
inilahmojokerto.com — Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan menyiapkan beasiswa bagi sekitar 120 ribu siswa pada tahun ajaran 2026/2027 sebagai upaya menekan angka putus sekolah di berbagai daerah.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan terdapat dua program utama yang disiapkan Pemprov Jatim untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu sekaligus memperluas akses pendidikan di sekolah swasta.
“Yang pertama ada program bantuan bagi murid dari keluarga kurang mampu.
Yang kedua program kerja sama bersama 1.156 sekolah swasta,” kata Aries, Jumat (8/5/2026).
Program pertama berupa Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang menyasar 48.373 siswa. Setiap siswa akan menerima bantuan sebesar Rp 1 juta dengan total anggaran mencapai Rp 48,373 miliar.
Menurut Aries, program tersebut merupakan lanjutan dari bantuan serupa pada 2025 yang telah diberikan kepada 46.826 siswa dengan total realisasi Rp 46,826 miliar.
“Tujuan program ini untuk meringankan beban biaya pendidikan bagi murid dari keluarga kurang mampu guna mencegah murid putus sekolah atau tidak melanjutkan akibat kesulitan ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, Pemprov Jatim juga menggandeng 1.156 sekolah swasta untuk menyediakan kuota pendidikan bagi 72.841 siswa lulusan SMP yang tidak tertampung di sekolah negeri melalui Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 32.562 siswa akan menerima beasiswa penuh, terdiri atas 12.650 siswa SMA swasta dan 19.912 siswa SMK swasta.
Sementara 40.279 siswa lainnya memperoleh potongan biaya pendidikan, masing-masing 11.486 siswa SMA swasta dan 28.793 siswa SMK swasta.
“Program ini diharapkan menjadi solusi bagi lulusan SMP yang tidak lolos SPMB ke sekolah negeri,” kata Aries.
Langkah tersebut dilakukan di tengah masih tingginya angka anak tidak melanjutkan sekolah di Jawa Timur pada 2025.
Sejumlah daerah bahkan mencatat ribuan anak putus sekolah maupun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Di Surabaya, sekitar 12 ribu anak terindikasi putus sekolah. Sementara di Sidoarjo tercatat 1.086 lulusan SMP tidak melanjutkan sekolah dan 482 anak benar-benar putus sekolah.
Kemudian di Bojonegoro, data Verval ATS 2025 mencatat 2.271 anak lulus sekolah namun tidak melanjutkan pendidikan. Adapun di Sumenep terdapat 13.095 anak yang dilaporkan tidak bersekolah.
Faktor ekonomi disebut menjadi penyebab utama tingginya angka putus sekolah, disusul persoalan lingkungan sosial, kurangnya perhatian orang tua, serta rendahnya minat siswa untuk melanjutkan pendidikan.
Pemprov Jatim berharap program beasiswa dan kerja sama sekolah swasta tersebut dapat memperluas akses pendidikan sekaligus menekan angka putus sekolah di Jawa Timur. (kim)








































