Salah satu korban keracunan makanan hajatan yang masih bocah, Disti (7) menjalani rawat inap di Pukesmas Jatirejo.

IM.com – Puluhan warga Dusun Sukomanggu, Desa Karangkuten, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto dilarikan ke Puskesmas dan RS Sumber Glagah, Pacet, Jumat (5/10/2018). Korban yang sebagian anak-anak ini mengalami pusing, muntah dan mual setelah mengkonsumsi nasi hajatan di rumah Muhammad Ali Mustofa.

Korban yang menjalani rawat inap hanya dua orang yakni Mujiati (44) di RS Sumber Glagah dan Disti (7) di Puskesmas Jatirejo. Sementara 44 korban lain yang dirawat di Puskesmas Gondang dan Jatirejo diperbolehkan pulang.

Menurut tim medis, para korban masih menjalani pemulihan akibat pusing dan mual yang mereka derita.

Kepala Puskesmas Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Sugeng Purwanto membenarkan insiden tersebut. Dia mengaku sejak semalem ada 10 orang yang dirawat akibat keracunan. Mereka bertetangga dan berasal dari satu desa.


“Ya, hasil pemeriksaan kami, mereka mengalami keracunan. Dugaan sementara akibat nasi hajatan yang dikonsumsi. Tetapi ini masih diperiksa,” katanya.

Susiani, salah seorang warga menceritakan, keracunan ini terjadi seusai mengikuti acara  pengajian rutin di rumah warga Muhammad Ali Mustofa pada Kamis malam (9/10/2018). Rangkaian hajatan yang digelar sejak siang hari sekitar pukul 14.00 WIB itu diikuti sekitar 110 orang.

“Pukul 17.00 WIB, tahlil selesai dan warga mendapatkan berkat (bingkisan makanan) berisi nasi lengkap dengan lauk pauk,” ujarnya.

Selang beberapa jam setelah makan nasi hajatan itu, warga mengalami pusing dan mual. Bahkan beberapa di antaranya juga muntah-muntah.

“Curiga mengalami keracunan,  warga akhirnya dilarikan ke Puskesmas Jatirejo. Semuanya merasakan sama setelah mengonsumsi menu hajatan,” kata Susiani.

Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto menduga keracunan disebabkan makanan yang disuguhkan kepada warga terkontaminasi bakteri jenis staphylococcus. Kesimpulan sementara ini diperoleh dari sampel sisa makanan, swap atau lendir beberapa korban, serta keterangan para korban yang dikumpulkan Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Mojokerto.

“Dugaan awal dari reaksinya yang begitu cepat, penyebabnya kemungkinan bakteri staphylococcus. Bisa dari bahan makanan yang sudah basi atau cara mengolahnya,” jelas petugas P2P Dinkes Mojokerto Priyanto, Jumat (5/10/2018) .

Kepala Puskesmas Gondang dr Nunun Agung Lubiantoro mensinyalir bakteri tersebut mencemari ayam bumbu bali di dalam menu nasi hajatan yang dikonsumsi warga. Terlebih lagi daging ayam yang dimasak istri Mustofa untuk acara tahlil, dibeli sejak Rabu (3/10).

Daging ayam langsung direbus di hari yang sama. Baru esok harinya, Kamis (4/10), daging ayam dimasak dengan bumbu bali sebagai lauk di dalam berkat.

“Kata warga yang makan, ayamnya tak ada rasanya atau hambar,” ungkapnya.

Nunun menjelaskan, bakteri staphylococcus pada makanan kemudian menginfeksi saluran pencernaan. Sehingga mengakibatkan gejala klinis berupa pusing, mual, muntah, diare disertai demam.

Terkait jumlah koban, Dinkes Mojokerto mencatat jumlah sebanyak 46 warga. Dinkes masih mendata ulang korban keracunan.

“Nanti setelah di lakukan pendataan oleh petugas Puskesmas akan diketahui jumlah sebenarnya,” ungkap  dr Nunun Agung Lubiantoro.

Menurut Nunun, jumlah awal korban sebanyak 46 orang masih bisa bertambah. Ia mengatakan, pendataan dilakukan petugas Puskesmas Gondang dengan mendata ulang ke rumah warga.

Sebab berdasar informasi yang didapat dari warga sekitar, acara pengajian rutin (tahlilan) diikuti oleh 112 orang. Setiap warga yang mengikuti pengajian mendapatkan bingkisan makanan.

”Tuan rumah sendiri menyediakan 127 bingkisan,” ucap Nunun. (ine/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here