Ketua DPRD Kota Mojokerto Sunarto memaparkan lima program prioritas pembangunan di tengah situasi Covid-19 kepada konstituennya, Jumat (19/3/2021).

IM.com – Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Mojokerto memanfaatkan masa reses Maret 2021 untuk mensosialisasikan lima program prioritas pembangunan dalam situasi pandemi Covid-19. Masyarakat dapat menyampaikan usulan yang masih terkait dengan kelima program tersebut.

Ketua DPRD Kota Mojokerto, Sunarto menjelaskan, pemerintah menetapkan lima program prioritas pembangunan di tengah pandemi Covid-19. Antara lain, jaring pengaman sosial, pemulihan ekonomi akibat covid-19, pemulihan kesehatan, infrastruktur dan peningkatan SDM

Berbeda dengan reses sebelumnya, lanjut Sunarto, dalam situasi pandemi Covid-19 yang saat ini masih berlangsung, aspirasi yang disampaikan peserta diharapkan tidak keluar dari lima program prioritas pemerintah.

“Maka, kami minta aspirasi-aspirasi yang disampaikan masyarakat juga tidak keluar dari lima program prioritas ini,” kata Sunarto kepada InilahMojokerto.com, Jumat (19/3/2021).

Menurut Itok, sapaan karib Sunarto, selain untuk jaring aspirasi masyarakat yang nantinya dituangkan dalam pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD dalam penyusunan RKPD (rencana kerja pemerintah daerah), juga untuk mengawal program pemerintah di daerah pemilihan (dapil) masing-masing serta mendorong percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat. Dalam hal demikian, lanjut Sunarto, maka pokok-pokok pikiran di daerah harus selaras dengan propinsi dan pusat.

“Harus ada sinkronisasi antara kepentingan daerah, propinsi dan kebijakan pusat. Hal ini yang harus diketahui para peserta reses. Jadi kalau ada usulan, jangan menyimpang dari yang lima ini,” cetus politisi senior PDI Perjuangan tersebut.

Kendati ada lima program prioritas yang digarisbawahi, politisi yang akrab disapa Itok ini menegaskan,  tidak ada pembatasan jumlah pokok pikiran yang boleh diusung masing-masing anggota Dewan. Ia memastikan, reses bukan ajang berpolitik, tetapi murni untuk menjemput aspirasi masyarakat.

“Reses memberi solusi dan bukti. Karena berbasis fakta dan lebih aktual, maka mudah untuk dikonfirmasi atau diklarifikasi ketika ada informasi yang membutuhkan penjelasan teknis dari peserta reses,” tuturnya.

Sementara, soal dinamika yang terjadi selama reses berlangsung, menurut Itok, sangat positif, kendati harus dilalui secara berliku-liku.

“Namanya juga aspirasi, ada yang disampaikan secara luwes, kritis, ada juga yang bernada minor, bahkan berbau hujatan yang terlontar dari peserta reses. Tapi bagaimana pun banyak sisi positif yang muncul selama penyerapan aspirasi berlangsung,” ujarnya. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here