Banuan air bersih dari BPBD Kabupaten Mojokerto ke desa-desa yang dilanda kekeringan.

IM.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Jawa Timur akan mengalami kekeringan ekstrim akibat tidak turunya hujan selama satu hingga dua bulan. Kondisi itu sudah terjadi di empat daerah yakni Kabupaten Bangkalan, Bondowoso, Pamekasan dan Sampang.

Beberapa daerah yang diramalkan menyusul terjadi kekeringan antara lain Kabupaten Banyuwangi, Lumajang, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo, Sidoarjo dan Trenggalek. Prediksi ini berdasarkan pantauan pos hujan dari BMKG Stasiun Klimatologi Malang.

“Daerah-daerah yang masuk kriteria kekeringan ekstrem itu sudah lebih dari 60 hari tidak mengalami hujan,” kata Kasi Data dan Informasi BMKG Juanda, Teguh Tri Susanto di Sidoarjo, Jumat (21/8/2020).

Sebagian kabupaten lain yang disebutkan tadi juga perlu diwaspadai karena tidak terjadi hujan sudah lebih dari 31 hari. Namun demikian, kata Teguh, secara umum sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Timur mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kriteria pendek dan sangat pendek.


“HTH di Jatim umumnya kriteria sangat pendek hingga pendek. Hal itu terjadi pada distribusi hujan dasarian II Agustus 2020,” jelasnya.

Teguh mengemukakan, untuk distribusi curah hujan dasarian II Agustus 2020 di Provinsi Jawa Timur pada umumnya kriteria rendah dan menengah.

“Curah hujan dasarian III Agustus 2020 Provinsi Jawa Timur (deterministik) pada umumnya diprakirakan berkisar kurang dari 50 mm dengan peluang (probabilistik) lebih dari 90 persen,” terangnya.

Untuk diketahui, beberapa wilayah di Kabupaten Mojokerto memang telah dilanda kekeringan. Antara lain dua Dusun di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto yang menjadi daerah kering setiap musim kemarau.

Desa Kunjorowesi, Kecamatan terdiri dari dua dusun, yakni Dusun Telogo dan Sumber. Menurut Yadi, setiap tahun, dua dusun yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl) itu selalu menjadi permukiman yang paling terdampak kemarau.

Setiap tahun musim kemarau, desa tersebut mengalami krisis air bersih. Tahun ini sudah berlangsung sejak satu bulan lalu akibat tidak turun hujan selama sebulan lebih.

’’Jadi, sampai tahun ini, Dusun Telogo sama Sumber, memang belum terjangkau air bersih,’’ kata warga setempat.

Salah satu faktor yang utama, karena memang tidak ada sumber air. Sehingga selama ini masyarakat sekitar masih berpangku pada dropping air bersih dari pemerintah maupun donatur. Termasuk ketika musim hujan.

Belakangan mereka hanya memanfaatkan air tadah hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti mandi cuci kakus (MCK), dan kebutuhan hewan ternak.

Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, masyarakat harus mengantre untuk mengambil air di tandon penampungan. Air ini hasil pipanisasi yang dipasang pemerintah di tahun sebelumnya dengan mengambil air dari wilayah Trawas. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here