Para pengrajin tempe di Mojokerto melakkan aksi menuntut pemerintah menetapkan kebijakan harga kedelai di bawah Rp 8.000 per kilogram.

IM.com – Pengrajin tempe di Mojokerto menghentikan produksinya. Alasannya, mereka kesulitan menaikkan harga seiring lonjakan harga kedelai saat ini.

Para pengrajin tempe di Mojokerto merasa keberatan dengan harga kedelai impor yang tembus Rp 9.000 per kilogram. Sebelum naik, harga yang dapat dijangkau pengrajin sebesar Rp 6.500 sampai Rp 7.000.

Mereka sudah berupaya menaikkan harga tempe 10-20 persen untuk menutupi lonjakan bahan baku tersebut. Namun hal itu justru membuat volume penjualan menurun.

Pasalnya, para pedagang (pengecer) di pasar tradisional enggan menjual tempe dengan harga naik, apalagi di masa sulit pandemi Covid-19.

“Kenyataan di lapangan sulit. Karena kami menjualnya ke pedagang di pasar tradisional,” demikian keterangan tertulis Gabungan Koperasi Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) yag diterima inilahmojokerto.com, Rabu (30/12/2020).

Pengawas Gakoptindo Mojokerto, Paryono menjelaskan, sebelumnya para pengrajin tempe memperkecil ukuran tempe dan mencampur bahan baku kedele dengan jagung, selain menaikkan harga. Akan tetapi, langkah terakhir itu tidak bisa dilakukan lagi karena akan mempengaruhi kualitas produksi dan menurunkan tingkat penjualan.

“Ukurannya sudah dikurangi, biasanya kami jual Rp 10.000 dapat 7 potong, sekarang hanya 3 potong. Kalau bahannya dicampur, kualitasnya menurun, ya tidak laku,” tandasnya.

Sementara di sisi lain, pemerintah juga tidak lagi menyuntik subsidi bagi pengrajin dan umkm produksi tempe dan tahu. Paryono seperti halnya sikpa Gakoptindo menyadari situasi pandemi Covid-19 menghambat seluruh aspek perekonomian.

Akibatnya harga kedelai melonjak, sedangkan daya beli masyarakat daya beli masyarkat menurun. Namun mereka tetap berharap pemerintah pusat dapat mengupayakan kebijakan strategis untuk membantu kesulitan UMKM seperti pengrajin lauk-pauk tersebut.

“Kami berharap pemerintah bisa menyesuaikan harga kedelai di bawah Rp 8.000. Sehingga kami bisa terus berporduksi,” tandas pengrajin tempe asal Kecamatan Dlanggu itu.

Untuk mendesak pemerintah, para pengrajin tempe di Mojokerto melakukan aksi mogok produksi. Mereka akan berhenti berproduksi selama tiga hari pada 1-3 Januari 2021.

“Sejak harga kedelai naik sebulan ini pendapatan saya minus terus, sulit sekali untuk melanjutkan usaha kerajinan tempe ini. Makanya, saya mendukung aksi mogok ini agar ada perhatian dari pemerintah,” tutur pengrajin yang menjual tempe ke Pasar Tanjung Kota Mojokerto ini. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here