Para wali murid yang sejak subuh menunggu di luar gerbang SDN Kranggan 1, Jalan Pekayon 1 No 39, Kota Mojokerto yang masih tertutup, Selasa (2/7/2019).

IM.com – Puluhan orang tua siswa menggeruduk Sekolah Dasar Negeri di Kota Mojokerto pada hari pertama penerimaan peserta didik baru, Selasa (2/7/2019). Bahkan banyak dari mereka yang sudah datang ke sekolah pilihan sejak subuh, karena takut tak kebagian kuota.

Ketika para wali murid ini datang pukul 05.00 WIB, tentu saja gerbang masih tertutup. Mereka harus menunggu sekitar dua jam lagi sampai pukul 07.00 WIB gerbang sekolah dibuka.

SDN Kranggan 1 menjadi sekolah yang paling banyak diserbu orang tua siswa sejak subuh. Hal ini lantaran SDN tersebut merupakan sekolah paling favorit di Kota Mojokerto.

Ketika ditanya, mereka sengaja datang lebih awal dan rela menunggu lama karena tak mau kehabisan kuota masuk SDN favorit. “Kalau datang sesuai jadwal jam 07.00, saya khawatir tidak bisa masuk (terdaftar),” ujar Umi Kulsum, salah satu wali murid.


Padahal, kedatangan mereka lebih awal untuk mendaftar tidak berpengaruh apapun terhadap kuota siswa. Sebab, diterima atau tidaknya siswa di sekolah ditentukan setelah pengembalian formulir pendaftaran, bukan ketika mendaftar.

Kepala Sekolah Dasar Negeri Kranggan 1 Kota Mojokerto Endang Sunaryati mengaku sudah mensosialisasikan pendaftaraan siswa didik baru, dibuka pukul 07.00 WIB. Tapi masih banyak orang tua siswa yang datang sejak subuh, meski tak berpengaruh apapun pada penerimaan siswa.

“Karena wali murid yang mengembalikan formulir, ya itu yang kami anggap daftar,” ujarnya.

Untuk diketahui, pada pelaksanaan PPDB tahun 2019 ini, kouta siswa kelas satu di SDN Kranggan 1 sebanyak 28 anak. Jumlah itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nomor 3 tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru.

Sedangkan untuk mekanisme penerimaan siswa, SDN 1 kranggan menggunakan sistem zonasi, sebesar 80 dan jalur prestasi 15 persen. Adapun yang 5 persen dibuka untuk siswa yang orang tuanya pindah kerja ke Kota Mojokerto.

“Untuk tes akademik tidak ada, kami hanya sebatas wawancara saja untuk mengecek apakah calon siswa itu tuna grahita, tuna rungu atau tidak,” tutur Endang. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here