Kegiatan siswa SDN di Kota Mojokerto. (Ilustrasi).

IM.com – Jumlah siswa di beberapa Sekolah Dasar Negeri di Kota Mojokerto terus merosot dari tahun ke tahun. Merosotnya jumlah siswa di setiap tahun ajaran baru dampak menurunnya kepercayaan wali murid terhadap kredibilitas SDN.

Pada tahun ajaran baru 2019-2020 ini, sebanyak 15 SDN di Kota Mojokerto kekurangan siswa baru. Salah satunya adalah SDN Jagalan di Kalimati gang 2, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kranggan.

Jumlah siswa baru di SDN Jagalan hanya 14 anak atau separuh dari pagu yang disediakan sebanyak 28 siswa. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Pendidikan mengizinkan SDN Jagalan dan 14 sekolah lain menerima siswa baru hingga satu bulan ke depan.

“Sekolah yang kekurangan siswa masih boleh menerima siswa baru sampai sebulan ke depan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Mojokerto Amin Wachid, Selasa (16/7/2019).


Amin menambahkan, setiap SDN menyediakan kuota satu kelas sebanyak 28 siswa. Khusus SDN Wates 2, menyediakan 2 ruang kelas untuk siswa baru.

Selain SDN Jagalan, sekolah yang masih kekurangan siswa yakni, SDN Prajurit Kulon 1 dan 2 masing-masing kurang 4 siswa, SDN Sentanan kurang 11 siswa, SDN Miji 3 kurang 9 siswa, dan SDN Kranggan 2 kurang 5 siswa. Kemudian SDN Balongsari 10 kurang 16 siswa, SDN Gedongan 1 kurang 1 siswa, SDN Mentikan 2 kurang 12 siswa, SDN Mentikan 6 kurang 19 siswa, SDN Kauman 2 kurang 8 siswa, SDN Wates 2 kurang 6 siswa, serta SDN Balongsari 1 dan 7 masing-masing kurang 1 siswa.

Kepala SDN Jagalan Taryo Abdul Gofar mengakui, jumlah siswa baru di sekolahnya merosot setiap tahun ajaran baru. Menurutnya, hal itu karena tergerusnya kepercayaan masyarakat akibat munculnya beragam masalah yang pernah terjadi di sekolah tersebut.

“Misalnya masalah kurangnya kedisiplinan siswa, kurang inovasi dan minimhya komunikasi dengan wali murid,” kata Taryo.

Lambat laun, SDN yang mengalami sejumlah masalah dan kehilangan kepercayaan wali murid itu kalah bersaing dengan sekolah swasta yang favorit. Alhasil, orang tua lebih memilih sekolah swasta sebagai tempat untuk mendidik ana-anak mereka.

Dampaknya lebih lanjut tentu saja jumlah siswa baru di sekolah negeri yang kehilangan kepecayaan masyarakat, seperti SDN JAgalan terus merosot. Tahun 2017 yang lalu, SDN Jagalan masih mendapatkan 25 siswa baru. Tahun 2018 anjlok menjadi 16 siswa baru. Begitu pula tahun ini hanya mendapatkan 14 siswa baru.

“Kami sudah berusaha keras meningkatkan kedisiplinan dengan berbagai metode. Kami juga menggandeng pemerintah Kelurahan Jagalan untuk promosi program sekolah, rajin turun ke TK-TK untuk promosi,” tuturnya.

Selain disiplin, SDN Jagalan juga mengembangkan pendidikan akhlak dan kegiatan keagamaan. Tetapi Taryo mengungkapkan, memang tidak mudah untuk mengubah stigma masyarakat terhadap SDN Jagalan.

“Kami sudah berupaya semaksimal mungkin,” ujar Taryo. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here