Petani cabai sedang panen (ilustrasi).

IM.com – Petani cabai rawit di Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto mengeluhkan murahnya harga cabai saat musim panen raya di awal tahun 2019 ini. Apalagi kondisi itu diperparah dengan serangan hama yang memusnahkan sebagian tanaman cabai mereka sebelum dipanen.

Kasto (67), salah seorang petani di Desa Temuireng mengatakan, penurunan harga cabai awal tahun 2019 ini tidak lazim. Ia mengungkapkan, harga cabai rawit musim panen ini turun drastis dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun ini harganya turun drastis, nggak tahu kenapa. Kisaran antara Rp 10.000-12.000. Sebelumnya bahkan hanya dihargai Rp 8.000/kg,” ujar Kasto.

Menurutnya, dalam beberapa tahun ini harga cabai tidak pernah di bawah Rp 20.000. Ia mengatakan, harga cabai sebelum ini bahkan sempat menembus Rp 50.000/kg.


“Tapi entah kenapa kali ini para para tengkulak tidak mau membeli cabai petani dengan harga tinggi. Mereka nggak bilang alasannya,” ujar Kasto. 

Lebih dari itu, para petani juga harus menghadapai kenyataan pahit lainnya. Yakni wabah hama yang menyerang tanaman cabainya.

“Tanaman cabai kami banyak yang mati diserang hama. Padahal sudah dilakukan penyemprotan,” keluh Kasto.

Sementara itu, harga cabai di pasaran memang stagnan di angka Rp 20.000 sampai Rp 20.000. Pedagang cabai rawit di pasar tidak berani mengambil laba terlalu banyak dengan memasang harga tinggi.

“Tidak bisa ngambil laba banyak mas. Dengan harga cabai segitu dan stock melimpah, otomatis yang penting barang tetap laku,” kata Irawan, pedagang cabai di Pasar Tanjung, Kota Mojokerto. (joe/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here