IM.com – Di tengah arus digitalisasi yang kian pesat, SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, memiliki cara unik membekali siswanya. Melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) fotografi dan dokumentasi, para pelajar tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga diarahkan untuk bisa mandiri dan bahkan menghasilkan uang.
Ekskul ini dirintis sejak 2015 oleh Ferry Sumarsono, staf tata usaha bidang operator. Ketika itu dia kerap kewalahan menangani dokumentasi berbagai acara sekolah. Dari situlah muncul ide melibatkan siswa untuk dilatih fotografi dan videografi menggunakan handphone. Gagasan tersebut mendapat dukungan penuh dari Kepala Sekolah, Akhmad Setiawan.
“Pak Wawan senang dengan program yang bisa mengarahkan siswa punya keterampilan dengan prospek kemandirian. Sejak itu saya mulai mengajari anak-anak sesuai kompetensi saya di bidang fotografi dan dokumentasi,” ujar Ferry, alumni Universitas Surabaya dan Universitas Darul Ulum, jurusan Manajemen Teknologi Informatika.
Belajar Kolektif, Berbasis Sistem
Ekskul ini kemudian berkembang pesat. Kini, sekitar 60 siswa tergabung dalam kelompok kerja bernama Forsaku (Fotografer SMAN 1 Kutorejo). Mereka memiliki struktur organisasi layaknya komunitas profesional, yakni ketua, sekretaris, bendahara, divisi teknik dan divisi administrasi.
“Dengan struktur seperti itu, mereka belajar bekerja secara kolektif dan saling menghargai peran masing-masing,” jelas Ferry.
Setiap Sabtu, siswa kelas 10 dan 11 mendapat pelatihan selama dua jam. Materi tidak hanya soal teknik kamera dan tatacara fotografi, editing foto dan video juga pembahasan aplikasi terbaru yang sedang viral di media sosial.
“Media sosial merupakan target garapan untuk membangun popularitas sekolah. Kalau ada aplikasi baru, anak-anak yang memberitahu lalu kami pelajari bersama,” tambah Ferry.
Perlahan, keterampilan para siswa berkembang. Kini, Forsaku tidak hanya mengurusi dokumentasi kegiatan sekolah tetapi juga menerima pekerjaan dari luar, seperti liputan acara ulang tahun, perpisahan sekolah hingga even komunitas.
Dari hasil pekerjaan dibagi secara proporsional, sebagian untuk siswa yang terlibat, sebagian untuk perawatan peralatan dan pengembangan ekskul.
“Orang tua murid senang karena anak-anaknya tidak hanya fokus mata pelajaran utama tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang bisa menghasilkan uang,” kata Ferry.
Alumni Forsaku pun banyak yang melanjutkan studi ke bidang teknologi informasi dan komunikasi. Menariknya, hubungan mereka dengan adik kelas tetap terjaga. Mereka kerap kembali untuk berbagi ilmu terbaru, terutama soal tren media sosial.
“Prinsip kami adalah terus update, agar tidak ketinggalan perkembangan teknologi,” tegas Ferry.

Inspirasi dari Negara Lain
Model pendidikan berbasis keterampilan ini sejalan dengan praktik di beberapa negara. Di China, misalnya, sejumlah sekolah menyediakan ekskul robotika dan kecerdasan buatan (AI). Siswa tidak hanya merakit robot tetapi juga belajar pemrograman sejak dini. Kegiatan ini menumbuhkan minat pada bidang sains dan teknologi yang kelak berguna di dunia kerja.
Di Jepang, ekskul kaligrafi dan seni tradisional masih eksis hingga kini. Siswa tidak hanya melatih konsentrasi dan ketelitian tetapi juga menanamkan kecintaan pada budaya lokal.
Sementara di Finlandia, yang dikenal dengan sistem pendidikan progresif, ekskul berbasis proyek seperti pertanian mini, coding hingga produksi konten digital diarahkan untuk menanamkan life skills atau keterampilan hidup nyata.
Apa yang dilakukan SMAN 1 Kutorejo melalui Forsaku menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya soal teori di kelas. Keterampilan praktis, manajemen kerja kolektif, hingga kemampuan adaptasi terhadap teknologi menjadi bekal penting menghadapi masa depan.
“Kalau anak-anak bisa belajar dan sekaligus mandiri, bahkan membantu orang tuanya, itu jauh lebih berharga,” pungkas Ferry. (kim)













































