🧾 Meta Description Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di MI Pasuruan menuai kritik karena tanpa sayur
Menu MBG perdana di salah satu MI di Kabupaten Pasuruan tidak ada sayurnya alias keringan, Selasa, 5 Mei 2026. Sayur diganti mentimum satu iris. Dok: siswa

inilahmojokerto.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinanti siswa MI Ma’arif NU Ngering, Dusun Ngering, Desa Legok, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan justru menuai kritik di hari perdana Selasa, 5 Mei 2026. Alih-alih memenuhi standar gizi, menu yang dibagikan disebut “garingan” karena tak menyertakan sayur, memicu kekecewaan wali murid.

Sejak awal, para siswa telah diminta membawa wadah makanan untuk menampung sisa MBG. Namun, makanan yang dinanti tak kunjung datang hingga hampir sepekan.

Baru pada Selasa (5/5/2026), mobil pengangkut MBG tiba di sekolah. Saat itu, hanya siswa kelas 2, 3, dan 6 yang menerima karena sebagian siswa lain sedang menjalani Ujian Madrasah.

Suasana sempat penuh antusias. Siswa membuka ompreng setelah doa bersama. Namun, kekecewaan muncul ketika menu dinilai tidak memenuhi standar.

Menu yang disajikan terdiri dari nasi, ayam goreng, sambal/saus, seiris tempe, seiris mentimun, dan satu buah jeruk. Tidak ada sayur matang atau berkuah seperti yang diharapkan.

Kondisi ini membuat menu disebut “garingan” oleh sejumlah wali murid, karena dianggap hanya lauk kering tanpa komponen sayur yang layak.

Padahal, sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN), menu MBG seharusnya mencakup empat komponen utama: nasi, lauk, sayur, dan buah.

Salah satu wali murid yang enggan disebut namanya mengaku kecewa dan berharap ada evaluasi. “Kami berharap SPPG konsisten sesuai aturan. Kalau tidak memenuhi syarat, kami berhak komplain,” ujarnya.

Ia juga meminta pihak sekolah lebih tegas dalam menyikapi menu yang tidak sesuai standar. “Sekolah jangan hanya menerima. Ini anggaran dari pajak masyarakat, jadi harus diawasi bersama,” tambahnya.

Kepala SPPG, Rif’a Maulana, membenarkan bahwa menu hari pertama memang tidak mengandung sayur. “Memang tidak ada sayur, itu dari ahli gizinya, bukan dari saya,” katanya.

Ia bahkan menyarankan agar konfirmasi diarahkan ke pihak Babinsa atau Koramil yang selama ini memberi arahan teknis.

Padahal, sesuai aturan, kelayakan menu MBG menjadi tanggung jawab SPPG sebagai mitra penyedia layanan gizi.

SPPG tersebut saat ini melayani sekitar 800 siswa dari 21 sekolah, mulai tingkat TK hingga SD/MI secara bertahap.

Menariknya, pada hari berikutnya, Rabu (6/5/2026), menu MBG sudah dilengkapi dengan sayur dan dibagikan kepada seluruh siswa dari kelas 1 hingga 6. (uyo)

4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini