Komite BPH Migas Wahyudi Anas bersama tim dari Sales and Operation Region III (SOR III) memantau keamanan layanan dan ketersediaan gas bumi maupun SPBG di Metering and Regulating Station (MR/S) Lamongan dan Surabaya, Jawa Timur, Selasa (18/4/2023).

IM.com – Konsumsi gas bumi di Jawa Timur dan Jawa Tengah mulai menurun menjelang Lebaran Idul Fitri 2023. Kendati begitu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melakukan pemantauan keamanan dan ketersediaan gas bumi di sejumlah daerah kantong pemudik di wilayah Sales and Operation Region III (SOR III), Selasa (18/4/2023).

Pemantauan dimulai di wilayah Lamongan dengan mengunjungi Metering and Regulating Station (MR/S) Lamongan yang berlokasi di Perpustakaan Lamongan. Tim pemantau kemudian bergerak ke  Regulating Station (R/S) yang berlokasi di Dispora Tumenggungan, UMKM pembuat Wingko Arjuna, serta  pelanggan Rumah Tangga APBN di Jalan Arjuna No.42, No.37, No.48.

Komite BPH Migas Wahyudi Anas menyebutkan, penurunan konsumsi gas bumi di Jatim dan Jateng sudah mulai terlihat. Jika di hari normal rata-rata konsumsi industri mencapai 210-220 mmscfd, maka konsumsi saat ini sudah turun 30 persen mmscfd menjadi menjadi 170 mmscfd.

“Bahkan di saat puncak lebaran, bisa turun menjadi 50-60 mmscfd. Itu terjadi mulai H-5 hingga H-5 lebaran. Sektor komersial kategori UMKM turun tipis. Sedangkan restoran dan rumah tangga stabil,” tandas Wahyudi.

Untuk jumlah pelanggan kecil gas bumi di Jatim mencapai 162.908 SR dan pelanggan komersial (PK) mencapai 369 pelanggan. Sedangkan penyaluran BBG di Jatim mencapai 2.773 liter setara premium (lsp) per hari.

“Kalau Lamongan, pelanggan RT ada sekitar 9150 SR. Sedangkan penyalurannya mencapai 170.000 meter kubik per bulan,” ujarnya.

Setelah dari Lamongan, rombongan melanjutkan pemantauan di MCS PGN SOR III untuk melihat sistem pemantauan penyaluran gas bumi di seluruh area Jawa Timur dan Jawa Tengah. Terakhir, kunjungan dilakukan di SPBG Ngagel, Surabaya, untuk melihat kesiapan penyaluran gas bumi di sektor transportasi.

Wahyudi mengatakan, tujuan dari kunjungan ini adalah dalam rangka posko Kementerian ESDM terkait dengan penyediaan energi untuk masyarakat, baik jaringan gas (jargas) bumi maupun SPBG. BPH Migas, lanjutnya, bertugas memastikan terhadap penyaluran BBM baik subsidi maupun non subsidi kepada masyarakat dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1444 H.

“BPH Mugas mendirikan posko Satgas RAFI yang beroperasi mulai 10 April hingga 2 Mei 2023 untuk memastikan keamanan layanan dan penyaluran BBM subsidi maupun non subsidi,” terangnya.

Dari pantauan di sejumlah daerah di Jatim, BPH Migas menemukan adanya perbedaan siklus konsumsi antara gas bumi dan BBM. Menurut Wahyudi, konsumsi BBM saat ini sedang dalam puncak karena masyarakat banyak melakukan aktivitas mudik dan berlibur ke destinasi wisata.

“Sehingga kebutuhan BBM harus dipersiapkan dan harus ditambah. Kalau gas bumi, karena rata-rata industri libur, maka justru over suplai,” ungkapnya.

Area Head Bojonegoro PT PGN Tbk., Mochamad Arif mengatakan, PGN memiliki komitmen kuat untuk terus melayani masyarakat Lamongan dan sekitarnya dengan baik, khususnya di saat momen Lebaran Idul Firti 1444 H.

“Bersama BPH Migas melalui Satgas RAFI, kami melakukan pemantauan di seluruh pelanggan, baik rumah tangga, UMKM atau lainnya agar kebutuhan gas ke pelanggan tidak terganggu waktu Idul Fitri,” terang Mochamad Arif.

Menurutnya, memberikan layanan prima kepada seluruh pelanggan memang menjadi kewajiban bagi PGN. Tidak hanya terbatas di saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, tetapi di sepanjang waktu pelayanan. “Ini adalah komitmen kami bersama untuk menjaga agar masyarakat pengguna gas bumi merasa nyaman dan aman,” katanya.

Saat ditemui di tempat produksinya, Romlah, pemilik Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) wingko dengan brand Arjuno mengakui menggunakan gas PGN sangat membantu menekan biaya operasional untuk produksi wingko per bulan nya.

“Kalau menggunakan bahan bakar elpiji sebulan pengeluaran mendekati Rp 9 juta, dengan menggunakan jargas PGN tidak sampai Rp 5 juta. Hemat sekitar 35 persen, sangat membantu menekan biaya operasional,” kata Romlah disela kunjungan tim PGN.

Romlah mengakui awal tawaran mengganti elpiji dengan jargas ada ketakutan. Namun setelah digunakan ternyata justru lebih mudah dan aman. “Para pelaku UMKM jangan takut menggunakan jargas, lebih hemat dan stabil,” ujarnya. (im)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini