Ada cara unik warga Desa Kauman, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, menyambut Maulid Nabi Muhammad. Setiap tahun, tradisi Rombekan kembali digelar. Uang koin hingga lembaran uang kertas ditebarkan untuk diperebutkan warga.

inilahmojokerto.com — Ada cara unik warga Desa Kauman, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, menyambut Maulid Nabi Muhammad. Setiap tahun, tradisi Rombekan kembali digelar. Uang koin hingga lembaran uang kertas ditebarkan untuk diperebutkan warga.

Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terlihat seperti sekadar kerumunan warga berebut uang. Namun bagi masyarakat Kauman, Rombekan memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Tradisi turun-temurun tersebut menjadi bagian dari cara warga merawat kegembiraan, kebersamaan, sekaligus rasa syukur.

Tradisi Rimbekan biasanya berlangsung di sekitar Masjid Darussalam, musala maupun pelataran rumah warga.

Sebelum Rombekan dimulai, masyarakat terlebih dahulu berkumpul dan melantunkan selawat bersama.

Suasana berubah riuh ketika tokoh masyarakat atau panitia mulai menebarkan uang. Pecahan Rp500, Rp1.000, Rp2.000 hingga Rp20.000 berhamburan di tengah kerumunan.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling antusias. Mereka berlari kecil, membungkuk mengambil uang, lalu kembali mencari pecahan lain yang jatuh di sekitar mereka. Orang dewasa pun ikut berebut dalam suasana penuh canda dan kegembiraan. Di tengah riuh tersebut, terselip wajah-wajah bahagia.

Bukan Sekadar Berebut Uang

Rombekan bukan semata-mata tentang uang yang berhasil dikumpulkan. Tradisi ini merupakan bentuk berbagi kebahagiaan dalam momentum peringatan kelahiran Nabi Muhammad.

Uang yang ditebarkan berasal dari sumbangan warga serta dana pribadi para dermawan dan tokoh masyarakat. Semangatnya sederhana, bersedekah dan berbagi sebagai wujud rasa syukur.

Nilai uang yang diterima mungkin tidak seberapa. Namun pengalaman yang tercipta jauh lebih berharga. Anak-anak mendapatkan kegembiraan, sementara warga memiliki ruang untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.

Di sinilah Rombekan memiliki nilai sosial yang penting.
Ketika kehidupan masyarakat semakin sibuk dan hubungan antarwarga tidak selalu berlangsung intens, tradisi semacam ini menjadi ruang perjumpaan. Warga dari berbagai usia dapat berkumpul dalam suasana yang cair dan penuh kegembiraan.

Belajar dari Tradisi Kampung
Rombekan juga mengandung nilai pendidikan bagi generasi muda. Anak-anak tidak hanya mengenal Maulid Nabi melalui pengajian atau cerita tentang kehidupan Rasulullah.

Mereka juga belajar bahwa peringatan keagamaan dapat diwujudkan melalui kebersamaan, berbagi dan kepedulian kepada sesama. Lebih dari itu, mereka mengenal warisan budaya yang tumbuh di lingkungan sendiri.

Tradisi yang terus dilakukan setiap tahun akan menjadi pengalaman yang melekat dalam ingatan. Anak-anak yang sekarang ikut Rombekan kelak bisa menjadi orang tua yang mengenalkan tradisi serupa kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan kegiatan besar. Sebuah kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama secara konsisten pun dapat menjadi warisan yang bernilai.

Menjaga Kebersamaan
Rombekan di Desa Kauman memperlihatkan bagaimana agama dan budaya dapat berjalan berdampingan.

Selawat menjadi pembuka, berbagi menjadi semangatnya, sedangkan tradisi menjadi wadah yang mempertemukan masyarakat.

Uang yang ditebarkan mungkin segera habis dipungut. Kerumunan pun akhirnya bubar. Namun, nilai yang menyertainya diharapkan tetap hidup. Rasa syukur, kepedulian, kegembiraan dan silaturahmi.

Kekuatan Rombekan pada akhirnya bukan terletak pada berapa banyak uang yang berhasil didapatkan.
Kekuatan tradisi itu justru berada pada kebersamaan yang terus dijaga dan diwariskan.

Di tengah perubahan zaman, warga Kauman menunjukkan bahwa tradisi sederhana masih dapat menjadi cara yang kuat untuk mengikat masyarakat—merayakan Maulid Nabi sekaligus merawat ingatan tentang pentingnya berbagi.

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini