Kini situs peninggalan Kerajaan Majapahit berupa gapura di Kemlagi menjadi objek wisata sejarah

IM.com – Ekskavasi situs Gapuro di Dusun Gapuro, Desa Mojojajar, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto dihentikan karena terbatasnya anggaran. Tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim baru menggali satu bangunan candi yang menyerupai gapura kuno peninggalan Majapahit. Saat ini, situs tersebut dibuka untuk umum sebagai objek wisata.

Kasi Perlindungan, Pemanfaatan, dan Pengembangan BPCB Trowulan, Edhi Widodo mengatakan, karena terbatasnya anggaran, ekskavasi situs Gapuro hanya tujuh hari, 1-7 November.

Selama sepekan menggali, tim arkeolog menemukan sebuah bangunan mirip candi yang disimpulkan sementara berfungsi sebagai gapura. “Sesuai dengan tempat ditemukan situs ini, maka strukturnya adalah gapura kuno peninggalan Majapahit,” kata Edhi, Kamis (10/11).

Sesuai dengan fungsinya, lanjut Edhi, gapura kuno itu menjadi pintu masuk ke sebuah kota besar atau bahkan ibu kota Majapahit periode awal yang dibangun sekitar abad ke 12 masehi.


Lazimnya sebuah gapura, dia memperkirakan terdapat bangunan ke dua pada sisi timur yang bentuknya mirip dengan bangunan yang sudah digali pada sisi barat situs. “Kalau gapura, jelas ada dua struktur. Yang kami temukan baru satu gapura saja,” ujarnya.

Edhi menjelaskan, gapura kuno yang ditemukan tim arkeolog memang tak setinggi candi Wringin Lawang maupun candi Bajangratu di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Hanya saja, pintu masuk gapura tersebut lebih lebar, diperkirakan mencapai empat meter. “Masih banyak temuan terpendam di situs Gapuro ini. Ekskavasi berikutnya kami lakukan pada tahun depan,” terangnya.

Meski ekskavasi belum selesai, kata Edhi, situs Gapuro dibuka untuk umum sebagai objek wisata. Dia berharap peran serta Pemkab Mojokerto dalam menyediakan juru pelihara untuk merawat dan menjaga situs agar tak dirusak oleh para pengunjung. “Juru pelihara ini akan bertugas awal tahun depan. Adapun untuk honor, kami akan usulkan ke pemerintah pusat atau bisa dari pemkab,” tandasnya.

Dibukanya situs Gapuro sebagai objek wisata mendapat sambutan baik dari warga sekitar situs. Kepala Dusun Gapuro, Hendrik Budi Santoso berharap, adanya situs Gapuro bisa mendatangkan wisatawan ke kampungnya.

Dengan begitu, secara otomatis akan menambah penghasilan warga sekitar, setidaknya dari retribusi parkir dan warung. “Adanya situs ini membantu warga Dusun Gapuro yang berdagang semakin lancar. Ke depan harapan kami awal 2017 dilanjutkan ekskavasi,” ujarnya.

Hanya saja, belum adanya juru pelihara membuat situs Gapuro rawan dirusak oleh tangan-tangan jahil. Untuk sementara, kata Hendrik, penjagaan dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar. “Warga siap untuk mengawasi. Pengunjung dilarang masuk ke area candi supaya tidak merusak situs. Kami juga dalam proses pembuatan pagar bambu supaya situs ini aman,” tegasnya. (bud/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here