Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya, Dyah Gitarja yang mendaulat diri sebagai Raja dan Ratu Kerajaan Agung Sejagat di Kabupaten Purworejo.

IM.com – Masyarakat Kabupaten Purworejo digegerkan dengan munculnya Kerajaan Agung Sejagat (KAS) di daerah mereka. Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya, Dyah Gitarja yang mendaulat diri sebagai Raja dan Ratu bersama para pengikutnya mengklaim KAS merupakan penerus Kerajaan Majapahit yang memiliki kekuasaan atas seluruh lembaga kuat di negara besar dunia.

Totok bersama para pengikutnya mendirikan semacam keraton di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sampai saat ini keraton tersebut masih dalam proses pembangunan.

“Kita umumkan pada dunia bahwa Keraton Agung Sejagat sebagai induk daripada seluruh Kingdom State Tribune Koloni yang ada di seluruh dunia ini, menyatakan sebagai juru damai terhadap konflik yang terjadi di seluruh dunia,” ungkapnya dalam video yang beredar di media sosial.

Raja yang dipanggil Sinuhun ini pun menceritakan membeberkan ‘cikal bakal’ berdirinya keraton KAS. Disebutkan Totok, bahwa tujuan berdirinya Kerajan Agung Sejagat adalah untuk menunaikan janji 500 tahun dari runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpusat di Mojokerto pada tahun 1518.

“Wilujengan Keraton Agung ini adalah untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke Jawa,” kata Totok yang bergelar Rangkai Mataram Agung dalam jumpa persnya.

Menurut seseorang yang diangkat sebagai Resi Joyodiningrat menyebutkan, perjanjian tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan bangsa Portugis sebagai wakil orang Barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka pada 1518.

Dalam akhir perjanjian itu, setelah berakhirnya dominasi kekuasaan Barat mengontrol dunia, yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Entah dari mana asal usul cerita yang disampaikan oleh Sang Sinuhun, namun dia mengklaim memiliki wilayah kekuasaan seluruh negara di dunia. Ia berdalih, tatanan di dunia ini terbesar adalah kekaisaran dan terkecil adalah berbentuk republik.

“Keraton Agung memiliki alat-alat kelengkapan yang dibangun dan dibentuk di Eropa, memiliki parlemen dunia yaitu United Nation (UN). KAS memiliki International Court of Justice dan Defense Council. Pentagon adalah Dewan Keamanan KAS, bukan milik Amerika,” tutur Totok yang juga dipanggil Sinuhun oleh para pengikutnya.

Bahkan dia juga mengklaim dirinya sebagai Raja KAS memiliki tugas mengubah semua sistem negara di dunia. Baik keuangan, politik, pemerintahan, dan lain-lain.

Meski terdengar tidak masuk akal, klaim tersebut dipercaya oleh pendukungnya yang menurut informasi berjumlah 425 orang. Namun Sinuhun tak bisa menjelaskan secara gamblang ketika ditanya soal bagaimana cara mereka mengubah tatanan dunia.

“Kerajaan bisa mengeluarkan nota diplomatik,” ujarnya.

Ketika didesak lebih jauh tentang kepemilikan kartu identitas mereka sebagai penduduk NKRI, Kanjeng Ratu Dyah Gitarja malah naik pitam. Dyah justru mengalihkan jawaban dengan mengaku pernah ikut mendirikan Ormas Laskar Merah Putih.

Sementara itu, Jumeri yang rumahnya bersebelahan dengan ‘keraton’ mengatakan kalau sejak dulu tidak pernah ada sejarah di Pogung ada kerajaan. Ia dan ratusan warga di desa itu mengaku resah dengan keberadaan dan aktivitas KAS di lingkungan mereka.

“Kami merasa sangat terganggu, karena kegiatan mereka itu tengah malam nyanyi-nyanyi sambil tepuk tangan jadi suaranya membuat warga terganggu,” jelas kakek yang sehari-hari juga Imam Masjid setempat. Jumedi menambahkan, hanya ada dua warganya yang menjadi anggota KAS. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here