Edaran berisi imbauan agar waspada terhadap maraknya tindak kejahatan penculikan anak yang beredar luas melalui media sosial dipastikan hoaks.

IM.com – Mabes Polri dan Polda Jatim memastikan isu penculikan anak yang beredar luas di dunia maya dan menimbulkan keresahan masyarakat adalah informasi hoaks. Polisi mengimbau agar masyarkat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi di media sosial yang belum jelas kebenarannya.

Mabes Polri menyatakan banyak berita penculikan anak di berbagai daerah yang beredar di media sosial (Medsos) tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. Ia mencontohkan munculnya berita kasus penculikan anak di Pontianak, Jumat 19 Oktober 2018.

”Itu adalah hoax, karena foto pelaku penculikan anak di Pontianak itu diambil dari kasus pencurian hp (Handphone) di desa Cimpabuan, Bogor, pada 16 Oktober 2018,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di kantornya, gedung Divhumas Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/10/2018).

Isu kasus penculikan anak di Cakung, Jakarta juga hoaks. Informasi itu menyebutkan, anak yang diculik tadi dikembalikan setelah 3 hari menghilang dengan kondisi mata telah diambil, pada Senin (21/10/2018).

“Itu hoaks juga. Foto itu adalah pelajar SD yang meninggal karena kelelahan pada 20 Oktober 2018. Almarhum bersama teman-temannya main sepeda dari ujung Menteng sampai Marunda, Jakarta,” ujarnya.

“Karena kelelahan dan tidak punya uang untuk beli minum, maka almarhum minum air dikamar mandi kantor dinas kebersihan, setelah minum almarhum pingsan dan dibawa ke RS kemudian meninggal,” tambah Setyo.

Isu penculikan anak ini memang meresahkan masyarkat. Bahkan karena resah dan takut menjadi korban, masyarakat kerap bertindak main hakim sendiri ketika memergoki kawanan penjahat yang menyatroni lingkungan mereka.

Peristiwa massa menghakimi pencuri ini terjadi di Dusun Patoman Timur, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. Bahkan korban penghakiman massa adalah seorang perempuan bernama Rahmawati (44).

Rahmawati dihajar massa hingga babak belur karena diisukan hendak menculik anak di dusun Patomman Timur. Saat itu, warga Desa/Kecamatan Panji, Situbondo ini diketahui berada di dalam rumah Lutfiyah.

Aksinya ini, dipergoki oleh pemilik rumah. Ia pun mengurungkan niat mencuri di rumah Lutfiyah dan mencoba kabur dari kejaran pemilik rumah.

“Sempat dikejar oleh pemilik rumah dan ditarik saat mau kabur naik motor,” kata tetangga korban, Rohman Rabu (31/10/2018).

Rohman menceritakan, setelah berhasil disergap sang pemilik rumah, ia pun diamankan ke kantor desa setempat. Namun saat itu tiba-tiba berembus kabar bahwa Rahmawati berniat menculik, Sintia, anak perempuan Lutfiyah yang masih bersuai 9 tahun.

Informasi ini sontak memantik amarah warga yang langsung bergegas mendatangi kantor Desa Patoman sekitar pukul 10.00 WIB. Karena geram, sepeda motor Supra yang dikendarai pelaku pun dibakar massa.

Saat, Rahmawati yang dikawal tiga anggota polisi sempat dipukuli massa saat akan dimasukkan ke mobil Resmob Polsek Rogojampi.

“Ada banyak orang waktu itu, lebih 200 orang. Beberapa orang berusaha memukulinya,” ujarnya.

Polda Jatim memastikan, sejauh ini tidak ada laporan peristiwa penculikan anak di Jawa Timur yang masuk ke Polda Jatim dan kepolisian jajarannya.

“Postingan di medsos harus dikroscek lebih dahulu ke kepolisian setempat. Jangan asal percaya,” imbau Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, Rabu (31/10/2018).

Isu hoaks penculikan anak juga sempat menyebar di Gresik, Jatim. Hoaks ini dipicu informasi adanya seorang pria yang dikabarkan di media sosial kepergok akan menculik anak yang sedang bersama ibunya di sebuah minimarket.

“Saya pastikan kejadian di Gresik itu bukan aksi penculikan. Yang masuk ke minimarket itu ibu dari anak tersebut. Sedangkan yang membawa anaknya saat itu, adalah ayah kandung,” kata Barun.

Menurut Barung, peristiwa itu merupakan konflik rumah tangga antara pasangan suami istri yang sudah bercerai. Sang ayah diketahui berupaya mengambil anak kandungnya dari mantan istri dengan cara yang tidak baik atau dibenarkan menurut hukum.

“Karena ulahnya, si Ayah bisa dipidana. Sudah ditangkap si ayah itu,” tegas Barung.

Untuk menghindari fitnah dan kejadian yang tidak diinginkan seperti di Banyuwangi, Barung mengimbau agar masyarakat di Jawa Timur yang menggunakan medsos untuk mengedepankan kroscek sebelum menelan informasi mentah tersebut. (jan/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here