Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati meninjau hasil panen umbi porang di Desa Jembul, Kecamatan Jatirejo, Jumat (27/8/2021).

IM.com – Petani Desa Jembul, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto sukses panen 15 ton umbi porang di lahan seluas dua hektar. Dengan asumsi harga Rp 7.200 per kilo, petani yang tergabung dalam Gapoktan Margo Tani bisa meraup Rp 108 juta dari hasil panen kali ini.

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati didampingi Teguh Gunarko Kepala Dinas Pertanian, meninjau panen raya secara langsung, Jumat (27/8/2021) pagi.

Porang memang menjadi produk pertanian yang menjanjikan. Umbi-umbian ini dijual ke pabrik untuk diolah menjadi bahan baku makanan pokok yang diekspor ke banyak negara, antara lain Jepang dan Korea Selatan.

Buah Porang juga bisa diolah menjadi lem ramah lingkungan, bahan campuran untuk industri kertas, perekat, cat, kain katun, wol, pengkilap kain alami, pembersih air, bahan obat, hingga penghantar (isolator) listrik.


Sesungguhnya, Porang yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Jepang. Pada tahun 2018, harganya bahkan melejit di atas Rp 10 ribu.

“Porang telah membantu perekonomian warga. Porang bukan tanaman pokok tapi sangat istimewa. Dia bisa ditanam dimana-dimana. Keberadaannya pun tidak mengganggu tanaman lain. Alhamdulillah penghasilan kami meningkat sejak menanam porang. Semoga dengan kedatangan Ibu bupati, petani porang bisa lebih maju lagi,” kata Samsul Huda ketua kelompok tani.

Kendati sangat menjanjikan, menanam porang di lahan Desa Jembul, Kutorejo bukan soal gampang. Petani menemui beberapa kendala yang menyulitkan proses penanaman.

Salah satunya insfratruktur dari permukiman ke gunung, untuk kemudahan mobilitas. Namun demikian, beruntung bagi petani yang menanam porang karena hasilnya bisa membayar kesulitan yang dihadapi di lapangan.

Hasil penjualan porang tidak banyak susut meski dipotong dengan biaya ongkos ojek. Hal tersebut disebabkan permintaan pasar untuk umbi porang, dilaporkan cukup besar dan bernilai ekspor tinggi.

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menyatakan pemkab akan menyokong pengembangan budi daya penanaman umbi yang sering disebut- ‘iles-iles’ oleh masyarakat lokal. Menurut bupati Kabupaten Mojokerto memiliki peluang besar menghasilkan porang yang berkualitas karena didukung letak geografis dan cuaca mendukung.

“Secara geografis, daerah kita bagus. Lahan dan cuaca juga mendukung untuk bertani porang. Bahkan, dibandingkan dengan daerah lain yang juga bertanam porang. Peluang kita sangat besar, apalagi kalau sudah dipadu ilmu pengetahuan dan teknologi,” terang Ikfina.

Bupati menambahkan dengan memanfaatkan peluang yang ada, daerah akan maju dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Salah satu yang dicetuskan untuk ide ke depan, adalah menunjuk satu daerah khusus di Kabupaten Mojokerto sebagai sentra penanaman porang. Harapannya, stimulus tersebut dapat membantu wilayah lain untuk maju bersama dalam meningkatkan produksi tanaman porang.

“Harus ada satu desa yang kita arahkan, kita bimbing untuk menjadi ikon atau maskot pertanian porang. Ini supaya desa lain bisa meniru. Jadi semuanya bisa maju bersama-sama. Terkait pembangunan desa, tolong segera buat perencanaan agar semuanya dapat ditata dengan baik. Nantinya kami bisa turun ke desa-desa untuk membuat program hingga mampu berkembang bersama,” tandasnya. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here