pelaku budaya dari 18 kecamatan dan mendorong pemajuan kebudayaan daerah.

inilahmojokerto.com – Puluhan budayawan, pelaku seni, pemerhati budaya hingga profesional di Kabupaten Mojokerto sepakat membentuk wadah bersama bernama Aliansi Budayawan Kabupaten Mojokerto (AB-KM). Aliansi ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk menyatukan gagasan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pemajuan kebudayaan.

Pembentukan AB-KM digagas sesepuh budaya sekaligus Ketua Padepokan Klampis Ireng, Mbah Warok, dalam sarasehan yang digelar di Padepokan Klampis Ireng, Gunung Arjuno, Desa Sumberwono, Kecamatan Bangsal, Senin Legi (21/9/2026).

Pertemuan perdana tersebut dihadiri puluhan ketua padepokan, sanggar seni, pemerhati budaya dari berbagai wilayah Kabupaten Mojokerto, serta kalangan profesional dan pengacara yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan kebudayaan.

Selama ini, para penggiat budaya di Mojokerto dinilai masih bergerak secara terpisah. Kehadiran aliansi diharapkan menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai kekuatan tersebut sehingga gagasan budaya dari 18 kecamatan tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat diwujudkan dalam kegiatan nyata.

Aliansi Budayawan Kabupaten Mojokerto membawa tiga agenda utama. Pertama, menjadi wadah sekaligus laboratorium gagasan bagi para penggiat budaya dari 18 kecamatan.

Kedua, menjadi mitra pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam upaya memajukan dan melestarikan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Ketiga, mendorong terbentuknya Dewan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto (DKKM). Aliansi menyatakan siap membantu proses pemetaan dan seleksi sumber daya manusia maupun tokoh budaya dari masing-masing kecamatan sesuai bidang keahlian.

Ketua Padepokan Klampis Ireng, Mbah Warok, berharap aliansi tersebut dapat berkembang menjadi organisasi yang profesional dan mampu menyuarakan aspirasi para pelaku budaya di seluruh Kabupaten Mojokerto.

Menurutnya, daerah yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Majapahit dan sejumlah status kawasan strategis kebudayaan layak memiliki ruang representasi budaya yang memadai.

Ia bahkan membayangkan adanya pendopo serta gedung kantor kebudayaan yang dapat menjadi pusat aktivitas para budayawan dan pelaku seni.

Gagasan pembentukan aliansi juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh yang hadir dalam sarasehan.

Antok dari Yayasan Ajisaka mengajak seluruh elemen budaya untuk membangun kolaborasi. Menurutnya, keberadaan tokoh dengan keahlian beragam dapat menjadi kekuatan bagi pemerintah dalam menyusun maupun menjalankan pembangunan berbasis kebudayaan.

Sementara Supriyadi dari Sanggar Bhagaskara berharap aliansi tersebut menjadi pemantik semangat baru bagi gerakan kebudayaan di Mojokerto.

Senada, pemerhati budaya Agus mengingatkan pentingnya mengesampingkan ego pribadi maupun sektoral. Menurutnya, kemajuan kebudayaan membutuhkan persatuan, kerja bersama, serta kesamaan visi.

Kartiwi dari Suluk Aji mengingatkan filosofi Ajine Negoro Soko Budayone. Menurutnya, kebudayaan merupakan bagian penting dari identitas dan harga diri suatu bangsa sehingga perhatian terhadap pengembangannya perlu terus diperkuat

Sarasehan juga melahirkan gagasan mengenai penguatan identitas budaya masyarakat Mojokerto.

Gus Nurkholis dari Paguyuban Gajah Kencono Mojopahit mengusulkan adanya identitas busana khas masyarakat yang memiliki karakter kuat dan mudah dikenali.

Menurutnya, identitas tersebut dapat dikembangkan mulai dari pakaian adat, busana keseharian hingga ikat kepala atau udeng yang memiliki desain khas Mojokerto.

Gagasan itu dinilai dapat menjadi salah satu cara memperkuat identitas masyarakat yang hidup di wilayah yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Majapahit.

Dari kalangan profesional, Herlambang, S.H., menyatakan kesiapan untuk mengawal berbagai gagasan yang lahir dari para penggiat budaya. Dalam pertemuan tersebut, ia ditetapkan sebagai Juru Bicara Aliansi Budayawan Kabupaten Mojokerto.

Dalam pertemuan perdana tersebut, sekretariat AB-KM ditetapkan berada di Yayasan Ajisaka, Jalan Raya Desa Jatisumber, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pembentukan aliansi ini menjadi langkah awal untuk mempertemukan berbagai komunitas, padepokan, sanggar, pemerhati, dan pelaku kebudayaan dalam satu wadah.

Para penggagas berharap AB-KM tidak berhenti sebagai organisasi baru, tetapi mampu menjadi ruang kerja bersama untuk melahirkan program konkret, memperkuat ekosistem kebudayaan, sekaligus membuka ruang dialog antara budayawan dan pemerintah.

Dari padepokan di kaki Gunung Arjuno, para budayawan Mojokerto kini mencoba membangun satu suara: kebudayaan tidak lagi diperjuangkan secara sendiri-sendiri, tetapi melalui kolaborasi untuk menjaga identitas dan mengembangkan kebudayaan daerah.

4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini