Sugeng Siswoyudono, tengah sibuk mengerjakan kaki palsu di bengkel usahanya, Kelurahan Kauman Gang III, Kecamatan Mojosari, Mojokerto. Bengkel Kaki Palsu (Kapal) Sugeng kini menerima banyak pesanan dari para penyandang disabilitas seperti dirinya.

IM.com – Selalu ada hikmah dalam penderitaan dan ketekunan. Ungkapan ini dialami sendiri oleh Sugeng Siswoyudono (58), warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Mojosari, Mojokerto. Kehilangan kaki akibat kecelakaan tragis yang menimpanya pada 1981 silam menjadi titik awal dimulainya jalan hidup baru bagi pria yang dijuluki Than Must Sugenk itu melalui usaha Bengkel Kaki Palsu (Kapal) hingga terkenal seperti sekarang.

Kecelakaan tragis di Mojokerto yang dialami Sugeng 41 tahun silam yang mengakibatkan diirnya kehilangan satu kaki tak membuat Sugeng patah semangat. Ia justru terpacu untuk membantu orang lain yang senasib, lewat kaki palsu buatannya.

Berawal dari pemikiran itu, Sugeng pun mulai membuat kaki palsu sejak tahun 1995. Ia juga mendirikan Bengkel Kaki Palsu (Kapal) yang menjadi sarana untuk membantu orang penyandang disabilitas.

Setiap harinya, suara deru mesin bor menggema di bengkel kerajinan kaki palsu miliknya di Kelurahan Kauman Gang III, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.


“Awal mulanya berbekal sakit hati. Saat itu kan kaki palsu tidak ada yang murah. Akhirnya saya bereksperimen membuat kaki palsu sendiri untuk saya. Saya harus bisa menyelesaikan masalah saya sendiri,” katanya, Jum’at (10/6/2022).

Bermula dari situlah kemudian, pria yang dijuluki Than Must Sugenk ini menekuni pembuatan kaki palsu untuk membantu penyandang disabilitas yang dipelajarinya secara otodidak.

“Saya bikinin kaki untuk saudara-saudara saya mulai tahun ’95. Saya belajar sendiri, otak atik sendiri,” ujar Sugeng.

Usaha keras Sugeng lambat laun membuahkan hasil hingga menjadi cukup terkenal bahkan di seluruh tanah air. Sekarang, ia tak lagi bekerja sendiri, tetapi dibantu sejumlah pekerja.

Terlihat sejumlah karyawannya tengah berjibaku membuat lekukan kaki dari  fiber dan spons. Tangan mereka cekatan saat menggambar dan memotong pola, lalu mematri bahan-bahan itu agar kokoh.

Pembuatan kerajinan ini, kata Sugeng dilatarbelakangi saat ia mencari kaki palsu untuk menopang badannya pasca kecelakaan. Saat itu, harga sepasang kaki palsu cukup mahal, yakni Rp 2 juta, setara dengan harga sepeda motor bekas.

Selam proses pembuatan, pria kelahiran Palembang ini tak henti-hentinya membuat inovasi kaki palsu yang dapat dipergunakan untuk keperluan berbagai kegiatan. Seperti olahraga dan salat.

“Sekarang untuk lutut sudah generasi ke sepuluh,” tukas dia.

Meski demikian, kaki palsu generasi ke 10 yang ia rakit 4 tahun lalu tidak bisa dikatakan sempurna. Karena belum bisa dibuat menendang. “Kalau generasi 10 bisa buat salat, duduk takhiyat. Otakku nanti masih mau revisi yang genarasi ke 10 ini,” tandas Sugeng.

Kini dalam sebulan,  bisa memproduksi hingga puluhan pasang kaki palsu. Produknya pun telah merabah berbagai daerah di indonesia, terutama Jawa Timur hingga.

Sugeng mengaku tidak meminta bayaran dari para setiap pemesan kaki palsu. Namun ia tetap meminta ganti ongkos material pembuatannya sekitar Rp 3 juta.

“Ongkos pembuatanya seikhlasnya. Kadang ada yang ngasih sampai Rp 10 juta, dia (pemesan) berarti mengapresiasi saya kan,” paparnya.

Sugeng pun tak ragu menggratiskan kaki-palsu buatannya kepada yang membutuhkan, khususnya bagi penyandang disabilitas yang berasal dari kalangan tak mampu.

Bahkan ada sejumlah Komonitas yang bekerja dengan bengkelnya untuk memberikan bantuan kali palsu.

“Kalau sudah ada tinggal bawah ke sini persyaratannya. Bawah fotocopy KK dan KTP,” imbuh pria berusia 40 tahun ini.

Dengan kaki palsu ini, para penyandang cacat merasa tertolong sehingga dapat berjalan kembali layaknya manusia normal pada umumnya. (cw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here