Batu prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Girindrawardhana, raja terakhir Majapahit ditemukan di Desa Jiyu

IM.com – Batu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit ditemukan komunitas pecinta sejarah di areal persawahan Dusun Jerukwangi, Desa Jiyu, Kutorejo, Mojokerto. Prasasti yang terdiri dari dua batu andesit itu diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya abad 15 masehi.

Kedua batu prasasti ini berada di pematang sawah milik Musa, warga Dusun Sumbertani, Desa Mojorejo, Kutorejo. Namun, letaknya di Dusun Jerukwangi, Desa Jiyu. Untuk menjangkaunya, hanya bisa dengan berjalan kaki sejauh 1,2 Km dari permukiman penduduk.

Di pematang sawah yang sekelilingnya tanaman padi, terdapat dua batu andesit. Batu pertama ukurannya cukup besar, yakni panjang 323 cm, lebar 95 cm dan tinggi batu yang nampak di permukaan tanah sekitar 1 meter. Pada permukaan batu terdapat goresan sedalam 1 cm yang membentuk gambar tertentu.

Seperti gambar ular yang membelit tongkat, bulan sabit, matahari, dua tapak kaki dengan garis di tengahnya, gunung dan amerta atau simbol air berupa gambar kendi. Sementara batu prasasti ke dua terletak sekitar 20 meter di sisi selatan dari batu pertama. Terdapat goresan berbentuk simbol serupa pada batu ini. Hanya saja ukuran batu ini lebih kecil, yakni panjangnya 85 cm, lebar 78 cm dan tinggi batu yang nampak di permukaan tanah 34 cm.


“Batu itu sudah lama ada di situ, tapi dibiarkan saja sama warga karena tak mengerti kalau itu batu prasasti. Baru sebulan yang lalu ada komunitas pecinta sejarah Majapahit yang menemukan batu tersebut,” kata Kepala Desa Jiyu Muhammad Ali Imron, Rabu (29/11/2017).

Setelah menerima kabar penemuan batu tersebut dari komunitas pecinta sejarah Majapahit, lanjut Imron, dirinya pun melapor ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Tim arkeolog sudah turun ke lokasi penemuan untuk meninjau prasasti.

Namun, pemindahan kedua batu prasasti diserahkan ke Pemerintah Desa Jiyu. Menurut dia, BPCB lebih memilih menitipkan benda purbakala itu di balai desa setempat agar tak dirusak warga.

“Akan kami museumkan di balai desa supaya warga tahu di sini ada peninggalan bersejarah. Namun, prosesnya baru bisa tahun depan, nunggu anggaran,” ujarnya.

Pengkaji Cagar Budaya (Arkeolog) BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan, usai meninjau ke lokasi penemuan, pihaknya memastikan kedua batu andesit tersebut merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Menurut dia, prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Girindrawardhana, raja terakhir Majapahit sebelum ditakhlukkan Kesultanan Demak.

“Gambar pada batu merupakan simbol atau lencana raja, bentuknya sama dengan Prasasti Kembangsore di Pacet (Mojokerto) yang dikeluarkan oleh Raja Girindrawardhana berangka tahun 1486 masehi. Sehingga simbol yang sama kami yakini dikeluarkan oleh raja yang sama,” terangnya.

Wicaksono memperkirakan, inskripsi atau tulisan prasasti yang biasanya menggunakan aksara Jawa Kuno terukir pada bagian batu yang masih terpendam. Oleh sebab itu, pihaknya belum bisa memastikan tahun pembuatan kedua batu prasasti tersebut.

“Prasasti ini perkiraan kami sebagai tapal batas wilayah kraton Majapahit pada masa pemerintahan Raja Girindrawardhana,” jelasnya.

Wicaksono menambahkan, penemuan dua batu prasasti ini sangat penting untuk mengungkap batas wilayah Majapahit pada masa menjelang keruntuhannya. “Pada masa itu Majapahit terjadi perang saudara sehingga wilayahnya berkurang. Namun, kami masih harus mengumpulkan semua temuan untuk bisa menganalisa ke arah sana,” tandasnya. (kus/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here