
inilahmojokerto.com – Di balik hancurnya Jembatan Sepanjang pada 29 November 1945, tersimpan kisah pengorbanan seorang pejuang muda bernama Mayor Hasanoedin Sidik. Komandan pasukan Techniek TKR Gadjah Mada itu gugur setelah mempertaruhkan nyawanya untuk meledakkan jembatan demi menghentikan gerak maju pasukan Inggris menuju wilayah Sidoarjo.
Hampir 81 tahun berlalu, perjuangan Mayor Hasanoedin Sidik akan kembali dikenang melalui drama kolosal dan teater sejarah bertajuk Pertempuran Batas Kota: Peledakan Jembatan Sepanjang. Pementasan dijadwalkan berlangsung Minggu, 29 November 2026, di Jembatan Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo.
Pertunjukan ini tidak sekadar menghadirkan kembali suasana pertempuran, tetapi juga mengajak masyarakat mengenal pengorbanan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa tersebut bermula ketika pasukan Inggris bersama NICA-Belanda berusaha memperluas pergerakan ke arah Sepanjang dan Krian menjelang akhir November 1945. Pertempuran sengit berlangsung di kawasan utara Sungai Sepanjang.
Untuk menghambat pergerakan musuh, penghancuran Jembatan Sepanjang menjadi salah satu strategi yang ditempuh pejuang Indonesia. Misi berbahaya itu dipercayakan kepada pasukan Techniek TKR Gadjah Mada di bawah komando Mayor Hasanoedin Sidik yang saat itu berusia 24 tahun.
Namun, rencana peledakan tidak berjalan mulus. Bom yang telah dipasang ternyata tidak kunjung meledak. Di tengah situasi pertempuran dan semakin dekatnya pasukan musuh, Hasanoedin memeriksa instalasi peledak dan menemukan kabel penghubung terputus.
Tanpa menghiraukan risiko, ia berusaha menyambungkan kembali kabel tersebut. Ledakan akhirnya terjadi dan menghancurkan jembatan. Namun, posisi Hasanoedin yang berada dekat dengan pusat ledakan membuatnya turut gugur dalam menjalankan tugas.
Penghancuran jembatan itu menjadi bagian penting dari upaya menghambat pergerakan pasukan Inggris di jalur tersebut. Pengorbanan Hasanoedin pun menjadi catatan perjuangan yang terus dijaga oleh masyarakat dan pegiat sejarah.
Teater kolosal tahun ini merupakan penyelenggaraan kelima sejak pertama kali digelar pada 2022. Kegiatan tersebut diinisiasi komunitas Sepanjang Heritage bersama LPMK Kecamatan Karangpilang, Surabaya, dengan melibatkan berbagai komunitas sejarah, kelompok reenactor, dan elemen masyarakat.
Sejumlah komunitas yang terlibat di antaranya Begandring Soerabaia, Kecamatan Taman, Karang Taruna Kecamatan Taman, Soerabaia Combine Reenactor, Modjokerto Reenactor, Ketegan Heritage, Bangiler Reenactor, Regu Semanggi, serta Bunker Udug Soerabaia.
Achmad Zaki Yamani dari Begandring Soerabaia dipercaya menjadi penulis skenario, sutradara, sekaligus pengarah adegan. Melalui pementasan ini, peristiwa bersejarah di Jembatan Sepanjang diharapkan lebih mudah dipahami masyarakat, terutama generasi muda.
Bagi para penggagas, mengenang peristiwa tersebut tidak cukup hanya melalui pertunjukan tahunan. Mereka juga mendorong pengusulan perubahan nama Jembatan Sepanjang menjadi Jembatan Mayor Hasanoedin Sidik.
Selain itu, pemasangan plakat sejarah di kedua ujung jembatan turut diusulkan agar masyarakat yang melintas mengetahui bahwa lokasi tersebut pernah menjadi saksi pertempuran dan pengorbanan seorang pejuang kemerdekaan.
Menariknya, kegiatan yang telah berlangsung selama lima tahun ini tetap bertahan melalui swadaya masyarakat Sepanjang. Semangat gotong royong menjadi modal utama untuk menjaga agar kisah perjuangan tersebut tidak hilang ditelan waktu.
Melalui teater sejarah ini, masyarakat tidak hanya diajak menyaksikan kembali sebuah pertempuran, tetapi juga memahami bahwa kemerdekaan Indonesia dipertahankan dengan pengorbanan nyata. Di Jembatan Sepanjang, nama Mayor Hasanoedin Sidik menjadi pengingat bahwa ada nyawa yang dipertaruhkan demi menjaga republik tetap berdiri.











































