
inilahmojokerto.com – Ratusan pendidik dari berbagai jenjang sekolah di Kabupaten Mojokerto memadati Pendopo Pemerintah Kabupaten Mojokerto pada Sabtu, 6 Juni 2026. Kehadiran para guru ini untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII yang berfokus pada penguatan mutu pendidikan daerah.
Tahun ini, TPN XIII mengusung tema besar “Cita-Cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia”. Agenda utama kegiatan ini adalah membangun ruang kolaborasi antar-guru demi mencetak generasi yang berdaya saing global tanpa kehilangan identitas budaya lokal.
Acara strategis bagi dunia pendidikan Mojokerto ini diinisiasi oleh kolaborasi tiga lembaga, yaitu: Guru Belajar Foundation, Temu Pendidik Nusantara, Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Mojokerto
Bupati Mojokerto, Dr. H. Muhammad Al Barra, Lc., M.Hum., hadir langsung dan membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa sektor pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan daerah.
“Guru memiliki peran sangat strategis. Kita harus membentuk generasi yang mampu berkontribusi di tingkat global, namun di sisi lain tetap memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat desa mereka sendiri,” ujarnya di hadapan peserta.
Rangkaian acara dimulai dengan sesi nonton bareng (nobar) video inspiratif Guru Belajar. Tayangan tersebut menampilkan beragam kisah sukses transformasi pendidikan dari berbagai pelosok di Indonesia untuk memotivasi inovasi mengajar yang berpusat pada murid.
Setelah sesi nobar, acara dilanjutkan dengan Talkshow Pendidikan interaktif. Diskusi panel ini menghadirkan tiga pemangku kebijakan penting di Mojokerto sebagai narasumber, yaitu: Amsar Azhari Siregar, S.H., M.M. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Mochamad Zaenuri, S.Pd., M.Pd. Korwas MA Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto, Nalurita Priswiandini, S.T.P., M.Med.Kom. Kepala Disperka Kabupaten Mojokerto.
Sesi talkshow ini mengupas tuntas isu-isu krusial pendidikan masa kini. Mulai dari strategi penguatan karakter siswa, peningkatan literasi digital, hingga pentingnya kolaborasi lintas sektor.
TPN XIII Mojokerto juga menjadi wadah bagi para guru untuk melakukan unjuk gigi melalui sesi Berbagi Praktik Baik. Di panggung ini, para guru saling bertukar pengalaman mengenai metode pembelajaran kreatif yang telah sukses diterapkan di kelas masing-masing.
Selain itu, diadakan sesi Refleksi Guru Belajar. Sesi ini dirancang khusus agar para pendidik bisa mengevaluasi perjalanan mengajar mereka, memetakan kendala di lapangan, serta menyusun rencana pengembangan diri. Hal ini menegaskan prinsip bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat.
Kemeriahan acara puncak ditutup dengan Pameran Karya yang memajang hasil inovasi media edukasi, tugas kreatif siswa, serta produk lokal. Beberapa instansi dan sekolah yang ikut memamerkan karyanya antara lain: SMAN 2 Mojokerto, SMKN 2 Mojokerto, SMAN 1 Gondang, PPLH Seloliman.
Ketua Panitia TPN XIII menegaskan bahwa esensi dari tema “Kewargaan Desa Dunia” adalah mengajak seluruh elemen—mulai dari guru, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat—untuk bergerak bersama.
Melalui kesuksesan TPN XIII di Kabupaten Mojokerto ini, diharapkan jejaring kolaborasi antar-pendidik semakin kuat demi mewujudkan sistem pendidikan yang bermakna bagi seluruh anak didik di Mojokerto. (prayogi)










































