Mobil mobil Innova L 1594 IH yang ringsek setelah menyeruduk truk di di KM 720.800 Tol SuMo arah Surabaya, Selasa pagi (6/11/2018).

IM.com – Kendati baru diresmikan, ruas Tol Surabaya-Mojokerto telah menelan banyak korban akibat kecelakaan. Tercatat, 20 peristiwa kecelakaan terjadi dalam kurun tiga bulan dengan jumlah korban jiwa 5 orang.

Kecelakaan paling fatal yang menyebabkan korban meninggal dunia terjadi Selasa pagi (6/11/2018). Lima dari enam penumpang mobil Innova L 1594 IH tewas setelah kendaraan yang mereka tumpangi menyeruduk truk bernopol N 8270 di KM 720.800 Tol SuMo arah Surabaya. (Baca: Sopir Mengantuk, Lima Anggota Keluarga Tewas di Tol Sumo).

Empat orang ditemukan meninggal di lokasi, satu korban lainnya dinyatakan meninggal setelah dilarikan ke Rumah Sakit Petro Gresik. Sedang satu penumpang lainnya sampai sekarang dalam kondisi kritis.

Kejadian tersebut kemudian disusul kecelakaan tunggal Isuzu di jalur KM 726 jalur B di hari yang sama. Akibatnya, 13 penumpang mengalami luka terkena pecahan kendaraan.

Kecelakaan fatal hingga korban meninggal di jalur Tol SuMo arah Surabaya memang baru sekali ini terjadi. Tapi di lokasi arah sebaliknya, ke Mojokerto, sudah enam kali terjadi,” Kepala Satuan PJR Ditlantas Polda Jatim, AKBP Bambang Sukmo Wibowo, Selasa (6/11/2018).

Satu di antara korbannya adalah AKBP Taufiq Sukendar Kapolres Tulungagung yang berkendara dengan istri dan ajudannya. Akibat kecelakaan pada Jumat 28 September lalu itu, Anggi istri AKBP Taufiq dan Bripda Lutfi, ajudannya, meninggal. (Baca: Selain Sopir Mengantuk, Faktor Ini Diduga Penyebab Kecelakaan Mobil Kapolres Tulungagung).

Menurut Bambang, faktor yang kerap menyebabkan terjadinya kecelakaan fatal adalah karena pengemudi kendaraan kurang konsentrasi atau mengantuk.

“Saya kira faktor utama penyebab kecelakaan adalah faktor manusianya. Kalau dia sambil melakukan aktivitas lain selain berkendara, ini yang akan mengganggu konsentrasi. Bisa karena berkendara sambil melihat GPS, overspeed, ban meletus karena tidak mengecek kendaraan lebih dulu, dan lain-lain,” ujarnya.

Meski demikian, Bambang mengakui bahwa minimnya penerangan di Tol SuMo juga menjadi faktor penyebab yang harus segera mendapat perhatian. Terutama di luar gerbang tol yang menurutnya mengandalkan penerangan dari alam.

Selain itu, jalan yang panjang dan lurus bisa saja menjadi faktor pendukung terjadinya kecelakaan. Yang paling penting, adalah kesiapan manusianya (pengemudi),” tegas Bambang.

Biasanya, persiapan sebelum berkendara dianggap remeh. Padahal pengecekan ban dan komponen seperti rem itu penting,” tambahnya.

Soal penerangan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) pengelola jalan Tol SuMo agar menambah penerangan di sepanjang tol terutama di luar gerbang.

Selain itu, dalam upaya pencegahan terjadinya kecelakaan, PJR juga secara rutin melakukan penertiban kecepatan kendaraan menggunakan speed gundi lokasi dan jam yang dianggap rawan.

“Kami mencatat kejadian seringkali terjadi di antara pukul 2 sampai pukul 5 pagi, kemudian pukul 3 sampai pukul 4 sore,” ujar Bambang. (sun/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here