Fandi Utomo dan Ayni Zuroh.

IM.com – Keinginan banyak warga Kabupaten Mojokerto kepada Ida Fauziah maju sebagai calon bupati dari Partai Kebangkitan Bangsa pada Pilkada serentak 2020 kini tinggal angan. Sementara harapan PKB untuk sosok cabup potensial kini hanya bertumpu pada dua kandidat yakni Ketua DPC Ayni Zuroh dan kader partai, Fandi Utomo.

Keinginan kader PKB Mojokerto sejatinya sejalan dengan massa akar rumput yakni menghendaki Ida Fauziah yang diusung sebagai cabup menghadapi incumbent wabup, Pungkasiadi. Namun harapan itu terpaksa harus dibuang setelah hari ini, Rabu (23/10/2019), perempuan kelahiran Mojokerto, 50 tahun silam itu diangkat Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Indonesia Maju.

Sebagai partai pemenang Pemilu 2019 di Kabupaten Mojokerto dan menjadi satu-satunya parpol yang memegang tiket –tanpa harus koalisi- mengusung pasangan calon, PKB tentu enggan mencari figur dari luar partai.

Dengan demikian, tumpuan kader PKB untuk figur cabup ada pada sosok Ayni Zuroh dan Fandi Utomo. Kedua sosok ini dianggap memiliki modal politik paling mumpuni dari internal partai pimpinan Muhaimin Iskandar.


Nama Ayni memang paling santer di bursa kandidat internal PKB. Selain sebagai Ketua DPC PKB, popularitas Ayni juga terdongkrak rekam jejaknya sebagai anggota DPRD Kabupaten Mojokerto selama tiga periode.

Pemilik 8.213 suara pada Pemilu 2019 itu pun sudah menyatakan siap melenggang sebagai bacabup dan melepaskan jabatannya di PKB dan DPRD. (Baca: PKB Jaring Kandidat Bupati Mojokerto 2020, Ayni Zuroh Maju Dulu).

Bagaimana dengan Fandi Utomo? Sejauh ini, kabar kesiapan mantan Anggota DPR RI ini maju di Pilkada serentak 2020 masih samar-samar terdengar.

Sikap Fandi Utomo yang masih teka-teki itu boleh jadi karena faktor ketidaksiapan ongkos politik yang membuatnya gamang. Diketahui, mantan politisi Partai Demokrat yang menyeberang ke PKB itu sudah beberapa kali menguras sumber dana yang tidak sedikit dalam gelaran pilkada maupun pemilu yang diikutinya.

Pada Pilkada Kota Surabaya 2010 silam, Fandi sebagai calon walikota menggandeng Yulius Bustomi dikenal sebagai kandidat yang jor-joran dana untuk kampanye. Namun, biaya jumbo yang dia gelontorkan hanya menempatkannya di urutan ketiga. Fandi kalah bersaing dengan Arif Afandi dan duet Tri Rismaharini-Bambang DH yang muncul sebagai pemenang Pilwali Surabaya 2010.

Pada Pemilu 2014, Fandi mencalonkan diri sebagai Anggota DPR RI dari Partai Demokrat di Dapil neraka (Jatim 1/Surabaya-Sidoarjo). Bersaing dengan sejumlah caleg beken seperti Imam Nahrawi Syaikhul Islam, Arzetty Bilbina (PKB), Guruh Irianto Sukarno Putra, Saleh Mukadar, Indah Kurnia (PDIP) serta Priyo Budi Santoso (Golkar), putra mantan Gubernur Jatim Imam Utomo itu pun akhirnya lolos ke Senayan dengan 26,335 suara.

Terakhir, kontestasi Pemilu 2019 memberi Fandi kegagalan. Maju denagn kendaraan PKB, alumni SMA Sooko, Mojokerto itu, kalah bersaing dengan caleg catu partai, Syaikhul Islam dan Arzeti Bilbina.

Meski demikian, ongkos politik bukan satu-satunya yang menentukan petualangan politik Fandi. Adik kandung mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto itu bisa saja menjadi mantap maju sebagai cabup jika PKB pada akhirnya memberikan tiket kepadanya.

Sejauh ini, tiket pasangan cabu-cawabup Mojokerto masih teka-teki. DPC PKB pun belum bisa menentukan sikap karena masih menunggu keputusan dari DPP yang saat ini sedang sibuk menggelar karpet merah untuk tiga kadernya yang diangkat menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here