Oleh: Rokimdakas
GENTING HIGHLANDS, inilahmojokerto.com – Saya datang ke Genting Highlands untuk bunga. Bersama rombongan Duta Indonesia yang dipandu Rudy T. Mintarto, saya berada di Malaysia untuk mengikuti Malaysia Highest Flower Exhibition 2026 di kawasan Resorts World Awana.
Even-nya berlangsung pada 3 hingga 7 Juni 2026, tetapi proses penggarapan display landscape dilakukan sejak 29 Mei. Namun seperti yang sering terjadi dalam perjalanan jurnalistik, tujuan awal hanya menjadi pintu masuk bagi penemuan yang jauh lebih menarik. Yang saya temukan bukan sekadar pameran bunga. Melainkan pameran uang.
Uang yang berputar tanpa henti selama 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, di sebuah kawasan pegunungan yang menjelma menjadi salah satu mesin ekonomi pariwisata terbesar di Asia Tenggara.

Suasana Kontras di Awana
Saya menginap di Resorts World Awana dengan tarif paling murah 420 Ringgit Malaysia (RM) atau setara Rp 1,8 juta. Resor itu berdiri tenang di lereng pegunungan.
Resor yang dibangun pada 1984 ini menyimpan suasana berbeda dibanding kawasan puncak Genting yang hiruk-pikuk. Dengan 413 kamar, lapangan golf, dan bentangan hutan tropis yang masih terjaga, Awana lebih terasa sebagai tempat beristirahat daripada tempat berjudi.
Saya dan Rudy — arsitek alumnus Universitas Udayana Bali — justru lebih tertarik mengamati karakter bangunannya. Menara pagoda yang menjadi ikon hotel tampak menyatu dengan lanskap pegunungan. Tidak menjulang agresif seperti gedung-gedung kasino modern.
Arsitekturnya seolah mengajak pengunjung menikmati udara segar, kabut, dan hijaunya hutan. Di sinilah saya mulai memahami bahwa Genting tidak dibangun hanya untuk perjudian.
Genting dibangun sebagai ekosistem wisata.
Dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju Resort World Awana berjarak sekitar 60 kilometer. Perjalanan ditempuh sekitar 90 menit.
Bus wisata mengenakan tarif sekitar RM 19, sedangkan layanan Grab berkisar RM 40 atau sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu tergantung waktu dan kondisi lalu lintas.
Setelah pekerjaan menata lanskap pameran selesai, rasa penasaran membawa saya menuju puncak Genting. Saya ingin melihat langsung pusat perjudian yang selama ini hanya saya dengar dari cerita.
Dari Awana ke kawasan kasino dapat ditempuh sekitar 15 menit. Jika memiliki aplikasi bisa menggunakan gondola atau kereta gantung bertarip RM 9. Karena tidak memiliki aplikasi, saya beserta rombongan menggunakan Grab dengan membayar RM 14 atau sekitar Rp 60 ribu.
Sepanjang perjalanan serasa mata tak berkedip, sayang untuk melepaskan apa pun yang terpampang di hadapan.
Jalan menanjak berkelok-kelok membelah pegunungan. Kabut turun begitu tebal hingga kadang menelan kendaraan yang melaju di depan.
Udara sejuk membuat banyak pengemudi membuka sebagian kaca jendela tanpa perlu pendingin udara. Perjalanan itu menghadirkan sensasi seolah memasuki dunia lain.
Memang demikian adanya. Ketika mobil berhenti di depan kompleks utama Resort Genting Highland, saya seketika menyadari skala tempat ini.
Arus kendaraan tak pernah putus. Mobil datang dan pergi seperti denyut nadi yang tidak mengenal istirahat. Petugas hanya memberi waktu beberapa detik untuk menurunkan penumpang sebelum kendaraan berikutnya masuk.
Di dalam gedung, ribuan orang bergerak ke berbagai arah. Ada yang menuju hotel. Ada yang menuju pusat perbelanjaan. Ada yang menuju taman hiburan. Dan tentu saja, ada yang menuju kasino.
