Takhiyat menunjukkan buah Jambu Kristal yang dibudidayakan di lahan seluas 17.000 meter persegi di sebelah rumahnya, di Dusun Gede, Desa Kedunggede, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.

IM.com – Warga Dusun Gede, Desa Kedunggede, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, sukses mengembangkan budidaya Jambu Kristal asal Taiwan. Buah ini dikembangkan di kebun seluas 17.000 meter persegi.

Takhiyat membudidaya Jambu Kristal sejak 12 tahun silam. Pria berusia 60 tahun itu memanfaatkan lahan kosong di sebelah rumahnya.

“Bibitnya asli dari Taiwan,” ka Takhiyat.

Takhiyat mengajak media ini untuk berkeliling melihat dan mencicipi bauh jambu kristal langsung dari pohonnya. Ia menjelaskan, yang siap dipetik salah satu cirinya adalah dari warnanya. Buah yang sudah berwarna putih itu tandanya sudah siap santap.


Menurutnya, jambu kristal Taiwan ini berbeda dengan lokal. Jambu kristal Taiwan memilik daging yang tebal dan bijinya sediki.  Disebut kristal karena jika digigit timbul sensai kriuk. Sedangkan jambu kristal lokal sebaliknya.

“Ciri-ciri yabg sudah bisa dipetik putih. Kelebihan punya saya rasanya  ini manis, ada kriuk-kriuknya,” tandasnya.

Dikebunnya Takhiyat memiliki 120 pohon jambu kristal yang ditanam sejak tahun 2012. Kini ia hanya merawat sederhana dan setiap hari melakukan pemangkasan batang.

Ia juga bisa memanen setiap hari. Rencananya ia akan menanam 50 pohan lagi untuk peningkatan hasil panen.

“Satu pohon menghasilkan jambu dengan berat sekitar 20 kilogram. Satu biji beratnya bisa 5 sampai 7 kilogram. Kalau satu kebuh bisa 1,3 ton,” ungkapnya.

Takhiyat menggunakan dua metode penenaman, yakni, cangkok dan stek. Kebanyakan orang lebih menyukai buah jambu kristal hasil penanaman cangkok karena rasanya sama persis dengan jambu kristal asli Taiwan.

“Kebetulan sekarang yang diminati orang sekitar sini itu cangkok. Kalau steak itu rasanya seperti yang dijual di jalan-jalan,” ungkap Pak Yat, sapaan karibnya.

Hasil panen budidaya ini, lanjut dia, sudah tembus Supermarket, seperti Carrefor.  Selain iti dirinya juga membuka kebunnya sebagai agrowisata bagi masyarakat. Bahkan kerap kali warga sekitar memetik dan memakannya di kebun.

’’Kalau langsung metik ke sini, per kilonya saya jual Rp 13 ribu. Kalau masuk supermarket atau reseller saya kasih Rp 10 ribu perkilo,” terang pria dua cucu ini.

Dari perkebunan ini, Pak Yat mampu meraup untung sekitar Rp 3 per bulan. Namun angka itu tidak pasti, sebab bergantung kondisi cuaca. Jika cuanca sedang panas, pohon berbuah lebih banyak. (cw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here