Anggota kepolisian mengawal distribusi oksigen. (ilusrasi)

IM.com – Mojokerto menjadi tujuan agen dari daerah lain yang kehabisan stok oksigen. Padahal, stok di beberapa rumah sakit Mojokerto sendiri mulai menipis.

Salah satu agen penyedia oksigen yang berburu ke Mojokerto di antaranya dari Yogyakarta. Sebab, pasokan oksigen ke daerah tersebut semakin langka.

Sementara stok oksigen tabung semua ukuran kian menipis. Hal itu disebabkan tingginya kebutuhan di tengah lonjakan kasus Covid-19.

Akibat kesulitan mendapatkan pasokan, agennya harus mencari sampai ke Jawa Timur. Antara lain ke Mojokerto dan Magetan.


“Kami harus mencari sampai ke sana karena pasokan di DIY dan Jawa Tengah sendiri sudah kosong. Sehingga ada pembengkakan biaya operasional. Minggu (4/7/2021) sore kemarin sudah ada armada yang berangkat ke Jawa Timur,” kata Asep Zainudin, karyawan agen oksigen di Brontokusuman, Kapanewon Mergangsan, Kota Yogyakarta kepada wartawan, Senin (5/7/2021).

Diakuinya, tingginya permintaan pelanggan yang butuh oksigen membuat stok oksigen yang didapat dari Jawa Timur hanya cukup sampai dua atau tiga hari saja. Karena kesulitan memperolehnya dan stok yang terbatas, agen tempat Asep bekerja menaikkan harga pengisian tabung oksigen.

“Pengisian tabung oksigen naik Rp 20 ribu. Jadi untuk satu tabung kecil berkapasitas satu meter kubik biasanya Rp 30 ribu tapi sekarang jadi Rp 50 ribu,” Sekali berangkat untuk mendapat pasokan oksigen, dia harus menyewa armada angkutan. Armada tersebut mampu membawa kurang lebih 50-55 tabung oksigen ukuran besar yang sudah kosong.

“Dalam waktu dua sampai tiga hari saja stok oksigen yang kami punya sudah langsung habis,” paparnya.

Sementara di sisi lain, tingkat konsumsi oksigen di Kabupaten Mojokerto sendiri cenderung naik sejak melonjaknya kasus Covid-19. Sejak Sabtu (3/7/2021), stok oksigen di rumah sakit plat merah, RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari mulai menipis.

“Karena penggunaan oksigen meningkat. Terutama pasien Covid-19 yang biasanya membutuhkan oksigen cukup agar tidak sesak nafas,” kata Kepala Bidang Penunjang RSUD Prof dr Soekandar Asri S Diaz.

Asri menjelaskan tabung oksigen dibutuhkan untuk tenda darurat yang belum terjangkau instalasi gas dari oksigen central milik RSUD Prof dr Soekandar. Tenda tersebut untuk merawat pasien IGD yang mengalami gejala COVID-19. Selain itu, tabung oksigen juga dibutuhkan untuk pasien terinfeksi Corona di ruangan isolasi dan ICU.

“Kebutuhan tabung oksigen di tenda, di ruang isolasi dan ICU untuk ventilator butuh dua sumber oksigen, dari manual (tabung oksigen) dan oksigen central. Ada 9 pasien di tenda, oksigen hampir habis, sudah menipis, kami pertahankan sampai tabung datang,” terang Asri.

Asri menyebutkan, hingga Senin (5/7/2021) sekitar pukul 11.30 WIB, hanya tersisa 35 tabung berkapasitas 6 meter kudi RSUD Prof dr Soekandar. Padahal, saat ini kebutuhan oksigen mencapai 60 tabung per hari karena bertambahnya pasien Covid-19.

“Kami pantau 40 tabung dari Malang masih dalam perjalanan, berangkat dari sana jam 9 pagi tadi. Pengisiannya tabung harus dibawa ke vendor,” ucapnya.

Namun untuk volume oksigen tabung besar di central milik RSUD Prof dr Soekandar, Asri menyatakan, masih aman. Tabung tersebut menyalurkan oksigen ke outlet di masing-masing ruang perawatan.

“Kalau oksigen central masih aman. Yang kritis yang manual, tabung oksigen 6 meter kubik dan 1 meter kubik,” tandas Asri.

Direktur RSUD Prof dr Soekandar dr Djalu Naskutub menambahkan, saat ini pihaknya merawat 83 pasien COVID-19. Tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate) untuk pasien Corona mencapai 72,8 persen dari total 114 bed yang tersedia.

“Kemarin BOR masih 65 persen, kalau pasiennya 75 orang,” tutur Djalu. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here