
inilahmojokerto.com – Umat Islam di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, dapat memanfaatkan fenomena astronomis Istiwaul A’dham atau Transit Utama Matahari untuk melakukan verifikasi akurasi arah kiblat. Peristiwa yang bertepatan dengan rangkaian ibadah haji 1447 H ini diprediksi terjadi pada tanggal 27–28 Mei 2026.
Istiwaul A’dham merupakan kondisi ketika posisi semu Matahari melintasi titik zenit Ka’bah di Makkah secara presisi. Secara astronomis, pusat cakram Matahari berada sejajar dengan koordinat geografis Ka’bah, yakni 21° 25’ Lintang Utara dan 39° 50’ Bujur Timur. Hal tersebut mengakibatkan sinar matahari jatuh secara tegak lurus, sehingga benda vertikal di kawasan Ka’bah tidak menghasilkan bayangan.
Peristiwa yang dikenal secara global sebagai solar transit at zenith ini terjadi dua kali dalam setahun akibat gerak semu tahunan Matahari pada bidang ekliptika. Ketika deklinasi Matahari bernilai sama dengan lintang Ka’bah, Matahari mencapai titik kulminasi tertinggi tepat di atas bangunan suci tersebut pada pukul 12.18 Waktu Arab Saudi (WAS).
Metode Kalibrasi Berakurasi Tinggi menurut Pakar Falak
Ditinjau dari ilmu falak, fenomena ini memiliki signifikansi besar dalam menentukan arah ibadah. Guru Besar Ilmu Falak UIN Madura, Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag., menegaskan bahwa pada saat Istiwaul A’dham berlangsung, seluruh bayangan benda tegak lurus di wilayah yang terpapar sinar matahari akan mengarah tepat ke titik yang berlawanan dengan posisi Ka’bah. Dengan demikian, arah menuju Matahari pada momen tersebut identik dengan arah kiblat.
“Metode kalibrasi ini memiliki tingkat ketelitian yang sangat tinggi karena bersandar langsung pada observasi astronomi empiris,” ujar Prof. Achmad Mulyadi dalam kajian falakiyahnya UIN Madura. Ia menambahkan bahwa metode bayangan matahari ini mampu mengeliminasi risiko deviasi yang sering terjadi pada instrumen kompas akibat pengaruh medan magnet lokal maupun gangguan material logam di sekitar bangunan.
Panduan Pelaksanaan untuk Wilayah Indonesia
Akibat perbedaan zona waktu, masyarakat di wilayah Indonesia dapat mengamati fenomena ini pada sore hari saat Matahari mulai condong ke arah barat. Khusus untuk wilayah Indonesia bagian barat (WIB), proses pembetulan arah kiblat dapat dilakukan pada 27–28 Mei 2026, dalam rentang waktu pukul 16.18 WIB hingga 16.23 WIB.
Berikut adalah tahapan teknis verifikasi arah kiblat:
- Menyiapkan instrumen vertikal yang benar-benar tegak lurus, seperti tiang, tongkat, atau benang berbandul.
- Melakukan sinkronisasi penunjuk waktu dengan jam resmi BMKG melalui tautan bmkg.go.id.
- Mengamati arah bayangan benda secara saksama pada rentang waktu yang telah ditentukan (16.18–16.23 WIB).
- Menarik garis lurus dari ujung bayangan menuju pangkal benda pelurus.
- Menetapkan arah kiblat, di mana arah yang berlawanan dengan bayangan tersebut merupakan arah presisi menghadap Ka’bah.
Prof. Achmad Mulyadi berharap momen Istiwaul A’dham ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pengurus takmir masjid, mushala, maupun masyarakat umum untuk melakukan kalibrasi mandiri. Selain menjamin keabsahan arah hadap salat, fenomena alam ini sekaligus menjadi sarana edukasi publik mengenai pentingnya integrasi sains astronomi dalam pelaksanaan ibadah umat Islam. (uyo)










