Sayangnya, pengunjung dilarang memotret maupun merekam video di area perjudian. Larangan itu membuat saya harus mengandalkan catatan dan pengamatan langsung. Namun justru di situlah tantangan seorang wartawan, untuk melihat dengan mata, bukan sekadar melalui kamera.

Wisata Tengah Hutan
Sejarah Genting bermula dari mimpi seorang pengusaha Tionghoa-Malaysia bernama Lim Goh Tong. Pada dekade 1960-an, ia membayangkan sebuah kawasan wisata pegunungan di tengah hutan lebat Pahang.
Gagasan itu sempat dianggap mustahil. Namun pada 1969 pemerintah Malaysia memberikan lisensi kasino dan hotel pertama mulai beroperasi pada 1971.
Lima puluh tahun kemudian, mimpi itu berkembang menjadi kerajaan pariwisata raksasa.
Data keuangan berdasar Stock Analysis menunjukkan betapa besarnya skala usaha tersebut. Pendapatan tahunan Genting Malaysia pada tahun 2025 mencapai sekitar RM 11,88 miliar. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs sekarang Rp 4.600 per ringgit, nilainya mendekati Rp 45 triliun.
Angka yang sulit dibayangkan. Sebagai perbandingan, APBD Kota Surabaya berada pada kisaran Rp 12,7 triliun. Sedangkan Kabupaten Mojokerto Tahun Anggaran 2026 ditetapkan sekitar Rp 2,6 triliun. Artinya betapa besarnya sumbangan dari mesin uang Genting Highland, pusat wisata terpadu tersebut.
Namun yang menarik, kasino bukan satu-satunya sumber pemasukan. Hotel, restoran, pusat belanja, taman hiburan, kereta gantung, pusat konvensi, hingga wisata alam merupakan bagian dari sistem ekonomi yang saling menopang.
Pada titik inilah bacaan pentingnya. Selama ini banyak orang Indonesia menganggap Genting identik dengan perjudian. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Kasino hanyalah magnet awal.
Yang sesungguhnya dibangun Malaysia selama lebih dari setengah abad adalah kemampuan membuat wisatawan tinggal lebih lama, mengeluarkan lebih banyak uang, dan kembali lagi di kemudian hari.
Mereka menjual pengalaman. Mereka menjual kenyamanan. Menjual suasana. Semuanya dirancang secara terintegrasi.
Di tengah dinginnya kabut pegunungan Genting, saya teringat banyak kawasan wisata Indonesia yang memiliki keindahan alam tidak kalah mempesona. Ada
Bromo, Batu, Dieng, Toraja, Wakatobi, Raja Ampat. Bahkan kawasan pegunungan di Jawa Timur.
Kita memiliki alam yang luar biasa. Yang kurang adalah kemampuan membangun ekosistem ekonomi yang membuat wisatawan betah tinggal lebih lama.
Genting mengajarkan bahwa wisata modern bukan hanya soal destinasi. Tetapi bagaimana mengelola perjalanan, akomodasi, hiburan, kuliner, dan pengalaman menjadi satu kesatuan yang hidup.
Mesin uang Genting sesungguhnya bukan kasino. Mesin uang itu adalah manajemen. Dan mesin itu bekerja tanpa pernah tidur.
Indeks Serial Feature Catatan Perjalanan Malaysia 2026:
Seri 1: Menyaksikan Mesin Ekonomi yang Tak Pernah Tidur di Genting Highlands
Seri 2: Banyak Lansia di Meja Judi Genting Highlands Malaysia, Apa yang Mereka Cari?
Seri 3: Belajar dari Genting, Cara Jitu Mengubah Hutan Lebat Jadi Kerajaan Wisata Keluarga
Seri 4: Menengok Bromo dan Batu, Bisakah Indonesia Meniru Keunggulan Manajemen Wisata Genting?











































