
inilahmojokerto.com – Selama sekitar 45 tahun, Dokter Melani W. Setiawan diam-diam menyimpan wajah dan peristiwa penting dunia seni rupa Indonesia. Kini, sekitar 4.000 foto yang merekam perjalanan tersebut terangkum dalam buku Indonesian Art World (1977–2022) dan diperkenalkan dalam rangkaian ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya, Minggu (20/9/2026).
Buku setebal sekitar 1.400 halaman dengan berat 2,9 kilogram itu bukan sekadar album fotografi. Di dalamnya terdapat dokumentasi sekitar 1.500 seniman, kolektor, kurator, pengelola galeri, hingga pegiat seni yang ditemui Melani sepanjang perjalanan.
Foto-foto tersebut merekam dunia seni rupa Indonesia dari masa ketika telepon seluler dan media sosial belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam diskusi yang digelar di selasar Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda, art dealer sekaligus pendiri Srisasanti Syndicate Eddy Prakoso menyebut buku tersebut sebagai arsip penting bagi ekosistem seni rupa Indonesia.
“Ini menjadi arsip ekosistem seni rupa Indonesia. Ini sebuah rekor tersendiri,” kata Eddy.
Melani mengumpulkan dokumentasi itu secara mandiri. Dengan kamera analog, ia memotret berbagai pameran, pertemuan, perjalanan, hingga kehidupan para seniman. Foto kemudian dicetak dan disimpan satu per satu.
Yang menarik, Melani tidak sekadar menyimpan gambar. Ia juga berusaha memastikan identitas setiap orang yang terekam. Ketika tidak mengetahui nama seseorang dalam foto, ia mencari informasi kepada orang-orang yang mengenalnya.
Cara kerja tersebut membuat arsip Melani memiliki nilai lebih dari sekadar dokumentasi visual. Foto-foto itu menjadi pintu untuk menelusuri bagaimana para seniman tumbuh, berpindah, muncul, menghilang dari pergaulan seni, hingga menjadi bagian dari sejarah seni rupa Indonesia.
Kurator ARTSUBS Asmudjo Jono Irianto menyebut buku tersebut sebagai embrio ensiklopedia seni rupa kontemporer Indonesia.
“Dari buku ini kita bisa melihat bagaimana seniman muda tumbuh. Bagaimana seniman menghilang. Serta munculnya gelombang seniman muda di Indonesia,” ujar Asmudjo.
Menurut Asmudjo, ribuan dokumentasi tersebut masih dapat diolah menjadi sumber pengetahuan yang lebih luas. Tantangannya adalah mengubah data visual yang sangat besar itu menjadi pengetahuan yang dapat diakses publik.
Arsip Melani bahkan tidak berhenti pada foto. Ia juga menyimpan surat-menyurat dengan para seniman, termasuk surat yang ditulis tangan. Dokumen tersebut memperlihatkan hubungan panjang dan dekat antara Melani dengan lingkungan seni rupa Indonesia.
Aktivitas tersebut awalnya dilakukan Melani sebagai kegiatan personal. Ia mulai menjadi dokter pada 1977 dan pada periode yang sama terus mendokumentasikan berbagai peristiwa seni rupa.
Tanpa disadari, kebiasaan tersebut berkembang menjadi arsip selama lebih dari empat dekade.
Kini, dokumentasi itu menjadi bagian dari percakapan seni rupa di tengah penyelenggaraan ARTSUBS 2026. Ketika pameran kontemporer berusaha membaca perkembangan seni rupa hari ini, buku Melani menghadirkan sisi lain: ingatan tentang orang-orang dan peristiwa yang membentuk ekosistem seni rupa Indonesia dari masa ke masa.
Buku Indonesian Art World (1977–2022) pada akhirnya bukan hanya mencatat apa yang pernah dipamerkan, tetapi juga siapa saja yang berada di balik perjalanan panjang seni rupa Indonesia.











































