Pelajar SMA Islam Brawijaya Mojokerto Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa

IM.com – SMA Islam Brawijaya (SMAIBRA) Kota Mojokerto, menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). LDKS kali ini diberi nama Leadership Camp for Nation. Acara rutin tahunan itu, kali ini digelar selama tiga hari (17-19/11) di Balai Benih KPPH Pasuruan yang terletak di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.

Kepala SMA Islam Brawijaya Kota Mojokerto, Febriyanto Agung Prasetyo, S.Pd mengatakan pihaknya ingin berinovasi dalam penguatan pendidikan karakter. Makanya saat ini formula diklatnya juga kita ubah. “Kita ingin anak-anak mampu melihat potensi dirinya dan dikembangkan sesuai syariat agama serta berpegang teguh pada hukum yang berlaku di Indonesia,” katanya.

Menurutnya Leadership Camp for Nation ini sengaja diperuntukkan pengurus OSIS dan siswa kelas X. Tujuannya agar mereka memahami betul model kepemimpinan yang bijaksana dan sesuai syariat agama. “Anak-anak harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum kelak mereka bisa memimpin orang lain. Karakternya kita bentuk dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Sementara, Ahmad Hakam Annazar, S.Ag., Ketua pelaksana kegiatan, menjelaskan apa saja yang dilakukan peserta. Seluruh siswa mengikuti tahapan diklat mulai dari sekolah hingga di lokasi alam bebas. Guna meningkatkan kualitas dari diklat itu, pihak panitia menggandeng tim outbound dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).


“Materinya tak hanya di kelas. Tetapi lebih banyak aplikasi di lapangan. Agar maksimal dalam pencapaian tujuannya, maka kami bekerjasama dengan Tim Outbound Training dari Universitas Negeri Surabaya. Alhamdulillah kegiatan berjalan sesuai dengan rencana,” ungkap Hakam yang juga mengajar bidang Bimbingan Konseling itu.

Sedangkan Tim Outbound Training dari Unesa pimpinan Yuswanto, mengatakan bila model pelatihan yang diberikan di SMAIBRA merupakan hasil analisis lama. Utamanya untuk mendukung penguatan pendidikan karakter di sekolah.

“Metode ini merupakan kolaborasi dari berbagai variasi model pembelajaran. Syukurlah dapat kita lakukan dengan lancar dan terlihat hasilnya. Apalagi koordinasi pihak sekolah sangat bagus,” ujarnya.

Kelebihan model diklat garapan Yuswanto itu, justru munculnya suasana menyenangkan pada peserta. Meskipun tahapan pelatihannya sangat berat, peserta tampak menikmati dan tetap fokus pada tujuan pelatihannya.

“Suasana menyenangkan itu bagian dari motivasi. Meski harus melakukan kegiatan berat, senyum dan semangat masih melekat pada peserta. Kondisi seperti itu akan mendukung tercapainya tujuan kegiatan,” tandasnya.

Beberapa materi yang sempat diberikan kepada peserta leadership camp for nation, cukup variatif. Kepemimpinan, Manajemen Organisasi, Teknik Berpikir Kreatif dan Prestatif, Teknik Survival, Pancasila Ku Indonesia Kita, dan materi praktik berupa game outbound training.

“Peserta memainkan ice breaking, fun game, manajerial game, dan adventurer. Semua terstandar dan memiliki tujuan berbeda. Penekanan pada pembentukan karakter siswa yang berorientasi pada agama dan wawasan kebangsaan, menjadi penekanan diklat ini. Peserta merasa nyaman, senang, dan tentunya memberi makna pada pola pikir maupun perilaku mereka,” ungkap Yuswanto yang juga owner Raider Team Outbound Training Organizer itu.(use/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here