Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pratama mencoba menggali bukan sekadar kronologi, tetapi sisi manusia di balik ledakan emosi itu.
Di sebuah ruang lobi utama Polres Mojokerto Polda Jawa Timur, Satuaan duduk dengan suara pelan dan wajah letih. Di hadapannya, Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pratama dan puluhan wartawan serta beberapa personel tim satuan reskrim dan Penmas.

inilahmojokerto.com – Bulan Mei 2026, warga Mojokerto digegerkan tragedi berdarah di sebuah rumah kontrakan sederhana di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (6/5/2026) pagi. Satuan (42), seorang pengamen badut jalanan, nekat melakukan tindak kekerasan terhadap istrinya, Sri Wahyuni (35), hingga harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto.

Dalam peristiwa itu, Siti Arofah (54), ibu mertua Satuaan, meninggal dunia.

Kasus ini cepat menyita perhatian publik. Bukan hanya karena kekerasannya, tetapi karena kisah keluarga di balik tragedi tersebut perlahan membuka kenyataan pahit tentang kemiskinan, konflik rumah tangga, tekanan ekonomi, hutang, rasa tidak dihargai, hingga emosi yang dipendam terlalu lama.

Di sebuah ruang lobi utama Polres Mojokerto Polda Jawa Timur, Satuan duduk dengan wajah letih. Di hadapannya, Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pratama dan puluhan wartawan serta beberapa personel tim satuan reskrim dan Penmas.

Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pratama  mencoba menggali bukan sekadar kronologi, tetapi sisi manusia di balik ledakan emosi itu.

Percakapan Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pratama dengan Satuan terdengar seperti potongan luka yang lama dipendam

“Sekarang masyarakat ramai membicarakan sampean. Banyak yang penasaran kok bisa terjadi seperti ini,” kata Andi Yudha Pratama membuka percakapan.

Duduk berdampingan dengan Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Aldino Prima Wirdan, Satuan hanya mengangguk pelan.

Ia memang bukan sosok asing di jalanan Mojokerto. Banyak warga pernah melihatnya mengenakan kostum badut sambil membawa anak kecil berkeliling dari satu titik ke titik lain.

Kadang di lampu merah. Kadang di pom bensin. Kadang berjalan kaki cukup jauh sambil menggendong anaknya sendiri. “Orang-orang mengira anak saya dipakai alat cari uang,” ucapnya lirih.

Di balik kostum badut dan balon warna-warni yang ia jual, ada hidup yang berjalan tertatih.

Penghasilannya tak pernah pasti.

“Pernah sehari cuma dapat Rp 4 ribu. Pernah Rp 25 ribu. Kalau di lampu merah kadang Rp 300, Rp 400,” katanya.

Jumlah itu diperoleh setelah seharian berada di jalan. Bahkan setiap Minggu, ia bisa berangkat pukul lima pagi dan baru pulang pukul sepuluh malam demi mencari tambahan uang.

Namun yang paling berat, menurutnya, bukan panas jalanan atau hujan yang harus diterjang. Melainkan perasaan gagal sebagai kepala keluarga.

Ia mengaku sering membawa anaknya mengamen karena tidak ada yang menjaga di rumah. “Kalau semua kebutuhan dipenuhi, istri mau momong,” katanya.

Kebutuhan yang dimaksud mulai dari uang belanja, uang sekolah, hingga biaya make up. “Saya ini penghasilannya enggak tentu, Pak,” katanya.

Percakapan itu kemudian mengarah pada persoalan rumah tangga yang selama ini dipendamnya sendiri.

Dengan suara pelan, Satuan mengaku telah lama memendam kecurigaan terhadap istrinya. Ia memilih diam dan mencoba bertahan, tetapi rasa sakit hati itu terus menumpuk. “Saya sebenarnya sudah tahu sejak lama,” katanya.

Ia juga mengaku sering merasa direndahkan karena kondisi ekonominya. “Kalau saya menasihati, jawabannya selalu ‘gak nyukupi gak usah nuturi’,” tuturnya.

Kalimat-kalimat itu, menurutnya, terus terngiang di kepalanya.

Konflik juga merembet ke hubungan dengan mertua. Sejak akhir tahun lalu, ia merasa keberadaannya mulai dipandang sebelah mata.

“Kalau ada uang dianggap mantu. Kalau enggak ada uang ya enggak,” katanya.

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, hutang keluarga disebut terus bertambah. Bahkan surat-surat penting seperti KTP, KK, hingga surat nikah disebut telah digadaikan demi menutup kebutuhan hidup. “Dalam seminggu pernah ada rincian hampir Rp 3 juta,” katanya.

Semua tekanan itu, menurutnya, dipendam sendiri terlalu lama.

Namun di tengah pengakuan tentang kemarahan dan rasa sakit hati itu, suasana mendadak berubah ketika pembicaraan beralih kepada anak kecilnya.

Satuan terdiam cukup lama.

Matanya memerah.

“Anak saya yang kecil terus, Pak,” katanya pelan.
“Nyesel pasti nyesel. Saya enggak bisa tidur kepikiran anak terus.”

Ia mengaku sudah berhari-hari sulit tidur. Bahkan makan pun terasa berat.

Anaknya yang kini berusia hampir empat tahun disebut lebih dekat dengannya dibanding sang ibu. “Kalau mau tidur selalu cari saya,” katanya.

Selama ini, anak itu lebih sering ikut dirinya bekerja di jalanan. Kadang ikut sang kakak, tetapi lebih sering menemaninya mengamen.

Di akhir percakapan, Andi Yudha Pratama menanyakan satu hal terakhir: apa pesan yang ingin ia sampaikan kepada keluarga lain.

Satuaan kembali tertunduk.

“Emosi jangan dipendam sampai meledak,” katanya lirih.

Ia mengaku penyesalan kini tidak lagi bisa mengubah apa pun.

Rumah tangga yang dulu coba dipertahankan kini hancur. Seorang ibu mertua meninggal dunia. Istrinya terluka. Dan seorang anak kecil harus tumbuh di tengah tragedi yang mungkin belum mampu ia pahami.

“Dihina istri seperti saya ini sungguh menyakitkan,” katanya pelan. (kim)

13

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini