
inilahmojokerto.com – Semangat literasi para alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya-AWS (STIKOSA AWS) terus menyala meski telah memasuki masa purnatugas. Melalui Komunitas Penulis Alumni AWS Kampus Kapasari Surabaya (KOMPAKS), mereka membuktikan bahwa pensiun bukan akhir pengabdian, melainkan momentum untuk terus berkarya melalui dunia tulis-menulis.
Komitmen tersebut terlihat dalam kegiatan reuni bertajuk Sambang Kampus STIKOSA AWS Kapasari yang digelar di Surabaya, Sabtu (18/7/2026). Dalam kesempatan itu, para alumni menegaskan tekad menjaga tradisi literasi yang telah tumbuh sejak masa kuliah.
Setelah sukses menerbitkan buku kompilasi Kawah Pena Hebat pada April 2026, KOMPAKS kini tengah mempersiapkan peluncuran Kawah Pena Hebat II. Kehadiran buku tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus mendokumentasikan gagasan, pengalaman, dan refleksi para alumni yang sebagian besar berlatar belakang jurnalis dan praktisi komunikasi.
Dosen senior Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Siti Sutarsih Andarini, mengapresiasi produktivitas para alumni STIKOSA AWS yang tetap aktif menulis di usia senja.
Menurutnya, pengalaman jurnalistik yang dimiliki para alumni tidak berhenti ketika memasuki masa pensiun. Justru, pengalaman panjang tersebut menjadi modal berharga untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Alumni STIKOSA AWS itu luar biasa. Mereka memanfaatkan bonus usia untuk terus berkarya melalui buku. Semangat seperti ini patut menjadi teladan,” ujarnya.
Andarini yang pernah mengajar di STIKOSA AWS pada periode 1975–1991 mengaku terinspirasi oleh konsistensi para alumni dalam menjaga budaya menulis. Ia berharap semangat serupa dapat berkembang di berbagai komunitas agar masyarakat tetap produktif melalui karya literasi.
Reuni tersebut mempertemukan alumni lintas angkatan yang berkiprah di sejumlah media nasional dan daerah, termasuk TVRI, RRI, LKBN ANTARA, serta berbagai perusahaan media lainnya.
Selain menjadi ajang temu kangen, kegiatan ini juga mengingatkan kembali sejarah panjang STIKOSA AWS yang berawal dari Akademi Wartawan Surabaya (AWS) pada 1964. Kampus tersebut dikenal sebagai institusi pendidikan komunikasi pertama di Indonesia Timur sebelum berkembang menjadi STIKOSA AWS pada 1996.
Suasana reuni semakin khidmat dengan peluncuran buku “Drs Adji Darmo, Sahabat, Dosen-Ku”. Buku tersebut memuat tulisan dari 25 alumni lintas generasi sebagai bentuk penghormatan dan mengenang 100 hari wafatnya dosen jurnalistik, Adji Darmo.
Alumni angkatan 1979, Riamah MD, mengenang sosok Adji Darmo sebagai pendidik yang sederhana, disiplin, dan tulus dalam membagikan ilmu kepada mahasiswa.
Menurutnya, bekal jurnalistik dan kehumasan yang diberikan sang dosen menjadi fondasi penting dalam perjalanan karier para alumni yang kini tersebar di berbagai bidang profesi.
Sementara itu, penggagas KOMPAKS, Kris Maryono, mengungkapkan bahwa buku tersebut semula direncanakan diluncurkan bersama almarhum. Namun, setelah kepergiannya, karya itu dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa dari para murid dan sahabatnya.
Bagi para alumni STIKOSA AWS, menjaga tradisi menulis bukan sekadar aktivitas produktif, melainkan cara merawat warisan intelektual para dosen serta mengabadikan pengalaman hidup untuk generasi berikutnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, para alumni kampus yang pernah berdiri di Jalan Kapasari Surabaya itu menunjukkan bahwa pena tidak mengenal usia. Karya tulis yang mereka hasilkan menjadi bukti bahwa gagasan dan pengalaman dapat terus hidup, bahkan melampaui perjalanan hidup penulisnya.










































